Quebec, dan Separuh Windu yang Tertinggal

fc25e7aa0776079bfb2e5d78a517184a

Written by thehunlulu ©2018

[Brian Kang x Ainsley]

—Slice of Life, Friendship, Romance, Hurt/Comfort (2,3k+ words)—

Based on DAY6 – I Loved You lyrics

:::

After I lost you

Everything became meaningless

Brian mematut langkah ketika bibirnya bersenandung ria menyusuri pelataran Fairmont Le Château, hotel tempatnya menginap selama empat hari di Quebec. Di atas paving kokoh berwarna kemerah-merahan itu, Brian mendadak membelokkan langkahnya. Dengan balutan celana jeans navy beserta hoodie merah marun yang ia kenakan, tubuhnya gesit mengambil langkah untuk kembali mendekat pada bangunan hotel yang belum lima menit ia tinggalkan itu.

Hingar-bingar kehidupan kota tua Quebec terdengar tiada matinya. Pukul lima pagi waktu setempat, di bagian luar kawasan hotel sudah ramai dipenuhi oleh banyak kalangan yang berlalu-lalang. Memapah langkah cepat di atas trotoar, lantas menghilang di balik bus kota berwarna kuning.

Brian tahu, dengan kembalinya ia ke kota ini, segala macam bentuk kepingan memoar yang—seharusnya—sudah ia lupakan itu mau tak mau harus kembali lagi. Hinggap membuat sarang di otaknya, mengakar hingga sulit untuk dilupakan kembali.

Maka dari itu, sebelum tubuhnya benar-benar menghilang untuk bertemu sang kawan lama di St-Viateur Bagel, Brian menarik napasnya dalam-dalam. Ia memandang penuh ke arah bangunan megah nan antik di depannya kini, menyusuri satu per satu arsitektur tua Kanada yang tertoreh pada puncak hotel yang berbentuk kerucut dan segitiga tersebut. Tiap ujungnya mencakar langit dengan tajam, membentuk sudut lancip dengan warna aquatic blue yang indah—serupa dengan warna langit Teluk Fundy yang tak berawan.

Sedikit-banyak Brian membutuhkan waktu untuk mengumpulkan segodam keberanian yang sempat tercecer, sebelum akhirnya ia membulatkan tekad untuk kembali ke sini guna bernostalgia.

Hingga sejemang berikutnya, Brian melangkah mundur dan tenggelam di tengah keramaian Quebec.

:::

Really I loved you

It’s because I loved you so much

Because I want to forget you but I can’t

That’s why I want to forget you

“So, how was your day, Brian?”

Brian baru saja mendaratkan tubuhnya di atas kursi yang bersebrangan dengan gadis bersurai hazelnut, kemudian menyunggingkan senyum selama lima detik. Kiprah yang cukup baik—bagi Brian—yang ia lakukan pada sebuah pertemuan yang baru saja berlangsung—setelah bertahun-tahun dijanjikannya itu.

Yah, seperti yang kau ketahui … bukankah Quebec tidak pernah tidak menyuguhkan panorama indah setiap harinya? It was pretty good, sejak jadwal kedatanganku kemarin sore,” jawab Brian sambil mengangkat kedua bahunya sekilas. Telunjuknya iseng mencolek biji wijen dari atas bagel dan menjilatnya. “Oh ya, satu hal yang perlu kau ketahui, I’m not Brian anymore, understand?”

Ainsley meledakkan tawa atas ucapan Brian barusan, hingga membuat seluruh pengunjung menolehkan atensinya pada mereka. Sedangkan Brian, pemuda itu hanya menoleh satu kali ke kanan dan ke kiri, lantas tersenyum lebar sambil menahan tawanya.

“Okay okay, but you can’t blame me, Young. Aku hanya tidak terbiasa memanggilmu dengan sebutan ‘YoungK’ instead of Brian, kau tahu.”

Brian membungkuk dan menumpukan kedua sikunya di atas paha. “Kau tahu apa yang membuat dia terlihat selalu awet muda?” Tiba-tiba Brian membelokkan konversasi, menunjuk ke arah lelaki berjanggut putih keabu-abuan yang sedang menggoreng bagel menggunakan deep fried.

Ainsley cepat-cepat menggeleng ketika pandangan mereka bertemu.

“Karena kau hampir setiap hari pergi ke sini sambil meninggalkan tawa yang selalu dia ingat. Iya, kan?” Diakhiri dengan tawa jenaka, Brian menunjuk Ainsley yang tengah berdeham. “Mungkin kalau bisa, lebih baik kau sempatkan waktu luangmu untuk sering-sering berkunjung kemari, Ley. Agar pak tua itu awet muda dan punya umur panjang karena terus-terusan mendengar tawamu.”

“Sok tahu,” timpal Ainsley dengan aroma karamel yang menguar dari mulutnya.

Brian terkekeh pada Ainsley sebagai jawaban, namun ia mendadak terdiam sebelum akhirnya menimpali, “Asshhh kau ini, jaga penampilan sedikit, dong. Hampir empat tahun kita tidak bertemu dan kau masih saja punya kebiasaan makan sampai cemot-cemot. Tidak malu denganku, apa?” omel Brian sambil mengusap ujung bibir Ainsley yang dipenuhi oleh remah bagel yang agak berminyak.

Ainsley sontak memundurkan wajahnya beberapa senti, kemudian mengedipkan matanya ketika melihat Brian menyambar tisu dan mengelap bibir gadis itu setelahnya.

“Waah, Bri, tidak kusangka kau mengingatkanku akan sesuatu.”

“What? Bri—“

“Pssshht, shut up! Pengecualian untukku, oke? Karena kita sudah berteman sejak masih sekolah, maka aku bebas memanggilmu dengan sebutan apapun termasuk Brian. Tidak usah banyak protes!” Ainsley balik mengomel, membuat Brian akhirnya beringsut dan menyandarkan punggungnya kembali.

“Baiklah baiklah, apa yang membuatmu tiba-tiba teringat akan sesuatu?

“Kebiasaanku makan sampai kececeran seperti ini. Bahkan aku sering diingatkan oleh pegawai kasir lantaran bibirku dipenuhi banyak remah, sampai berlumuran saus mayonais pun juga pernah, asal kau tahu. Memalukan sekali.”

Di depannya, Brian tertawa renyah. “Bagus, itu sebabnya si pak tua dan seluruh pegawainya terlihat sangat awet muda, begitu? Terakhir kali aku melihat mereka itu ketika—“ Brian menggulirkan bola matanya ke atas, berlagak sok berpikir. “—kau mengajakku kemari beberapa jam sebelum keberangkatanku ke Korea, kan? Apa kau masih ingat?”

“Tentu saja.”

Yeah, wajah mereka sama sekali tidak berubah. Dan tentang si pak tua itu, kuharap napasnya masih berjalan teratur karena dia tidak henti-hentinya membolak-balik adonan bagel sampai minyaknya lompat-lompat begitu,” timpal Brian masih kelewat jenaka. Ujung penglihatannya melirik sekilas pada berisik—selusin lebih—kue bagel yang berdentum dengan peniris minyak raksasa di balik konter kasir.

Ainsley terkekeh samar. Sayup-sayup, telinganya mendengar tempias hujan yang berjatuhan di luar sana. Masih pukul lima lebih empat puluh menit, namun banyak sekali pejalan kaki yang bersemburat menepi, ada beberapa pekerja wanita yang berlarian sambil menjinjing tasnya di atas kepala agar riasan di wajah mereka tidak luntur.

Di balik tulisan St-Viateur Bagel Shop—yang tertempel pada bagian luar jendela berbingkai putih gading—itu, Ainsley dan Brian menaruh atensi pada permukaan aspal yang basah. Saling terdiam selama beberapa sekon, membaur dengan derasnya kecipak hujan yang meluncur dari pipa-pipa pembuangan. Brian tersenyum tipis, sekelebat memori yang sempat ia kubur dalam-dalam perlahan melayang di udara, lantas datang menghampirinya dengan rentetan kisah yang membentuk barisan apik di dalam angannya.

“Quebec sedang berduka.”

Brian tersentak. “Untuk apa?”

Ainsley menunjuk wajah Brian menggunakan dagunya. “Kau tidak dengar kabar? Produksi sirup maple selama empat tahun ini merosot drastis. Dulu kota ini dapat memproduksi sekitar 40 liter getah maple yang menghasilkan satu liter sirup, sedangkan tahun ini produksinya menurun jadi 25 liter, itu berarti—“

“—Hanya lima per delapan liter yang benar-benar terpakai.”

BINGO!”

Brian tersenyum penuh kemenangan, ia kembali menyilangkan salah satu kakinya dengan bangga. “Mungkin Quebec sudah terdengar sangat asing bagiku, tapi aku tidak akan pernah melupakan persoalan mudah yang dulu pernah menjadi bahan ejekanmu, Ley.”

Ainsley mengedikkan bahu. “Tak masalah, toh akhirnya sekarang kau jago matematika.”

Musik yang berdentum di dalam kafe klasik itu terdengar lebih kencang dari sebelum hujan menerjang. Brian—sambil menyesap sirup maplenya—mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti alunan melodi. Sedangkan Ainsley, gadis itu baru saja meninggalkan noda lipstik pada bagian bibir cangkir setelah menenggak isinya separuh.

Sebenarnya ada satu hal yang membuat Brian begitu merindukan Quebec, termasuk toko bagel legendaris ini; furnitur-furnitur di sekitarnya yang masih menjunjung tinggi nuansa antik khas Kanada. Walaupun kesan reyot sudah menggerogoti lapisan luar dari setiap perabotannya—serta bunyi krek yang tercipta ketika seseorang menyenggolnya sedikit—itu semua tidak menghilangkan nuansa klasikal yang dipertunjukkan toko tersebut sejak tahun 1957.

Juga, Ainsley-lah yang menjadi satu-satunya alasan mengapa Brian menyisihkan sedikit waktunya untuk menjelajah jauh dari Korea menuju Quebec—yang berjarak sekitar 800 kilometer dari Vancouver.

“Omong-omong Ley, kenapa pak tua itu menatapmu dengan penasaran begitu?”

Ainsley mengikuti arah pandang Brian, kemudian tersenyum ramah ketika pewaris pertama pemilik toko bagel itu menyapa Ainsley selagi tangannya menaburkan biji wijen di atas adonan.

“Jalan pikiran pria tua itu sangat mudah ditebak. Ia hanya terjekut karena untuk pertama kalinya aku datang kemari dengan membawa laki-laki sepertimu.”

Brian mengerutkan dahinya. “For the first time?”

“Yes.”

“Oke, agak konyol memang jika harus mengatakan ini, tapi tadi aku sempat ragu-ragu untuk keluar dari penginapan karena takut pacarmu akan marah-marah dan tidak mengizinkanmu untuk bertemu denganku di sini,” papar Brian sambil memainkan tali hoodie-nya, pemuda itu bergerak di tempatnya dengan agak gelisah.

Di hadapannya, Ainsley menyemprotkan tawa. “Told ya, tidak ada yang bisa membuatku jatuh cinta selama empat tahun terakhir.”

“Satu orang pun? Mark Tuan yang dulu pernah mengejarmu mati-matian itu?”

Nope.”

“Ow man, betapa menyedihkannya hidupmu, Ley. Kupikir tidak ada gunanya juga kalau kau benar-benar ingin melupakanku waktu itu.”

“Shut up, Bri, ini hanya masalah waktu, dan kau tiba-tiba pergi kemari tanpa kabar dari jauh-jauh hari. So, how can I move on?”

“Jadi, aku harusnya mengabarimu dari jauh-jauh hari agar kau bisa menyiapkan diri untuk move on, begitu?”

Ainsley merilekskan punggungnya pada sandaran kursi, memalingkan wajahnya dari kedua manik Brian yang memandanginya lekat-lekat. Toko bagel langganannya, tetes hujan yang menyerbu Quebec pada hari yang sama, luka itu mendadak kembali. Bersarang di hati Ainsley dan memaku pilu di sana. Jantungnya tiba-tiba bertalu tanpa permisi ketika Brian bangkit dan beralih duduk di sampingnya.

“Ley.”

“Hm?”

What’s wrong?”

Ainsley dapat merasakan kehangatan menjalar dari jemari yang menggenggam tangannya erat. Kali ini hujan semakin deras berjatuhan, dan Ainsley hanya bisa mengerling sekilas pada Brian. “Ah, sial. Kurasa aku berkata terlalu jujur, tadi, Bri. Tolong beritahu aku, sirup maple itu mengandung alkohol kan? Aku pasti benar-benar tidak sadar ketika mengatakannya padamu barusan.”

“Tapi seratus persen orang mabuk pasti melakukan hal jujur yang benar-benar diperintahkan oleh alam bawah sadarnya, Ley,” Brian melayangkan sejumput ejekan dalam kalimatnya. “Kau kalah sekarang,” lanjutnya sembari mengembangkan senyum tertahannya.

“BRIAN KANG!” Ainsley melepas paksa tautan jemari Brian dan memukul legan pemuda itu keras-keras. Pipinya memanas sekarang, sepertinya seseorang telah menamparnya dengan segenggam tomat mendidih pada wajahnya.

“Wajahmu merah, itu berarti kau sedang malu. Iya, kan? Kau pikir aku semudah itu melupakan kebiasaan-kebiasaan konyolmu, ha?”

Surai gelombang gadis itu mendadak menutupi separuh wajahnya karena malu. Pun, tanpa tedeng aling-aling, speaker yang bertengger di ujung toko tiba-tiba memutarkan lagu This I Promise You milik ‘NSYNC.

Ainsley memberanikan diri untuk menegakkan punggungnya dan balik menatap Brian. “Hentikan Bri, aku pun juga pusing kenapa kedatanganmu kemari malah menghancurkan mood-ku seperti ini. Padahal kan aku seharusnya bahagia karena masih diberi kesempatan untuk bertemu dirimu lagi, dengan segala karakter dan watakmu yang tidak pernah berubah, bahkan sejak ketika kau angkat kaki dari Quebec empat tahun silam.”

Brian mengangkat kedua ujung bibirnya sebelum akhirnya ia menganggukkan kepala tanda mengerti. “Obat rindu itu ya bertemu, Ley,” ucap Brian pelan. “Biar kukoreksi, lebih tepatnya aku merindukan tangisanmu ketika kita menghabiskan waktu bersama sebelum keberangkatanku ke Korea. Kau ingat itu?”

Ck, dan kau berharap peristiwa itu terulang lagi setelah ini, huh?”

“Kalau itu satu-satunya hal yang membuatku rindu padamu, kenapa tidak kau lakukan saja setelah ini?”

Ainsley menghela napas berat. “Brian.”

“Ya?”

“Tidak bisakah kau tetap di sini untuk waktu yang lebih lama?”

“Di tempat ini?” ulang Brian sambil menghentakkan kakinya dua kali. “Tak masalah jika itu permintaanmu, tapi hiruk-pikuk dan segala suasana di dalam sini benar-benar membuatku sangat sesak, Ley. Membiarkanmu menangis di hadapanku dan berdiam diri tanpa berbuat apa-apa, itu semua cukup membuatku terlihat seperti pengecut yang tak bertanggung jawab. Iya, walau itu dulu, di sini, ketika kau dan aku masih dapat menikmati sensasi sirup maple dengan harga murah.”

“Itu dulu, kan? Sekarang aku sudah menjadi gadis tangguh yang tidak gampang cengeng, asal kau tahu. Dan kuyakin kau juga banyak belajar di Korea tentang bagaimana cara menjadi laki-laki dewasa sehingga tidak bersikap mengecewakan seperti dulu lagi,” Ainsley menuntaskan kalimatnya setelah ia menenggak habis sirup maple dari atas meja.

Mendadak Brian menerawang kedua obsidian teduh milik Ainsley yang tengah menatapnya, sembari memikirkan tentang opini gadis itu baru saja. Ada benarnya juga, ia memang harus menyesali perbuatannya empat tahun silam ketika Brian maupun Ainsley saling memendam perasaan satu sama lain, namun mereka tidak pernah memiliki hubungan yang lebih dari sepasang ‘teman’. Mereka tak ubahnya sepasang insan yang terlalu takut untuk jatuh, terlalu tidak siap untuk menyisihkan separuh ruang di hati mereka sebagai wadah atas pahitnya cinta yang bisa saja terjadi di kemudian hari. Hingga pada akhirnya, Brian memilih untuk meninggalkan Quebec demi mengejar karirnya di Korea.

“Kukira dengan kesalahan yang terlah kuperbuat dulu, kau jadi punya sisi skeptis sehingga tidak ada satupun laki-laki yang berhasil membuka hatimu padanya.”

“Sebenarnya salahku juga karena dulu sempat melarangmu pergi ke Korea. Kau pasti takut untuk membuatku merasa lebih sakit hati, kan? Apa yang kau lakukan dulu ada benarnya juga, Bri. That was not a big deal for me, lama-kelamaan aku tahu kalau aku pasti akan lebih hancur ketika kita dulu pada akhirnya menjalin hubungan yang lebih serius, sedangkan kau akan pergi jauh tak lama setelah itu.” Ainsley menuntaskan perkataannya dengan suara serak pada akhir kalimat.

“Maaf,” ucap Brian. Ada segelintir frasa yang tengah mengantre di balik bibir pemuda itu, namun hanya kata ‘maaf’ yang berhasil meluncur dari kerongkongannya.

Brian beralih memangkas sedikit jarak di antara keduanya, sehingga bahu mereka benar-benar saling bersentuhan.

“Lalu? Kedatanganmu kemari hanya untuk mengatakan ‘maaf’, begitu?”

“Maaf untuk semuanya, segala kesalahanku yang dulu pernah membuatmu kecewa berat, juga prasangka burukku yang mengira kau memiliki sifat skeptis terhadap segala tetek bengek cinta atau semacamnya itu, hahahaha.”

Ainsley dapat merasakan tubuhnya ikut bergetar samar ketika bahu Brian naik turun lantaran tawa renyahnya yang mengudara. Perlahan namun pasti, ada beribu kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya di dalam rongga perut Ainsley. Mengundang gadis itu untuk mengukir senyum simetris pada bibir merah mudanya, sangat cerah untuk mengawali hari—walaupun kondisi langit hari ini tengah menangis muram.

“Bukan skeptis, lebih tepatnya luka yang dulu sempat mampir padaku itu seakan-akan memaksaku untuk terus berharap, Bri.” Ainsley mengoreksi. “Tapi tidak ada seorang pun yang dapat menghindari pertemuan, kan? Katamu, obat rindu hanya bertemu. Boleh saja aku melupakan kenangan pahit yang dulu pernah kualami. Tapi—“

“—kenyataan bahwa kita saling merindukan satu sama lain itu tidak dapat dibohongi.”

Bibir Ainsley belum sepenuhnya terkatup lantaran Brian buru-buru mencela perkataannya, namun gadis itu tetap merekahkan senyumnya untuk kesekian kalinya. Memberi intruksi semu pada Brian untuk ikut menukikkan kedua ujung bibirnya ke atas, dan meraih puncak kepala Ainsley guna mengelus surainya lembut.

Bagi Brian, Quebec memang tempat yang tepat untuk bernostalgia. Merangkai memoar-memoar memilukan yang dulu sempat terbayang mengerikan di dalam angan, kemudian menyusunnya kembali menjadi sebuah kesatuan yang utuh; meluruskan segala kesalahpahaman yang selama ini menggerayangi keduanya. Mengucap sefrasa rindu, mempertemukan kembali jemari-jemari dingin untuk saling bertukar kehangatan, pun berikrar untuk saling melangkah di atas jalan yang sama satu sama lain.

“Bri, kurasa Quebec adalah dirimu dan dirimu adalah Quebec.”

“Maksudmu?”

“Lihatlah.” Ainsley menunjuk jendela di sampingnya. “Hujannya sudah reda, kau sekarang juga sudah lega, kan?”

“Aku hanya terlalu bahagia. Itu saja, Ley.”

“Kalau begitu, boleh aku yang giliran menangis sekarang?”

“Untuk apa?”

“Memohon padamu untuk tinggal lebih lama di sini.”

Sepersekian sekon berikutnya, Brian lantas merengkuh Ainsley ke dalam pelukannya.

.

To be honest

No matter how much I try

To erase you

I know I can’t, yeah

.

—fin—


a/n; mas brian edisi pulang kampung nih (beuh jauh amat sampe ke Quebec) buat ketemu mbak gebetan yang dulu pernah dia sayang namun tak sempat dimiliki. SAIK. jika berkenan, boleh dong mampir ke kisah mereka yang lain di sini.

terakhir, mind to review? 😉

bonus pict:

experience-quebec-canada-fred-c0204306d1223530bae5584e1cb76b80
Quebec, Kanada
902203f4c2f0fb3faaff7607c0c05be8
Fairmont Le Château
St-Viateur Bagel Shop
Kue Bagel
tji-fundy-trail
Teluk Fundy

 

Advertisements

8 thoughts on “Quebec, dan Separuh Windu yang Tertinggal

  1. DONNJAAAHHHHHHH……

    astagaaaa mas brian yaaa… antara gamon sama ga bisa move on karena saking cintanya sama ainsley :’). maniisss:(( ga tau lagi deh, gimana bayangin senyum mas brian dengan segala tingkahnya :(.

    mark tuan nyempil as pengejar mati-matiannya ainsley.. aduh mas kamu kan udh sama aku:(, atau ga ya kejar aja viodie, jangan cuma didiemin mulu:(.

    asdfgghhjjkll gelee sihb ini…. aduhh… aku sukaaa…. narasimu sungguh membuatku hanyut dlm suasana.. kek jadi bisa membayangkan suasana di Quebec itu gimanaa.. hueee such a sweet story :’)

    last. satu pertanyaan. ini brian ainsley jadiannya kapan, dan ini mereka tu udah putus atau gimana, mereka mantan apa gemana seh? bingung 😦 ini kan masih dlm masa liburan. males mikir:(.

    keep writing dunjaahh 💕💕💕

    Liked by 1 person

    1. dipooyyy samaa aku pun gatau ya masa ada di dunia ini cowo se-setia dia apa enggak, yang jelas semoga aku nanti dapet jodoh yang betah diajak ldr-an /menggelinding ke pelukan mas bri/ /GA/

      ceritanya si mark lagi khilaf sih, abisnya si viodie kelewat polos kan jadinya ga peka, alhasil dia ngejar2 mba alodie deh, kan sama2 ‘die’ nya /g
      tapi tenang saja, mungkin setelah ini aku kambekin mark x viodie secepatnya yaaah pengennya sih tak jadiin sinting series gitu kan biar lucu aw.

      makasihh dipoyy sudah mampir kemari hehehehe aku gak sadar ternyata ceritanya panjang banget, sampe penjelasan kalo mereka gapernah jadian dan statusnya cuma mantan gebetan itu nyempil di paragraf hampir2 akhir wkwkwk

      itz okei nak, liburan adalah waktu untuk bermalas-malasan, tapi buat nyelesein han x al gabole males juga dong AYO CEPETAN POSTING KEBURU AKU DIPERSUNTING MZ BRIAN

      anyway makasih lagi lhoo yaa sudah mampir dimari luv luv luvv ❤ ❤

      Liked by 1 person

      1. heeehhh sejak kapan mark tuan sukanya sama bocah macem alodie:(( kan ini bahas ainsley, kenapa alodie dibawa-bawa dahhh… hmmmssss yang punya oc lagi oleng han x al. efek menunggu next part yang masih tertunda….

        OKE AKU TUNGGU MARK TUAN X VIODIE CHWE 💕

        Liked by 1 person

      2. OIYA YAALLAH MALUUUUUUUUUU /.\

        INI AINSLEY WOY DONNA AINSLEY BUKAN ALODIE HAHAHAHAHAHA NGAKAKKK SENDIRI ANJAI TERIMAKASIH SUDAH MENGINGATKANKU😂😂😂😂😂😂😂😂

        bodo ah ogeb banget aku anjir gangerti lagi pening sudah ini kepala😂😂😂😂😂😂😂😂

        Liked by 1 person

  2. Donaaaaa hwhwhwh sebelumnya aku mau ngomong sama mas brian sama mbak ainsley

    REUNI KOK BAPER REUNI KOK BAPER /lah/

    Tadi aku liat video Brian being annoying, dan segala bentuk ketengilan seorang Brian pun sirna saat membaca fic ini huweeeeeee sumpah kalo gini mah udah lah mbak ainsley, jadian ngapa jadiaannn diem2 bae. keburu aku mandjah sama brian ni :”)

    Sumpah don, ini cerita kok manis amat dah kyk senyuman mantan /gagituren moveon ngapadah/

    DAN KAPAN DIKSINYA DONNA NDA BAGUS COBAA JINJJA EONJEGASEUMNIKKA??

    Okeh, segitu aja dulu yha donjahh quee ❤ ❤ keep writing as always ❤ ❤

    Liked by 1 person

    1. sesuai perkataan kakren : reuni boleh, tapi reuni perasaan yang ga boleh

      YHA.

      TERLANJUR.

      KELEPASAN.

      KECEPLOSAN.

      DAN MZ BRIAN HENDAK MELURUSKAN ITU SEMWA AGAR TERCIPTA KEHIDUPAN SOSIAL YANG MAKMUR DAN BERMARTABAT. /iya donna iya/

      kzl banget kakren nyuruh mereka jadian biar ga semakin mandjah sama mas brian, padahal mz brian pengennya bermandjah mandjah ria dengan perasaannya. eaaaaaaa sikat mas.

      BTW WAKAKAKAK SENYUMAN MANTAN MANIS?

      iya emang bener, ga yang nulis ga yang baca ga tokohnya, semua pada reuni perasaan. siap :’) aque tidak kuat dengan semua ini :”))

      btw kakrennn hueeee makasih sudah mampir dan makasih atas apresiasinyaa ❤ ❤ ❤ luv luv kakren :*

      Liked by 1 person

  3. Halooooooooo donaaaaaaaa

    Aku gajadi sepot yaw keburu lupa sama komenannya ntar. Iyain aja biar fast. Pertama-tama monmap dulu nih soalnya telat baca, habisnya aku gak dikasih link, akutu tipe yg rada males obok2 lapak orang :’3 Ini aja aku iseng loh buka blogmu, kali aja ada ff baru yg bisa mengisi kegabutanku di tengah malam yg tak berbintang & penuh nostalgia ini. Eh mbak brian sama mas ainsley ternyata juga ada reuni plus nostalgia tipis2. Tapi ini reuni ajaib gitu ya yg bisa bikin baper. Lagian si brian main pergi aja sih emangnya di Quebec gak ngadain JYP Global audition ya sampe dia rela berbondong-bondong ke kuriyah?

    Btw don, aku suka loh baca ff kuriyah tapi berlatar western kayak gini. Selain gak monoton, bisa menambah pengetahuan juga. Kali aja ntar habis manggung si sungjin langsung ngajak jalan2 ke kanada, mau ketemu marklee & sekalian ngelamar aku. Jadi insha allah aku gk bakal tersesat.

    Selain latar tempat, aku juga suka latar suasananya. Anget banget, apalagi di awal kan sempet ujan ya. Duh, hujan itu lambang kenangan & ekpresi kerinduan yg tersembunyi. Yasudahlah, karena terlanjur baper, aku jadi gatau mau nulis apa lagi.

    Ketahuilah don, meskipun gaada kepslok, tapi aku bahagia sekali baca ff ini hwhwhw berasa ikutan masuk di kehidupan mereka. Selain itu, di sini juga udah malem, jadi gaboleh teriak2, ntar dimarahin mimi yg udah gak peri.

    Keep writing donjah 😘

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s