He’s Mark Lee ….

makeujane1

Written by thehunlulu ©2017

Starring by [NCT’s] Mark Lee & [OC’s] Jane Jung | Genre Romance, Angst, Psychology!AU | Length Vignette (±1500 words) | Rating PG-17

“Don’t break anybody’s heart, because they have only one.”

::::

Sebuah televisi tengah menyala di sudut ruangan, sementara sofa merah beludru yang ada di depannya tampak nihil akan presensi si pemilik rumah. Remah-remah kue berhamburan memenuhi lantai dan botol kaca berisi cairan bening yang tersisa seperempat terguling serampangan di atas sofa. Benar-benar kacau. Tidak ada penerangan dari manapun, kecuali bising televisi yang memancarkan sinar dari layarnya.

Singkatnya, hanya ada kegelapan dan aroma tajam khas alkohol yang memenuhi ruangan tersebut.

Seorang gadis dengan rambut berantakan tampak berjalan dari arah dapur sambil membawa satu toples berisi meringue cookies di tangannya. Derapnya timbul-tenggelam, karena untuk mengambil satu langkah saja benar-benar terasa berat baginya. Pusing tak tertahankan menguasai seisi kepala, mata sayunya yang berkunang-kunang membuat gadis itu tidak dapat melihat keadaan sekitar dengan jelas, sehingga alih-alih mengarahkan satu buah meringue cookies ke dalam mulutnya, tangannya terlebih dahulu mencekal erat sandaran sofa dan ambruk untuk kedua kalinya.

“Ah … pasti aku benar-benar sudah meneguk habis minuman itu,” erangnya sambil memelintir ujung rambut. “Sadarlah Jane Jung … kau tidak seharusnya memilih pelarian seperti ini saat si brengsek Mark Lee berselingkuh dengan orang lain … ah ….”

Jane Jung—nama gadis tersebut—bermonolog dengan suara yang parau. Tubuh mungilnya berusaha bangkit guna duduk tegap sambil menikmati cookies manis dari dalam toples. Namun usaha yang ia kerahkan benar-benar nol besar, dalam artian tenaga yang ia miliki masih kalah dengan kadar alkohol yang menguasai dirinya.

Jane hanya bisa meringkuk lemah di atas sofa ruang keluarga sambil sesekali mengucapkan sepatah-dua patah kata berisi umpatan yang ditujukan pada Mark Lee. Ia masih terjaga dengan kedua iris yang menatap lurus ke arah layar televisi yang menampilkan pertandingan baseball akhir pekan. Walau sebenarnya Jane tidak dapat menangkap komentar juri yang berlangsung di tengah meriahnya acara, namun ia tetap menikmatinya sambil tertawa.

“Sialan! Kenapa juga aku harus menghabiskan tiga perempat botol?! Akhhh ….” Jane mencibir frustasi ditemani napas yang tersenggal-senggal saat tumitnya tidak sengaja menendang botol alkohol dari atas sofa hingga pecah. Gadis itu menerawang pecahan kaca yang berhambur di atas lantai melalui ekor matanya. “Oh Tuhan! Jane Jung … apa yang telah kauperbuat ….”

Beberapa saat kemudian, gadis itu benar-benar kehilangan kesadaran setelah melahap dua buah meringue cookies—dengan harapan dapat menetralisir kadar alkohol di dalam tubuhnya.

::::

Ruangan gelap yang semula menemani lumpuhnya kesadaran Jane kini hilang. Gadis itu tak lagi meringkuk di atas sofa sambil menonton pertandingan baseball, melainkan kini ia terbaring di atas ranjangnya sendiri. Gorden merah muda yang ada di sampingnya tersibak lebar, meloloskan sinar matahari yang menyapu seluruh wajahnya. Jane menyipitkan kedua matanya, sementara sekujur tubuh yang terasa pegal tidak lagi digubris karena ia lebih memilih untuk turun dan berjalan keluar kamar.

Jane baru menyelesaikan satu langkah dari dalam kamar, dan intuisinya sudah lebih dulu tahu kalau tidak ada siapapun di dalam rumah itu selain dirinya. Bola matanya bergulir ke sembarang arah untuk sekadar memastikan bahwa kekacauannya tadi malam tidak diketauhi oleh siapapun, dan ia menang. Tidak ada satu orangpun yang membobol rumahnya.

Jane tersenyum puas. “Syukurlah ….”

“Syukur untuk apa, Nona Jung?”

DEG!

Tubuh Jane seketika membatu, diikuti pandangan yang ia alihkan pada sosok pria yang tengah menyesap secangkir minuman di konter dapur. Sekonyong-konyong pupilnya melebar, disusul degup jantung yang entah sejak kapan bertalu dengan begitu cepat.

Kerongkongan Jane tercekat hebat. “M-Mark … a-apa yang kau—“

“Bertamu,” potong Mark sambil menaruh cangkirnya di atas meja. Alisnya terjungkit sebelah. “Kenapa? Tidak boleh?”

“Berarti—“

“Benar, aku yang memindahkanmu dari sofa menuju kamar dan—oh, tenang saja Jane, aku tidak melakukan hal-hal aneh kok dengan tubuhmu.” Salah satu ujung bibir Mark terangkat, perkataannya agak ketus dan kelewat kurang ajar bagi Jane. “Kemari dan duduklah di sampingku, aku siap menjelaskan kronologisnya dari awal sampai akhir.”

Jane segera menepis tangan Mark yang menggamit pergelangan tangannya. Mereka kini saling berhadapan, beradu tatap tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Jane benar-benar tidak dapat menafsirkan bagaimana perasaannya saat ini. Hancur, rapuh, segala kemungkinan buruk ada pada dirinya—lebih tepatnya, pada kedua manik penuh amarah yang ia tujukan pada pria brengsek di depannya.

“Hei hei hei, berhenti menatapku seperti itu, Jane. Kita bisa duduk ter—“

“Apa yang membuatmu berani memunculkan batang hidungmu lagi, Mark?”

Mark menyimpulkan sebuah senyum. Ia mengelus surai Jane dengan lembut. “Apa yang kaubicarakan, Sayang?”

“Tidak usah pura-pura tidak tahu atau bahkan memperlakukanku layaknya sepasang kekasih seperti biasanya, Mark! Jawab aku!”

Mark sontak terdiam.

“Bodoh.” Jane mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan sambil menunduk. “Kau … apa lagi rencanamu setelah ini?” Sekuat tenaga Jane menahan isakan yang nyaris meluncur di pangkal tenggorokan.

“Aku kemari untuk meminta maaf padamu, Jane, sungguh.”

PLAK!

Mark nyaris tersungkur saat tamparan keras mendarat mulus di pipi kirinya. “Jane Jung!”

Cih,” desis Jane. “Pemuda brengsek sepertimu ternyata masih punya hati nurani ya? Omong kosong! Kenapa kau harus repot-repot pergi ke rumahku hanya untuk meminta belas kasih dariku? Lebih baik lanjutkan saja perselingkuhanmu, nikmati masa mudamu sambil menertawakanku dari kejauhan. Kuharap gadis yang kau kencani seminggu lalu segera sadar bahwa akan ada pihak yang selalu mendoakan hubungan kalian agar berjalan baik-baik saja sebagaimana mestinya. Aku akan mendoakan kalian berdua, Mark.”

“TUTUP MULUTMU, JANE!”

DUGH!

Mark benar-benar kesetanan. Dirinya berhasil menghempas tubuh Jane pada dinding di belakangnya. “Kau benar-benar tidak tahu terima kasih, ya.” Mark memajukan wajahnya beberapa senti hingga napas keduanya saling beradu dalam jarak yang sangat dekat. “Apa yang akan kaulakukan selanjutnya kalau aku tidak kemari, hah? Mengambil sebotol bir dari dalam almari lalu menenggaknya lagi? Kau tidak tahu betapa susahnya diriku saat menemukanmu berjalan sempoyongan sambil membawa sebotol bir utuh, hah?!”

Tatapan tajam masih terus dilayangkan Jane. Terang saja gadis itu tersentak saat Mark memaparkan kronologis mengapa dirinya tiba-tiba berada di atas tempat tidur, dan mengapa Mark melakukan ini semua padahal notabene mereka bukanlah sepasang kekasih yang akur seperti dulu. Jane benar-benar tidak ingat dengan kejadian tadi malam, yang ia tahu hanyalah tubuhnya yang terasa amat pegal, kepala yang begitu berat, dan kesadaran yang perlahan menghilang.

“Kau itu seorang gadis, Jane! Kumohon jangan guyur kerongkonganmu dengan cairan laknat itu lagi!”

Jane mencengkeram erat kedua pundak Mark. Matanya tak kuasa untuk tidak terpejam sejenak dan meluncurkan airmata kemudian. “Ini semua salahmu! Kau benar-benar pengecut! Kau yang membuatku frustasi seperti ini, tapi kau juga yang mencegahku untuk melakukan ini semua! Persetan dengan embel-embel kau masih mengkhawatirkanku, kumohon jangan ganggu hidupku lagi dan biarkan aku bersenang-senang dengan duniaku, Mark!”

Semakin Jane memberontak, semakin erat pula kedua tangan Mark menahan bahu Jane agar tetap diam. Tidak ada lagi yang dapat menahan amarah Jane yang kian memuncak, pun pandangannya yang tengah berkobar penuh keegoisan.

“BRENGSEK KAU—“

Jane terbungkam.

Mark benar-benar tidak dapat menahan keinginan untuk tidak mendaratkan bibirnya pada plum manis milik Jane. Lantas, pekikan keduanya teredam sempurna ketika perlahan Mark memperdalam ciumannya, menyatukan dua pemikiran dalam hangatnya sentuhan bibir keduanya.

Tidak, Mark tidak dalam keadaan mabuk ataupun berdelusi. Ini semua nyata. Jane benar-benar merasakan bagaimana bibir lembap Mark menempel sempurna dengan miliknya, dan bagaimana permainan-permainan kecil yang Mark ciptakan padanya. Jane terdiam cukup lama, matanya masih terpejam sempurna dan menikmati sensasi yang … sungguh memabukkan.

Keduanya tenggelam dalam situasi di mana pikiran rasional mereka masih belum mendekat, sebelum akhirnya Jane mendorong paksa bahu Mark hingga pemuda itu menatapnya tajam.

“Ada apa?”

“Jangan harap kau dapat lolos dan menerima maaf dariku dengan begitu mudahnya, Mark.” Ekspresi sendu Jane mendadak lenyap, tergantikan oleh seringaian tipis pada sudut bibirnya. Tangan mungilnya menyapu paras Mark, membelai lembut tulang pipi pemuda Lee tersebut. “Apa begini caramu untuk meminta belas kasih padaku? Apa ini semua dapat menjamin kalau kau tidak akan bermain-main di belakangku lagi setelah ini, hm?”

Mark menurunkan kedua tangannya. Jari-jarinya mengepal kuat, rahangnya mengeras setelah mendengar ucapan Jane barusan. Tidak ada frasa yang meluncur dari bibir Mark dalam beberapa sekon, ia hanya mampu menelan bulat-bulat kebenaran di balik perkataan—

“Kau benar-benar gadis yang sangat kolot, ya, Jane.”

—gadis yang paling dicintai oleh seorang Mark Lee.

“Don’t break anybody’s heart, Mark, because they have only one. Sekali saja kau menyakitinya, luka itu akan menganga sampai kau benar-benar meminta maaf. Tapi … perkataan maaf saja tidak cukup bagiku. Walaupun luka itu telah terobati, namun tetap saja akan meninggalkan bekas, ‘kan?”

Mark mendengus. Ia mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Sesaat kemudian pemuda itu menyemburkan tawa. “See? Bahkan kau sama sekali tidak menghargai perjuanganku, kau bahkan melupakan segala kebaikan yang telah kulakukan untukmu hanya karena sebuah kesalahan yang telah kuperbuat.” Mark mengemban oksigen dalam-dalam. “Kau … apa yang harus kulakukan untukmu agar kau benar-benar memaafkanku?”

Jane menggulirkan irisnya jengah. “Seperti yang kukatakan tadi ….” Gadis Jung tersebut sengaja menggantungkan kalimatnya dan bergerak maju, berbisik tepat di dekat telinga Mark, “Don’t break anybody’s heart because they have only one, so—“

JLEB!

“—you must break their bones, because they still have 206 left.”

Mark mengerang dengan napas yang tersenggal-senggal. Jane berhasil menghunuskan ujung pisau lipat—yang ia sambar dari meja telepon di dekatnya—tepat pada tulang leher Mark.

Bau anyir yang mengudara diiringi erangan hebat dari kerongkongan Mark membuat Jane menyeringai lebar, sangat puas. Benar-benar melegakan dapat melihat pekatnya darah mengucur deras mengaliri jemari Jane, sebelum akhirnya tubuh Mark berdentum di atas ubin.

Pemuda itu benar-benar ambruk.

.

.

.

Sekali lagi kutekankan, ia adalah Mark Lee; pemuda paling brengsek yang pernah singgah di dalam hidupku.

— fin —


A/N:

ASTAGA SUMPAH AKU ABIS NGAPAIN SIH INI? KAYANYA YANG KESETANAN BUKAN MEREKA BERDUA DEH, TAPI YANG NULIS SEBENERNYA……seriusan aku beneran kangen sama mereka TT^TT /kangen kok disaikoin don/. ditambah lagi webe yang nyerang kurang lebih dua minggu—atau lebih ya? bikin gemes banget kek gaada bahan yang pas buat nulisin kisah Mark x Jane wkwkwkwk.

oh iya mau big thanks dulu sama pinterest, karena prompt ini berhasil menginspirasiku yeayy:

hhh

((ceritanya lagi edisi ga berani posting ini di lapak nct soalnya terlalu rated, padahal castnya belom pada legal semua huhuhu eh yang nulis juga belom legal sih ya wkwkwkwk)) /digiles/

terakhir, mind to review, dear? 😉

-thehunlulu♥

 

Advertisements

10 thoughts on “He’s Mark Lee ….

  1. WOY AHHH INI KENAPA TIBA TIBA MEREKA KAMBEK BEGINI WOYY!!!

    alih alih romens fluff malahan.. hmmm siapa yang ngajarin Jane saiko saiko an, masa seneng liat darah :’)

    o jadi ini ya o ya ya ya 🙂

    ❤❤❤

    Liked by 1 person

    1. mereka sekali kali harus dibangsulin dif biar tau gimana sakitnya yg nulis waktu tau nct mau ke indo dan gabisa nonton /cri sekebon /digiles

      wkwkwkwk aku khilaf, lain kali ga bakal bikin mereka pg17 lagi huhuhuhu TT^TT

      btw makasih udah mampir ya dipoyyy ❤

      Like

  2. Gini loh,

    Pertama aku sangat berterimakasih telah mengembalikan bibimarki ketempat yang seharusnya didalam relung hatymoe

    Terus kedua aku sangat tersentuh karena akhirnya donna bisa mengeksekusi keduanya dengan sangat baik aku suka!!!! Jangan sekali lagi bilang kalo kamu ini webe atau ku culek matamu

    Terus ketiga

    YA GA GINI JUGA KAMBEKINNYA, IYA TAU ANJIR INI PG 17 TERUS UDAH CIUM CIUM YAALLAH MARK TINDAQAN INI TIDAKLAH LEGAL

    YAALLAH BIBI MARKI

    KASIAN

    PADA AKHIRNYA KAMU BAGAI SEONGGOK LINTA AFRIKA YANG NYASAR DI PERBUKITAN HIMALAYA

    im sorry but I love you Kim donghyun

    Ok

    Bye

    Aq gabisa lama lama mikirin bibi marki, pusink!

    Liked by 1 person

    1. KAMU INI APABANGET YA HELLO AKU UDAH MENGABULQAN PERMYNTAANMU TUQ MENAMBAL KERINDUAN DENGAN BIBI MARKI ! HUFT!

      btw eh ya wkwkwkwkwk kenapa harus lintah 😦
      ah udah ah tia aku gatau kudu bales apa lagi yg jelas makasih suda mampir di lapak unfaedah ini yaa ❤

      Liked by 1 person

  3. terima kasih telah kambekin mereka berdua dengan cara yang paling unfaedah yang pernah ada (y)
    terus ga nyangka gtu ya jungjane bakal jadi seorang pembunuh bhaks maumu apa don sekalinya kambekin mereka langsung bunuh2an gini
    mbak jane serem jg ya sekalinya ngambek langsung nyawa melayang
    lah elo jg mark ngapain selingkuh yawlah kurang baik apa si cewek lo sampe kudu lo doain /plak

    sekian
    salam jinjja yerobun

    Liked by 1 person

    1. kakce ga sendirian kok yg berpikir ini unfaedah…sejatinya aku juga memikirkan hal yang sama bhaaak xD
      aku gatau kudu apa kak, abis liat prompt itu rasanya kaya ada jiwa membara yg langsung keluar dan ngarahin jari buat ngetik ke hal2 yang tidak boleh dikonsumsi anak dibawah umur /yee padahal akunya jg msh dibawah umur /digebuk beneran
      ya namanya cowok brengsek kak mau gimana2 ya tetep ae kudu dibrengsekin balik HAHAHAHAHAHA

      /pulang/

      btw kakce makasih uda mampir di lapak unfaedah ini yhaaaa ❤ salam jinjja yerobun

      Liked by 1 person

  4. ASTAGHFIRULLAH…….

    LAILAHAILLALLAH……

    ALLAHU AKBAR……

    SUCIKANLAH DONA YA ALLAH YA ROBBI T_T AKU AJA MASIH GK BERANI BIKIN KEK GINIAN WKWK SUSAH AKUTU KALAU DISURUH BIKIN SAIKO MENJURUS CRIME GINI. KAN AKU BAIK HATI, LEMAH LEMBUT DAN PENUH CINTA :))) //dibalang sapu dan cikraknya sekalian//

    Mark main nyosor aja woy, mentang2 jakun makin gede aja sotoy ih gemezh aku :’) Jane juga udah berani minum bir ya, apalah dakuh yg masih minum susu bendera :’) Don, katanya kangen sama Mark-Jane, tapi kok kangennya…….. (spisles)

    Udah lah. Bay~

    Salam cherry bomb $

    Liked by 1 person

    1. *shalawatan satu kelurahan*

      aduh kak kenapa dirimu bisa nyasar di lapak nista ini xD iya sepertinya aku butuh rukyah kak, terlalu gemas sama mereka sampe kangenku jatohnya saiko dan—ehm, iya begitulah…… /krik/ /digiles beneran/
      E TENANG AKU JUGA LEMAH LEMBUT PENUH CINTA KOK HEHEHEHE ITZ OKEI :))))

      astaga savage banget mark dibilang jakun makin gede XD sejatinya bukan bir kak itu, itu teh anget /ga/

      wkwkwkwk makasih banyak wes mampir dimari ya kak mwahh ❤ salam cherry bomb!

      Like

  5. q g baca q mingkem.

    WAHAHA DONNA KESAMBET APA KAMU NAK xD

    gapapa ini mah masuk lapak nct, lah apa kabar diriku yang suka nistain om abis-abisan :3 terus whai kalo baca yang beginian bawannya tuh bukan ngeri tapi ngakak yawlah bukan cuma humorku aja ga normal tapi kejiwaanku juga u.u

    masukin lapak nct gih don nanti kulanjutin deh wkwk. dah ah udah malem masih mau bobo, abi udah manggilin 🙂

    Liked by 1 person

    1. KANJEEEEEEEEEEEELLLL HUHUHUHU KENAPA DIKAU MAMPIR KESINIII :(((

      q galiat q nangis

      whai kak aku gaberani masukin lapak nct wakakaka aku gamau bawain markjane saiko saikoan kak, biarlah hubungan mereka mengalir layaknya air kalo di lapak nct /ngga/ /digebuk/
      ih ciyus ya lanjutin kanjel ntar kalo dilanjutin boleh ugha jane dibawa ke alam baka dan bertemu simbah T_T

      makasih kanjel udah mampir uncchhhhh q sayang qm ❤

      -tapi boong-

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s