Cocanophilia (Donghyun’s Side)

dong

A Collaboration Fic Written by thehunlulu & Gxchoxpie ©2017

Starring [ex-PD101 S2 (Brand New Music Trainee)] Kim Donghyun & [ninegust‘s OC] Serenade Im Genre Romance, Angst, Drug!AU Length Vignette Rating PG-17 (PARENTAL ADVISORY EXPLICIT CONTENT)

Previous Story: Serenade’s Side

“Ridiculously, I was ruined
I’ll piss off, though I hate you
I don’t wanna be a loser.” — Easy Love by SF9

***

“Tapi Ren—“

“Maafkan aku, Hyun. Kau boleh membenciku setelah ini, karena memang aku sama sekali tidak pernah paham dengan perasaanmu. Tapi … kurasa aku tidak bisa menjalin hubungan yang lebih dari sekadar persahabatan denganmu. Maaf.”

Segelintir frasa yang mengudara malam itu membuat hatiku seakan hancur berkeping-keping. Entah sudah berapa kali kukerjapkan mata guna menahan airmata yang nyaris meluncur, menghalau pemikiran bahwa Serenade memang tidak pernah memiliki perasaan lebih padaku. Kutatap wajahnya lekat-lekat, lampion berwarna jingga menyapu parasnya yang tampak sayu, kemudian kugenggam kedua tangannya erat.

“Kalau kau butuh waktu, kauboleh memutuskannya esok hari, Ren. Aku akan selalu menunggu,” ucapku berusaha meyakinkan gadis Im tersebut.

Namun respons yang Serenade berikan setelah itu hanyalah gelengan lemah. Ia menunduk dalam diam. Saat itu juga rengkuhan tanganku perlahan merenggang, aku terdiam sejenak. Memaksanya untuk balas memberi kasih sayang dengan konteks yang berbeda hanyalah sebuah omong kosong.

Ia dan aku tak lebih dari sepasang sahabat.

Betapa ribuan belati seperti menghujam hatiku bertubi-tubi. Pelupukku memburam, kelopak mataku terasa panas karena tak bisa lagi membendung airmata yang akhirnya beranak-pinak menuruni kedua pipiku. Tidak. Aku tidak sampai terisak. Bibirku bungkam seribu bahasa, kendati Serenade saat itu mencoba untuk mengguncang lemah kedua pundakku.

Rasanya perih. Seperti dua batu yang berdampingan, kemudian ada seseorang yang menendangnya serampangan hingga salah satunya terhempas jauh; tidak mampu untuk kembali tanpa peduli betapa menyakitkannya kenyataan yang harus dihadapi.

“Baiklah Ren, aku akan berusaha menerima keputusan terbaikmu.”

“Donghyun-ah, dengarkan aku dulu!” Rena mencekal lenganku kuat-kuat ketika kuputuskan untuk beranjak pergi. “Donghyun-ah … aku masih menyayangimu, sungguh.”

Hah, menyayangi apanya, Ren? Apakah ungkapan sayangmu adalah dengan menggores luka di hatiku?

Kucoba untuk bersikap tenang, lantas menghirup oksigen dalam-dalam. Katakan aku adalah pemuda lemah yang sangat brengsek ketika gadis yang selama ini kusayang tidak balik menyimpan rasa padaku, sehingga kuputuskan untuk pergi dari hadapannya dan lebih memilih untuk mengurung diri di dalam kamar sepanjang hari.

“Kumohon jangan pergi ….” Perkataan Serenade masih terdengar nanar di telingaku, sehingga mengundang atensiku untuk beralih padanya dan mengurungkan diri dari ego sialan yang membuatku ingin raib dari hadapannya saat itu juga.

“Katakan Ren … katakan jika semua yang kau ucapkan adalah kebohongan terbesar dalam hidupmu. Iya, kan?” tanyaku lirih.

“Donghyun-ah—

“Kalau kau benar-benar menyayangiku, kenapa kau lebih memilih untuk bersahabat denganku? Apakah aku salah jika menaruh perasaan lebih padamu?” Intonasiku meninggi hingga membuat Serenade tersentak. Gadis itu sontak memundurkan tubuhnya. “Ren, kumohon—“

“Aku belum siap.”

Aku mematung.

“Ah, jadi karena itu …,” balasku ringan, sedangkan gadis itu tampak bergerak resah di tempatnya. Kutatap sepasang irisnya ditemani perasaan kesal yang perlahan menguap entah ke mana. “Baiklah, aku mengerti.”

Lantas, aku segera angkat kaki dari hadapannya.

***

Kuedarkan pandang ketika sampai di sebuah rumah kecil nan pengap yang terletak di sebuah gang sempit. Ada tiga etalase yang menyambut ketika aku dipersilakan masuk melalui ambang pintu yang tampak kusam. Ada sebuah kepercayaan diri yang tiba-tiba timbul di dalam dadaku ketika pemuda bertubuh gempal menyodorkan plastik berisi serbuk putih dari balik etalase.

“Ini serbuk kokain, narkotika anti depresan,”

Setelah itu, aku hanya mengangguk lemah dan menyuruh pemuda tersebut untuk memberikanku dosis yang cukup tinggi mengingat depresiku sejak empat hari lalu tak kunjung sembuh. Selanjutnya kualihkan pandangan ke arah etalase yang lebih tinggi dari yang lainnya; menelaah setiap jenis botol berisi cairan berwarna bening dan berbagai varian pil yang tergeletak rapi di dalamnya.

Aku tersenyum, membayangkan penderitaanku yang setelah ini akan sirna karena mengonsumsi obat-obatan mujarab ini. Hanya sekali saja, biarkan aku memilih sebuah jalan yang kusukai; melupakan si brengsek Serenade tanpa harus menunggu untuk waktu yang lebih lama.

Tanpa menunggu waktu bergulir, segera kusudahi acara negosiasiku dengan si bandar. Di dalam kresek yang kuterima, ada sebuah suntik yang bisa kugunakan untuk mentransfer putaw ke dalam tubuhku, kemudian pil Lysergic Acid, opium, dan botol-botol yang aku sendiri masa bodoh dengan namanya.

Aku pun menguntai langkah menembus kegelapan malam dan bersumpah untuk berpesta sepanjang hari dengan barang-barang tersebut.

***

Keremangan tengah melingkupi seisi kamarku seharian ini. Kuhabiskan waktu untuk mengurung diri tanpa membuka jendela dan tidak membiarkan sinar mentari meloloskan diri untuk menembus kegembiraanku dengan obat-obat yang berserakan di atas lantai.

Aku sendiri terduduk lunglai sejak kemarin malam sambil bersandar pada cermin almari. Mataku berkunang-kunang, kepalaku sangat pening, jantungku seperti sukar untuk memompa darah. Namun, lain dari itu semua, ada secercah kebahagiaan yang bersarang di dadaku. Meskipun fisikku masih agak kaget dengan datangnya zat-zat terlarang tersebut, namun hal itu tak menghalangiku untuk terus-menerus tersenyum.

Ada bayangan Serenade yang berputar-putar di dalam kepalaku; bagaimana ia menolakku mentah-mentah malam itu, dan bagaimana gembiranya diri ini ketika kutenggak dua pil sekaligus yang kemudian meluncur ke dalam kerongkongan. Rasanya sangat amat menggembirakan.

“Rena-ya ….”

Kuucapkan sekali lagi nama gadis itu, dengan suara serak yang perlahan melemah. Total ada enam pil, empat bungkus serbuk kokain, dan satu suntikan putaw yang berhasil membuat tubuhku menggelinjang sejak kemarin malam. Perlahan, dengan sisa kekuatan yang ada, tanganku bergetar untuk meraih jarum suntik bekas yang beberapa jam lalu kutembuskan menuju urat nadiku. Dari salah satu botol yang paling kecil, kusedotkan cairan itu ke dalam sebatang suntik yang tengah kupegang, lantas mendorong jarumnya di udara; membuat cairan tersebut memancur keluar.

“Rena-ya!

BEDEBAH!

Jarum suntik yang berhasil menembus urat nadiku sekonyong-konyong meleset ketika suara lembut Serenade tiba-tiba terdengar. Pergelangan tanganku berdarah. Aku menghentak-hentakkan kedua kakiku yang berselonjor sambil meneriakkan nama Serenade sampai kurasa pita suaraku mati rasa.

Akh ….

Suara itu hanyalah halusinasi.

Aku meringis, menggelinjang samar ketika berhasil memasukkan cairan tersebut lebih dalam dan lebih dalam. Keringat membanjiri wajahku, dan kupejamkan kedua mata erat-erat ketika kepalan tanganku tak lagi memiliki kekuatan untuk menahan sakitnya jarum suntik yang bergesekan dengan kulit.

Aku tak kuat lagi. Kuputuskan untuk menyudahi semua acara ini dan memilih untuk mengatupkan kedua mata sambil merasakan desiran zat berdosis tinggi yang mengalir di setiap inci pembuluh darahku.

“Kuharap … kau … menyesal … dengan … perkataanmu, Rena-ya ….”

“DONGHYUN-AH!

Tak berselang lama ketika lengkingan gadis yang kukenal memenuhi seisi kamar, pandanganku menjadi gelap gulita.

****

“Donghyun-ah, sadarlah, Nak ….”

Kukerjapkan kelopak mata yang terasa berat untuk membuka. Ada bayangan sosok wanita paruh baya yang pertama kali ditangkap oleh netraku, setelah itu semuanya terasa sangat kabur ketika aku mencoba untuk bangkit dan duduk.

“Jangan paksakan dirimu, Donghyun-ah.

Aku menunduk agak lama sembari memijat pelipis dan pangkal hidungku. Ada aroma menyengat yang menguar dan rasa pegal di sekujur tubuhku. Kukernyitkan dahi ketika memandang ke arah sinar matahari yang menembus bingkai jendela. Rasanya diriku seperti sudah lama terbelenggu di dalam suasana suram dan pengap, sehingga membuatku tak ubahnya seperti zombie yang mencoba untuk bertahan hidup.

Aku mengerling ke arah wanita yang tampak memandangku resah. “Bibi Nam?”

Bibi terlihat mengucapkan serumpun syukur ketika melihatku sadar dan menatapnya lekat-lekat. “Tidak apa-apa, Donghyun-ah. Semua akan baik-baik saja,” ucapnya seraya menepuk pundakku pelan.

Penuturan Bibi Nam membuatku tersadar akan suatu hal. “OBATKU?! DI MANA OBAT-OBATKU?!”

“Donghyun—“

“BIBI! BERIKAN SEMUANYA PADAKU!”

Kubentak Bibi Nam habis-habisan. Tidak. Tidak boleh. Aku tidak boleh melewatkan waktu berhargaku untuk diam saja. Pikiranku sudah kalang-kabut tak menentu. Kuremas-remas rambutku, kemudian menjambaknya kuat-kuat dilanjut menolehkan kepala kesana-kemari untuk menemukan sebuah kresek berisi barang-barang pestaku kemarin siang.

Namun semuanya nihil.

Aku mengerang frustasi. Kulesatkan pandanganku ke arah Bibi Nam yang tengah menangis sambil menahan pundakku untuk tidak melakukan pergerakan yang berlebihan.

BAJINGAN!

Tungkaiku sudah menjejak ubin dan menyusuri satu per satu sudut kamar untuk menemukan barang-barang tersebut. Mulutku tak henti-hentinya berkomat-kamit dengan segumpal sumpah serapah yang meluncur. Saat kurasa tenaga yang kukerahkan sia-sia, segera kuhampiri Bibi Nam yang terdiam nanar di samping ranjang.

“DI MANA KAULETAKKAN OBAT-OBATANKU, HAH?!”

Bibi Nam menggeleng. Tidak ada yang mampu ia lakukan kecuali berkata, ‘Kumohon berhentilah, Donghyun-ah, itu semua dapat membahayakan nyawamu.’

“JAWAB AKU, BI!” bentakku sekali lagi sambil menarik kerah baju Bibi Nam kuat-kuat. Sialan, si tua bajingan ini benar-benar membuat amarahku meluap hingga ubun-ubun. Apa yang bisa ia lakukan selain menahan tangis saat melihat anak asuhnya kesusahan seperti ini?

“CIH!”

Kalau saja iblis sudah merasuki jiwaku, sudah kupastikan bogeman mentah melayang di wajah keriputnya. Urat leherku seperti keluar dari tempatnya ketika aku berteriak kesetanan. Segera kutinggalkan Bibi Nam, dan beralih membuka laci nakas dengan gusar. Namun yang kudapat justru sebagian foto masa laluku dengan Serenade yang belum sempat kuremas hingga berakhir di tong sampah seperti nasib selembar polaroid kemarin.

“AKHHHHHH!” Kuhempaskan tubuhku di atas kasur setelah menendang nakas serampangan. “KEPARAT!”

***

Peduli setan macam apa ketika Serenade dengan entengnya bicara bahwa ia sangat khawatir dengan keadaanku yang seperti ini. Benar-benar bedebah! Semua orang seakan tidak lagi percaya denganku, seolah aku adalah seorang pemuda yang sewaktu-waktu bisa mencelakai kehidupan mereka.

Aku benar-benar bisa gila dan kehilangan kendali atas diriku sendiri.

“Kim Donghyun. Aku ini sahabatmu. Aku tidak rela melihatmu hancur seperti ini. Sahabat mana yang mau membiarkan sahabatnya terjerumus dalam lingkaran setan yang tak ada ujungnya? Please, Donghyun-ah. Sangat tidak masuk akal kalau kau sampai menghancurkan hidup serta masa depanmu hanya karena seorang gadis, hanya karena cinta ….”

Ucapan Serenade saat kutemui di rumahnya barusan menyiratkan bahwa ia benar-benar tidak sadar bahwa segala sesuatu yang kulakukan akhir-akhir ini adalah sebagai bentuk pelampiasanku padanya. Andai saja ia lebih bisa memahami perasaanku, andai saja perkataannya tak membuat hatiku terluka, andai saja aku sadar jika selama ini ia hanya mempermainkanku—sudah pasti aku akan hidup damai sampai detik ini.

Aku memukul setir mobil berkali-kali dengan penuh amarah. Setumpuk emosi membendung tinggi, membuatku menangis sejadi-jadinya. Kuhempaskan punggung untuk bersandar di kursi kemudi kemudian mengemban oksigen dalam-dalam. Mengisi keyakinan untuk bersumpah dalam hati agar tak lagi pulang dan bertemu Serenade untuk selama-lamanya.

Setelah itu, kubanting kemudi ke lajur kiri dan melaju dengan kecepatan penuh; berhadapan dengan sebuah truk yang tengah melesat dari arah yang berlawanan.

DUAHRKKK!!!

Bagus, sekarang sudah tidak ada lagi Kim Donghyun yang mengganggu kehidupanmu, Ren.

.

.

Your arms are now just a dream
Your scent is now my breath
My breath is quickening
The flowing tears swallows me up
Thorns rise up above me
Covering this thorny story
The end of us

— fin —


A/N :

Aduh ga baik lho mau lebaran malah ngumpat-ngumpat *joget alpaca ala Youngmin*

Advertisements

6 thoughts on “Cocanophilia (Donghyun’s Side)

  1. Yaampun wkwkwkwkkwk donghyun kamu tuh ya yaallah nangis beneran nih

    Nak dek mas bro sayang, kalo make obat obatan juga gabakal bikin sere suka dan nerima kamu nak yaampun:’) mending ama tia yang setya menamany. Bagus ficnya don aku suka aaaaaaaaaa sejak kapan kalian merencanakan ini semua wkwkwkwkkwkwkwk ku kira tadi apa disuruh cek blog bla bla bla.

    Makasih kejutan hari ini ku senang sekali dannnnnnnnnnn

    Tunggu ya pembalasannya wkwkkwkwkw, ily ka!!!🍭❤💓💟

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s