The Café Routines

yangmen

Written by thehunlulu ©2017

1 FOR 2 CHALLENGE WITH NINEGUST

Starring by PD101 S2 (Brand New Music Trainee) Im Youngmin & OC Genre Romance, Fluff, Coffee Life!AU Length Vignette Rating PG-13

“Jangan pikirkan apapun

Jangan katakan satu katapun

Tertawa sajalah denganku.” –Butterfly by BTS

***

Alice menatap lurus barisan pengunjung kafe yang tengah mengantre di depan meja kasir. Rungunya sayup-sayup masih mendengar tempias hujan yang berduyun-duyun turun, menimbulkan percikan teratur pada bingkai jendela di sampingnya. Jemarinya saling bertaut, dengan kedua siku yang bertumpu di atas meja bulat berwarna mahoni tersebut.

Ada segelintir perasaan cemas yang merundunginya sejak ia menjejakkan kaki di kafe ini. Bukan rasa cemas lantaran hujan yang tak kunjung reda atau laporan praktikum yang jauh dari kata rampung, bukan itu semua. Ini lebih kepada situasi di mana ia masih mengharapkan kehadiran seseorang yang senantiasa menemaninya kala berkunjung ke tempat ini.

Lantunan musik klasik yang mengalun seirama dengan ketukan kedua ujung kakinya tak lantas membuat Alice mengalihkan pandang dari banyak insan yang berlalu-lalang menyebrangi jalan. Kedua manik yang ia alihkan guna menilik arloji di tangan kanannya pun menemukan bahwa saat ini sudah pukul empat lebih lima belas menit sore. Hujan yang bertandang tak kunjung reda, menimbulkan sensasi magnetik pada tubuhnya agar tetap bergeming di ujung ruangan; menyesap hot cappuccino sembari merehatkan pikiran dengan memanjakan kedua telinga untuk mendengarkan karya-karya andalan Beethoven.

Mula-mula, Alice berinisiatif untuk melanjutkan rangkuman mata kuliahnya tadi siang dengan mengeluarkan buku catatannya dari dalam tas, namun tiba-tiba seorang waiters bercelemek abu-abu mendatangi mejanya dan menaruh secangkir green tea latte di atasnya.

Alice terdiam sesaat. Ia menghirup sekilas kepulan asap kecil yang mengudara dari cairan berwarna hijau tersebut; membiarkan semerbaknya menjamah setiap rongga hidungnya. Lantas, tak lama kemudian, gadis itu mencegah sang waiters untuk kembali ke konter barista.

“Maaf, tapi aku tidak pesan ini. Mungkin kau salah me—“

“Aku yang pesan.”

Alice sontak menoleh, presensi lelaki berpakaian simpel—kaus oblong putih berbalut kemeja kotak-kotak dan ripped jeans—tengah berjalan dari meja kasir. Lebih tepatnya, mendekati Alice yang tengah membulatkan kedua matanya sempurna.

Im Youngmin; pemuda itu semakin memangkas distansi yang tercipta di antara mereka berdua. Alice terbungkam seribu bahasa, netranya mengikuti setiap pergerakan Youngmin yang kini sudah menjejakkan kaki tepat di depan Alice; membuat gadis tersebut mendongak. Sementara Youngmin, pemuda itu mengulum sebuah senyum, mengundang Alice untuk ikut tersenyum secara impulsif.

Long time no see, Alice Kim.”

Alice membeku, seperti robot rusak. Pita suaranya bagai tercekat, lidahnya sangat kelu untuk sekadar menimpali sapaan Youngmin.

Singkatnya, Alice tidak paham dengan situasi yang datang secepat ini.

“Boleh aku duduk di depanmu?”

Senyuman Alice luntur, setitik lautan teduh tampak jelas di kedua irisnya. Ia mengangguk kemudian. “Silakan.”

Piringan kisah yang sangat klise; ketika salah satu di antara mereka mulai membuka suara, saling menanyakan kabar satu sama lain, bertanya tentang kebiasaan masing-masing apakah masih senantiasa melekat pada dirinya, sampai memutar kembali memoar tentang hal-hal yang dibenci oleh si lawan bicara.

Bagi Alice, Im Youngmin tetaplah sosok pemuda yang sama seperti setahun yang lalu; humoris, hangat, tipikal laki-laki yang tidak sukar untuk memecah kecanggungan yang melingkupi, serta memiliki cara pendekatan yang terbilang cukup unik sehingga mau tidak mau Alice pun diam-diam merasa nyaman dengan kehadirannya.

“Masih suka minum kopi?”

Di luar hujan semakin deras, namun pertanyaan retorik dari Youngmin menimbulkan kehangatan tersendiri bagi sosok Alice, sehingga gadis itu menjawab dengan anggukan pelan. “Masih. Seperti yang kau lihat kan? Secangkir hot cappuccino untuk pembeli yang selalu menempati bangku di ujung kafe—sambil memandangi orang-orang yang berlalu-lalang setiap pukul empat sore.”

Youngmin membalas dengan kekehan ringan. Pemuda Im tersebut menganggukkan kepala seolah masih ingat dengan kebiasaan Alice yang tidak pernah berubah dari satu tahun yang lalu. Ia meraih cangkir berisi green tea latte yang tak lagi mengepulkan asap kecil dari atas meja, lantas menyesapnya sedikit. “Ingat tidak, kita dulu sering sekali pergi ke tempat ini. Frekuensinya sampai—hm, lima kali seminggu, ya?”

“Mungkin lebih dari itu?”

“Oh, apa kau ingat saat ponselku tercebur ke dalam kolam ikan saat di kampus? Aku sampai meminjam ponsel milik seorang waiters untuk memastikan bahwa kau baik-baik saja selama perjalanan ke sini. Kalau tidak salah itu kali keenam kita pergi kemari dalam satu minggu,” timpalnya diiringi ekspresi yang menyiratkan: serius aku benar-benar malu saat itu.

“Ah ….” Alice tampak merotasikan kedua bola matanya, sedikit tergelitik untuk tidak tertawa sumbang mendengarkan penuturan Youngmin. Tentu saja gadis itu ingat, ketika Youngmin dengan setumpuk tugas di atas meja tengah memutar kepalanya kesana-kemari untuk menemukan sosoknya di tengah keramaian; berharap gadis itu dapat membantunya mengerjakan deadline yang semakin dekat.

Kalau Alice boleh menambahkan, mereka berdua sering sekali mengunjungi kafe ini ketika hujan turun; duduk di bangku yang sama, dengan kedua netra yang sama-sama berkelakar keluar jendela untuk sekadar memastikan apakah hujan sudah reda, sehingga mereka bisa kembali pulang bersama-sama.

Senyuman tipis kembali terukir pada ranum Alice. Kedua sudutnya terangkat. “Kau tetap sama ya. Green tea latte dan itu,” ucapnya sambil mengarahkan dagunya untuk menunjuk jari tengah dan telunjuk Youngmin yang mengetuk-ngetuk permukaan meja seirama dengan lantunan musik. “Sama sekali tidak ada yang berubah,” lanjutnya.

Youngmin mengubah posisi duduknya. Ia berdiri sedikit dan menyeret kursinya ke depan. “Tidak juga, tuh. Ada yang berbeda dariku tapi kau saja yang tidak tahu.” Youngmin mengedikkan bahunya.

“Sekarang kauterlihat gemar sekali berahasia, ya?”

See? Penggemar green tea latte selalu penuh dengan rahasia, Nona Kim.” Youngmin menyeringai jenaka. Sesaat menyesap kembali minumannya sampai tersisa setengah cangkir sambil mengerling ke arah Alice, lantas pemuda itu kembali berucap, “akan kuberitahu satu hal tentangku tapi kau tidak boleh meresponsnya, also, please keep your thought inside your head, ok?

Ada sepercik déjà vu yang kini singgah di pikiran Alice; hatinya seperti terbawa oleh angin yang kemudian menerbangkannya ke masa lalu, di mana sosok Youngmin menatap kedua matanya lekat-lekat, saling bertukar perasaan dengan konteks cinta yang terjalin di antara keduanya. Dan sekarang, kehadiran Youngmin secara tiba-tiba itu menimbulkan sebuah pengharapan yang kemudian bergumul di dalam otak Alice.

Mendadak ia menyesal mengapa harus berpisah dengan pemuda sehangat Im Youngmin dua belas bulan yang lalu.

“Honestly ….” Youngmin menundukkan sedikit kepalanya, tampak mengemban oksigen dalam-dalam. “I still miss you.”

Alice hanya mampu terdiam mendengarnya.

Sedangkan jeda yang tercipta digunakan Youngmin untuk terkekeh pelan, kedua matanya terfokus pada satu titik sambil mengetukkan jemarinya pada permukaan meja; sama seperti Youngmin yang dulu, namun kali ini frekuensinya sedikit lebih cepat dan tampak resah.

“Kau gugup ya?” Alice pada akhirnya buka suara, situasi yang tiba-tiba berubah menjadi dingin membuat gadis Kim tersebut paham betul kebiasaan yang akan dilakukan Youngmin saat ia benar-benar gugup.

Jemari Youngmin beranjak, sedikit demi sedikit mulai menggenggam buku-buku jari Alice. “Kau tidak ingat apa yang selalu kaulakukan untuk menghentikan kebiasaanku mengetuk-ngetukkan jari di atas meja?”

Youngmin-ah, ingin sekali kugenggam tanganmu yang dingin itu. Namun apa arti itu semua jika tidak ada lagi korelasi yang terjalin di antara kita?

“I miss how the way you overcoming all of my fears, sejujurnya aku masih tidak tahu bagaimana cara mengawali pertemuan kita setelah satu tahun tidak saling bertukar kabar, juga apa rutinitas yang kaulakukan selama ini—apakah masih dengan kebiasaan menyesap hot cappuccino di ujung kafe sambil melempar pandang keluar jendela—dan ternyata itu semua masih melekat pada dirimu. Well, di mataku, tidak ada yang berubah darimu selain kursi kosong yang ada di depanmu setiap kau datang kemari.” Youngmin menenggelamkan senyumannya, walau terlihat sangat tipis. Ia kembali melanjutkan, “apa kau tidak ingin tertawa melihat kebiasaan burukku belum sepenuhnya hilang, huh?

Alice spontan terkekeh. “Untuk apa? I still love you just the way you are, Youngmin-ah.”

— fin —


Well, saya nggak tau ini cerita macem apa /.\ lagi webe parah, tapi Tia ngajakin challenge based from satu prompt yang sama terus ditulis sendiri-sendiri jadi cerita gitu AAAAAA TIA SAYA GABISA SAYA GABISA INI MELANKOLIS SEKALI ((efek webe yang tak kunjung reda))

OH IYA JANGAN LUPAKAN JEPRETAN MASTERNIM DI ATAS YANG FF-ABLE SEKALI HUHUHU IM YOUNGMIN KENAPA KAMU BEGITU MEMPESONA MAS TT^TT

Udah segitu aja, mind to review?

-thehunlulu♥

Advertisements

6 thoughts on “The Café Routines

  1. ABSJSHSJSJEJ BILANGNYA GAADA IDE LAH, GAADA STOK KATA KATA LAH APALAH

    INI APA HAH

    GEMES SENDIRI YA:-)

    sumpah gatau mau berkata apa yang jelas saya baper ok makasih. SEMOGA SOON BISA BIKIN TIA X MUDAMIN:-)

    btw don

    Masa kangen bibi marki dan seluruh staffnya

    /Dipukul/

    udah bodo amat ceritanya ngambek soalnya eksekusinya sebagus ini.

    b y e

    Liked by 1 person

    1. soon ya tiii soon bikin tia x mudamin—SETELAH BOI BUBAR.

      /dibuang/

      well, gara2 kamu aku jd pusing gini bhai. salam sayang dari bibi marki dan seluruh staffnya

      makasih sudah mampir.
      saya kapok bikin challenge sama kamu.

      salam jinjja yerobun.

      Liked by 1 person

  2. BERISIK KAMU GA USAH BILANG WEBE PARAH KALO EKSEKUSI PLOT UDH CEM NULIS NOVEL

    Sik ini mba alice sm mas yongmen mantan ceritanya?

    Eh tp tau ga si don hal pertama yg kulakukan sblm baca ffmu apa? Nyari lagu ngebeat. Just in case ini baperin bkin nangis lagi. Hahaha taunya ga anjir ini mah bkin ngefly meski biasku bkn mas yangmen tp saya baper otoke..

    Nice fic donjah keep writing yhaaaa

    Liked by 1 person

    1. HEHEHEHEHEHEHEHE KAKCE DIKAU MEMBUATKU NGEFLY /digampar beneran/

      iyaashh, alice dan youngmin mantan kak hwhwhwhw abis getau lagi ini pikiran bawaannya pengen bikin mereka angst tapi kok gagal :”)

      wkwkwk makasih syuda mampir mom! ❤

      Liked by 1 person

  3. WAH MAS YANGMEN :’)) YA YA YA DAN AKU BACA NE MALAH NGEFLY SENDIRI… MANA MASIH SUBUH LAGI…

    ga tau lagi kudu ngomong apa, ini terlalu epic untuk di komen :” aku jadi ikut baper baca nya :))

    sekian .
    ❤ keep writing don

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s