Di Bilik Penantian

tumblr_oq9s92Jq5C1tr4f4oo1_540

Written by thehunlulu ©2017

“Bulan, sampaikanlah salamku padanya. Jangan bilang rindu, karena pasti tak akan terbalas.” —prompt by ninegust

::::

[1]

Di balik rindu yang kian menghujam, di setiap sobekan halaman berisi serumpun frasa kasih, di titik kala penantian berlabuh menjadi kerinduan, semua akan berakhir dengan cerita yang sama. Mematri angan, melewati setapak kenangan, melompati takdir yang terlanjur memisahkan kita.

Jeon Wonwoo.

Kapan kita kembali dipertemukan?

Aku merindu. Menyudutkan rasa ‘sayang’ yang masih memeluk erat diriku, berlari semampu yang kubisa selagi ingatanku akan dirimu perlahan sirna, terhempas oleh angin tanpa tahu ke mana perginya. Namun, ocehan jenakamu kala itu kembali menghantui segenap pikiranku; sembari tersenyum kecut, sosokmu berujar, ‘Aku harus pergi, carilah pria yang lebih sempurna dariku, yang lebih bisa membuatmu tersenyum saat kehadiranku tak lagi kaubutuhkan.’

Sesingkat itu.

Apa aku salah jika harus mencintaimu dalam diam, Jeon Wonwoo?

Karena cinta tak melulu bertindak.

Tak melulu menampakkan visualnya; dikarenakan kinerja hati yang tidak boleh diganggu gugat.


[2]

Lima belas detik terbuang sia-sia.

Sekon berikutnya, kesadaranku perlahan pulih setelah kau menyuarakan kalimat perpisahan saat itu. Tak peduli airmata yang mendobrak pertahananku, tak peduli betapa perihnya batinku, kau tak ubahnya seperti seekor tupai yang sangat pengecut di mataku. Singgah untuk sejemang demi kesenangan semata, lantas melompat tanpa permisi ke sebuah tempat yang lebih rindang; mungkin saja—semoga aku salah—seorang gadis sedang menunggumu dengan beribu-ribu cinta di luar sana.

“Aku tahu kau tidak lebih bahagia saat bersamaku, kan?”

Jemariku melemas, tak merasa bergairah untuk mengaduk caramel macchiato yang masih panas di dalam cangkir berwarna putih pualam yang terletak di atas meja. Beruntung kafe malam itu ramai, sehingga atensiku lebih mudah buyar dari sosokmu dan beralih menatap kerumunan anak kecil di meja seberang.

Uh, oh—sesakit inikah?

Lelaki pengecut.

Jemari dinginmu terulur, lantas menyelipkan suraiku ke belakang telinga. Mungkin, kau berharap agar dwimanik kami bertemu, saling menatap satu sama lain tanpa keraguan untuk terakhir kalinya. Bersama-sama menghapus kepercayaan yang selama ini kita jalin, walau kenyataannya airmataku lah yang berhasil kauhapus.

Sudah tahu aku sakit karenamu, mengapa kau tetap saja melakukannya?

Lihatlah, Jeon Wonwoo, kelopakmu meluncurkan setetes airmata pada akhirnya.


[3]

Sekarang aku tahu, kepergianmu pastilah karena salahku. Bodohnya, aku baru menyadari betapa berharganya dirimu setelah kau pergi, betapa berartinya sosokmu dalam mewarnai hidupku, betapa klisenya perjalanan kita yang baru saja dimulai—yang belum jauh dari garis start.

“Halo Jeon Wonwoo …,” panggilku serak seraya bergerak ke samping kanan, meletakkan selembar kertas usang—yang entah bisa tersampaikan padamu atau tidak—di hadapanku.

Aku tetap berjongkok, membelakangi angin sore yang terasa menusuk sampai ke tulang rusuk, lantas bergumul sejenak dengan pikiranku sendiri.

“Pasti surga lebih indah dari dunia, kan? Iya, di sana tidak ada aku, tidak ada gadis yang tidak peka sepertiku, pasti di sana kau ditemani bidadari-bidadari cantik yang selalu memberimu kasih sayang tanpa henti …,” monologku dalam sunyi seraya menenggelamkan kepala pada sebuah tundukkan dalam, ditemani airmata penyesalan yang tumpah ruah mendobrak pertahanan.

“Ya Tuhan …,” ocehku samar sambil memosisikan serumpun melati agar tertata apik di depan nisanmu. “Kalau saja aku mengesampingkan tangisanku saat itu, aku bisa bertanya padamu ‘Mengapa kau tiba-tiba seperti ini, Won?’ atau memilih untuk mendengarkan alasanmu dengan saksama. Aku sama sekali tidak tahu kalau kau tengah menderita karena masalah kesehatanmu yang lambat laun kian melemah. Maafkan aku … dan terima kasih karena telah mengizinkanku untuk mengenal sosokmu lebih dalam walau dalam situasi kau sudah berada di alam yang berbeda denganku sekalipun ….”

Entahlah. Mungkin Tuhan telah mengutukku agar—seberapa besar—salam pun kerinduanku untukmu tak akan pernah tersampaikan.

Namun, masih ada bulan yang senantiasa bersinar di pelukan malam.

Maka biarkan bulan menyampaikan salamku padamu, Jeon Wonwoo.

Hanya salam. Bukan rindu.

Karena rinduku pasti tak pernah terbalas.

Selamanya.

-fin.


  1. Kuucapkan selamat comeback buat para sebong! Maaf Wonwoo kupinjam dirimu sebentar karena rapp-mu baperin banget uh demi apa TT_TT
  2. Makasih Sintia buat promptnya! Semoga aku nge-eksekusinya ga fail ya, dear :’)
  3. Mind to review? 😉
Advertisements

6 thoughts on “Di Bilik Penantian

  1. hah

    haduh angin apa yang menusuk dalam dada malam malam begini. demi jimin yang playboy cap kejut jantung.

    Namun, masih ada bulan yang senantiasa bersinar di pelukan malam.

    Maka biarkan bulan menyampaikan salamku padamu, Jeon Wonwoo.

    Hanya salam. Bukan rindu.

    Karena rinduku pasti tak pernah terbalas.

    Selamanya.

    HEOL

    kamu ini penyair ya?

    BELAJAR DARI MANA WOI

    DASAR GILA
    SINTING
    GAWARAS

    BERANI BERANINYA BIKIN ANAK ORANG YANG UDAH BERJODOH DENGAN KIM MINGYU ((salah)) DIGODA OLEH PESONA JEON WONWOO!

    WTF INI MENGGELIKAN APANYA, GUA KIRA WONWOONYA ITU DI JODOHIN ((pulang,sin)) PLIS W GATAU LAGI HARUS APA HUHU MENGGILA KARENA SUARA WONWOO EARGASM ABIS! GANTENG JUGA! APAKAH INI YANG DINAMAKAN JODOH?!

    JEON x SINTIA?!

    yaampun ya, emang jagonya bikin suasana hati orang sad angst. nauzubillah minzalik sumpah kesel banget anjir, gua kira malem malem mau dikasih kejutan kayak si seongwoo itu! HUFT! DASAR!

    POKOKNYA INI BAGUS SIH BODO

    HEOL GUA MASIH BAYANGIN WONWOO NGAPUS AIRMATA SAMBIL MENANGIS BOMBAY DALAM PANDANG ANJIR PASTI ALAY BANGET GAKUAT TT^TT TAPI TETEP ALAYAN TAEMIN ((slapped)) POKOKNYA W BALES SIH INI BENERAN, KALI INI GUA BENERAN.

    B E N E R L O H

    btw hm

    semangatin buat keep writing tida ya

    bilang ayaflu ga yaaa

    Liked by 1 person

    1. thanks for reading 🙂

      ini lagi, udah dibikinin wonwoo, sad, malah dibilang sinting :’) akutu kurang apaya, udah nurutin semua keinginanmu tapi kamu malah mencampakkanku dengan sebegininya ti—surti—eh salah :’)
      yha pokoknya puja kerang ajaib aja lah ya, maap aku nulisnya begini2 mulu HA HA HA HA .

      GA DING, ITU TADI BERCANDA WKWKWKWK!

      EH BTW RAPP NYA WONU BIKIN TUMBANG DI TEMPAT YA SIN WAHAHAHAHA, WELCOME TO DIMANA KENIKMATAN DUNIA DAPAT DIRASAKAN HANYA DENGAN MENDENGAR SUARANYA OPPA HE HE HE /gelinding/
      WONU NGEHAPUS AIRMATA UNCH AKU JUGA MAU KALO GITU :’)

      AYAFLU!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s