Sepekan yang Semu

tumblr_opoxp6FLnS1sfano3o1_1280

Written by thehunlulu ©2017

SEPEKAN YANG SEMU

Starring by [Produce 101 C9 Trainee] Bae Jinyoung & You Genre Friendship, Sad, Supernatural, AU! Length Vignette Rating General

“Sudahkah kau bersyukur hari ini, Jinyoung-ah?” —prompt by ninegust

::::

Namanya Bae Jinyoung.

Genap tujuh belas tahun yang lalu ia dilahirkan. Aku baru mengenalnya selama satu pekan, namun aku yakin, dengan waktu sesingkat ini, aku dapat mengenal dirinya bahkan lebih baik dari siapapun. Dia hangat, penuh perhatian, memiliki taktik unik kala aku dirundung gelisah. Pemuda Bae tersebut selalu menjadi insan pertama yang akan menghiburku saat aku butuh pelampiasan untuk mengutarakan keluh kesah. Pun, ia juga tidak pernah bosan jika selalu mendengar seluruh ocehanku dari sore bahkan sampai larut malam sekalipun.

Bae Jinyoung, seorang pendengar yang baik.

Hari ini, tanggal sepuluh Mei, adalah hari kelahirannya. Hari di mana Tuhan mempersilakannya untuk menyapa dunia, memberi semangat juga kekuatan untuk orang-orang terdekatnya.

“Oh? Jinyoung-ah, kenapa meringkuk di atas kasurku begitu?” tanyaku, bahkan sebelum aku sempat menembus ambang pintu kamarku.

Jinyoung yang biasanya ceria, yang menyambutku dengan berbagai candaan saat aku pulang sekolah, yang selalu mengomel saat aku meletakkan sepatu serampangan, sekarang ia malah meringkuk di atas kasurku. Wajah pualamnya terpancar segelintir ekspresi risau, begitulah yang berhasil kuterka.

Lantas aku berjalan mendekatinya setelah menaruh ranselku di atas meja belajar. “Jinyoung-ah, ada apa denganmu?” tanyaku, sedikit berbisik.

Bukan. Bukannya aku jahat karena tidak mengingat ulang tahunnya. Hanya saja aku ingin memberinya sedikit kejutan, namun kurasa itu bukanlah hal yang tepat. Menilik polah Jinyoung yang di luar ekspektasi seperti ini membuatku agaknya iba dengan pemuda itu.

Apa mungkin ia ngambek lantaran aku melupakan ulang tahunnya?

Setelah beberapa jemang bergumul dengan pikiranku, lekas saja aku beringsut meninggalkan Jinyoung tanpa seuntai frasa yang mengudara.

“Jangan pergi …,” sergahnya lemah.

Ada apa ini? Kenapa Jinyoung mendadak membuatku khawatir seperti ini?

Memang benar, selama sepekan ini, Jinyoung-lah yang sering—ralat, selalu—menghiburku, menyeka airmataku agar tak lagi tumpah ruah, ataupun memelukku erat dengan sebongkah empati yang senantiasa ia berikan padaku. Ia tahu betul, aku adalah gadis lemah yang baru menginjak tujuh belas tahun sebulan yang lalu, seorang gadis rapuh yang belum bisa menerima kenyataan bahwa ibuku baru saja meninggal sekitar satu minggu yang lalu. Bersamaan dengan presensi Jinyoung yang tiba-tiba hadir ke dalam hidupku, mengulurkan bantuan tanpa pamrih, tanpa peduli pada dirinya sendiri bahwa—mungkin—ia juga mempunyai permasalahan batin yang terlampau pelik dariku.

Bae Jinyoung, ia adalah definisi malaikat yang sesungguhnya.

Malaikat yang Ibu kirim dari surga.

Jinyoung mendadak menumpukan kepalanya pada pundakku, tanpa permisi. Aku tidak keberatan, karena mungkin ini adalah waktuku untuk balik memberi empati padanya.

Jinyoung memejamkan matanya lantas bergumam, “Maafkan aku yang selama ini tidak bisa menjagamu dengan baik.”

Aku terkesiap. Dalam diam, kuseruakkan sebuah keingintahuan tentang keadaan Jinyoung saat ini. Namun nyatanya, hanya bungkamlah yang mendominasi kami berdua.

“Tak apa, Jinyoung-ah. Jangan merendah seperti itu, aku tidak suka. Dan—hei, kau menangis?”

Airmata Jinyoung berhasil membasahi seragamku. Ia terisak samar.

Kuulurkan tangan guna mengelus surai legamnya kemudian berujar, “Sudahkah kau bersyukur hari ini, Jinyoung-ah?”

Jinyoung sekonyong-konyong menegakkan kepalanya, lantas balik menatapku dengan tatapan yang teduh. Ia mengangguk kemudian.

“Nah, kalau begitu jangan menangis lagi. Aku sangat berterima kasih atas kehadiranmu selama ini, atas usahamu demi menghiburku dan membuatku tersenyum di tengah kesedihan yang masih terus mengikat batinku. Terima kasih untuk semuanya. Tidak ada kata sia-sia di kamus seorang Bae Jinyoung, mengerti?”

Jinyoung masih bergeming di tempatnya. Ia tampak menimbang-nimbang akan sesuatu. Sesuatu yang sedari tadi hendak diutarakannya, namun tampak tercekat saat ia nyaris membuka suara.

Sedetik kemudian, sebuah ide melintas di dalam otakku.

“Selamat ulang tahun, Jinyoung-ah! Happy sweet seventeen! Semoga Tuhan senantiasa memberkatimu!” ucapku seakan acuh akan perkataan yang nyaris Jinyoung lontarkan, sesaat setelah mengambil sebuah cupcake berhias parutan cokelat dari dalam tas, lantas mengeluarkannya dari kardus pembungkus. Tak lupa dua buah lilin berangka satu dan tujuh yang baru saja kunyalakan dengan korek api.

Senyum Jinyoung terkembang. Ini adalah senyuman pertamanya hari ini, hari Rabu yang amat berkesan baginya.

“Maafkan aku, bukannya aku lupa dengan ulang tahunmu. Hanya saja … aku memang sengaja membuatmu kesal dan menyiapkan kejutan kecil-kecilan untukmu.” Aku terkekeh ringan. “Cepat panjatkan permohonanmu!” pintaku kemudian.

Dapat kulihat sepasang iris Jinyoung yang tampak berkaca-kaca, sedangkan ranum merahnya masih belum melepaskan sebuah senyum simpul yang menambah kesan manis pada wajahnya. Ia bergerak agar lebih dekat denganku, lantas mengecup pipiku sekilas kemudian beralih untuk mengatupkan kedua tangannya dan mulai berdoa sambil memejamkan mata.

Astaga! Ada apa dengannya hari ini?

Aku mematung, merasakan debar jantung yang berpacu dengan ritme yang sulit dinalar. Saraf kendaliku seakan terbang dihentak angin, hingga akhirnya pertanyaan Jinyoung berhasil membuatku tersadar.

“Haruskah aku meniup lilinnya?”

“Harus!”

Jinyoung mendekatkan wajahnya ke arahku dan meniup lilinnya. Kami berdua lantas bertepuk tangan, kemudian ia menyubit kecil cupcake tersebut dan melahapnya. Aku memandangnya dengan penuh antusias. “Bersyukurlah karena kau diberi kesempatan untuk beranjak dewasa, Jinyoung-ah.”

Jinyoung lagi-lagi membalasku dengan sebuah senyuman. Mata kecilnya juga ikut tersenyum, membentuk sepasang bulan sabit yang begitu hangat. Hanya beberapa sekon bertahan, tak lama kemudian ia kembali meluturkan senyumannya.

“Ada apa, Jinyoung-ah?” tanyaku, masih dirundung rasa penasaran.

“Maaf …,” katanya, kali ini volume suaranya lebih pelan dari sebelumnya.

“Maaf? Maaf untuk apa? Kubilang jangan terlalu sering merendah seperti it—“

“Maaf karena aku harus berpamitan dengamu hari ini.”

DEG!

Pamit? Benarkah seorang Bae Jinyoung akan pergi dengan secepat ini?

“Pamit untuk apa, Jinyoung-ah? Bahkan kita baru bertemu selama satu pekan, tapi kenapa kau tiba-tiba ingin pamit begitu saja? Jangan bercanda seperti itu, aku tidak suka!” sergahku kasar, bermaksud untuk menyudahi candaan Jinyoung yang sama sekali tidak lucu. Dalam hati aku ingin sekali menangis, dan kuharap Jinyoung menarik kembali perkataannya.

“Tugasku sudah berakhir sampai sini,” Jinyoung berujar dengan lembut, seperti enggan membuatku menangis lagi.

“Haruskah? Haruskah kau pergi secepat ini, Jinyoung-ah? Bahkan di saat aku belum mengenalmu lebih jauh dan membalas seluruh kebaikanmu selama ini?” Tangisanku pecah, kutundukkan kepalaku dalam-dalam dan berusaha menampik kemungkinan bahwa Jinyoung akan pergi dan tidak akan pernah kembali lagi.

“Tidak perlu … kau tidak perlu membalasku. Karena ini adalah tugasku untuk menemanimu sepeninggal ibumu. Aku minta maaf karena tidak memberitahumu sebelumnya.” Jinyoung menepuk pundakku yang masih bergerak naik-turun tak berirama. Suaranya serak, ia tengah menahan tangis yang sebentar lagi tumpah, sama sepertiku.

Jadi … ini adalah alasan mengapa Jinyoung sedari tadi berpolah tak biasa? Aku terlanjur menyayanginya. Sebagai teman, sebagai gadis yang rapuh, sebagai seorang penyendiri yang baru saja memberikan sebuah kepercayaan pada seseorang. Bae Jinyoung … mengapa kau tega membuatku menangis untuk kedua kalinya karena kehilangan orang yang kusayangi?

“Jangan pergi, Jinyoung-ah … kumohon, tinggallah di sini untuk waktu yang lebih lama,” ujarku penuh penekanan, lantaran sosoknya kini tengah mendongak—berusaha menahan airmatanya agar tidak meluncur.

Dia, Bae Jinyoung, tidak ingin terlihat rapuh di hadapanku.

Lantas kualihkan atensi padanya, berkomunikasi dengan kedua netra kami dengan berusaha menyeruakkan kalimat, “Jangan tinggalkan aku sendiri, Jinyoung-ah ….”

“Kau tidak akan sendiri, percayalah padaku.”

“K-kau … baru saja menjawab pertanyaan dalam hatiku,” ucapku terbata.

Jinyoung mengangguk, airmatanya berhasil menembus benteng pertahanannya. Pipinya basah, ia benar-benar menangis saat ini. “Itu karena aku malaikat. Apa kau lupa? Aku selalu tahu apa yang ada di dalam pikiranmu, dan akan selalu memberimu kekuatan saat kau sewaktu-waktu bersedih.” Ia bergerak maju, menyeka pelupukku yang tak henti-hentinya menciptakan likuid bening. “Sekarang, kau jangan takut untuk sendiri lagi, ya?”

Aku menggeleng kuat-kuat. “Sehari saja, tinggallah di sini untuk satu hari kedepan,” pintaku.

Jinyoung menghambur guna memelukku erat, sangat erat. “Kau harus bisa hidup mandiri setelah ini. Oke?”

Jinyoung-ah … apa aku salah jika jatuh cinta dengan seorang malaikat?

Aku berharap sosok yang tengah memberiku kehangatan saat ini mendengar tangisan juga ucapan hatiku. Berharap sosok itu menjawab semuanya, dan aku juga berharap jika pertemanan hangat yang baru saja kita jalin akan berlangsung abadi.

Karena … aku tidak ingin seorang Bae Jinyoung hanyalah sekadar teman yang semu. Sekadar kawan yang hanya memberiku kekuatan dalam kurun waktu sepekan, bahkan saat aku mulai menyayanginya, mulai membagi secuil kepercayaanku padanya.

Bersamaan dengan itu, dekapannya melonggar. Netra kami saling bertaut, Jinyoung menyematkan sebuah senyuman simpul lantas mengusap pipiku sekilas. “Mulai saat ini jadilah gadis yang kuat, yang bisa membentengi dirimu sendiri dari segala kesedihan, dan jangan terlalu sering kalut ke dalam tangisan. Terima kasih atas ucapan ulang tahun dan kejutan darimu hari ini. Aku juga berjanji akan menjadi malaikat yang sama kuatnya sepertimu. Jadi … jangan khawatirkan aku, oke?”

Perlahan, setelah Jinyoung merampungkan perkataannya, ia memelukku sekali lagi, mengecup pipiku sekilas kemudian presensinya menghilang. Terhempas angin sore, meninggalkan sebuah jejak semu yang senantiasa menggantung di dalam angan.

.

.

Kapan kau akan kembali, Jinyoung-ah?

.

-fin.


  • Happy birthday, Bae Jinyoung! Happy sweet eighteen for you!
  • Waaaa, enggak tau ini apaaa :”) Ini super duper late birthday gift buat Jinyoung :’) Sebenernya di umur Korea dia udah 18 tahun yaa, hihihi tapi enggak papa deh dibikin sweet seventeen aja biar beda dari yang lain 😀
  • Buat Tia, makasih banyak promptnya! Maaf kalo enggak keeksekusi dengan berfaedah /halah/
  • Ini cerita dadakan, kawan. Gara-gara Kakcee sama Kak Bebe bikin birthday fic-nya Jinyoung, aku jadi gemes pengen bikin juga xD
  • Mind to review? 😉

Salam hangat,

thehunlulu♥

Advertisements

8 thoughts on “Sepekan yang Semu

  1. WAH AKU FIRST YA GAK SIH?

    GILA BANGET YHA, EMANG JINYOUNG HUHU JAHAT KAMU MAH AKU JADI GA RELA GINI KAN NENGGELAMIN JINYOUNG DENGAN EMBEL-EMBEL KESEL MASUK AVENGERS TEAM /DIBUANG/

    AH ELAH JINYOUNG MAH HUHU, MAAF TAPI SEUNGWOO SUDAH MENGGESARKANMU DARI SINGGASANA HATIQU, AREMANIA! /GANYAMBUNG PULANG/

    YA BIARIN AJA, KAYAK AKU INI KALIMAT RAMPUNG TERUS SI JINYOUNG JADI PENYEMPURNA. OKE JINYOUNG MAKASIH MALAMKU JADI LEBIH HANGAT,

    UNTUK DONNA

    AWAS KAMU YA BESOK

    !!!!

    Liked by 1 person

    1. YAAA EMANG TUJUANNYA GITU KAN, CERITA INI MENGANDUNG UNSUR PERSUASIF KARENA MENGAJAK ANAK ORANG UNTUK MENGASIHANI DAN MENCINTAI PEMUDA BAE SEPERTI DIA, YYYEAY! ❤ ❤
      uuunchhh, sini tia kamu tak peluk dulu karena berhasil mencintai Baejin walau cuma secuil wleee :p
      maaf ya, tapi Seongwoo sudah milik Donna, lantas bagaimana? :3

      btw makasi suda mampir yaaaa mwah ❤

      Liked by 1 person

      1. SEONGWOO MILIK DONNA YA?

        OKE, BERARTI GUANLIN TAK BAWA KABUR KE PULAU TERPENCIL BIAR KU NIKAHI AJA YA DISANA HAHAHAHAHAHAHAHHA BYE.

        KAMI SUDAH BAHAGIA

        BYE

        Like

  2. AMBRAY SUMPAH I LITERALLY SHED MY TEARS AT 1.30 AM BECAUSE OF THIS FIC!! Donjaaaahh… U should be responsible hwhwhwhwhwhww

    Eh tp serius ya astaga gimana ya aku dpt bgt feel dr fic ini… Rasanya kek bnran pisah sama org yg kita sayang banget, berat ngelepasnya… Nyesek dan pasti bakal rindu berat. Tp ya itulah hidup; ada pertemuan ada perpisahan #bijak

    NICE FIC DONJAAHH😘

    Liked by 1 person

    1. JANGAAAAN JANGAN NANGIS KAK, SILAHKAN TIUP LILIN AGAR BAEJIN MUNCUL DI HADAPAN ANDA /plak/
      nyesek ya kak, apalagi yg ninggal itu cowok yang imutnya bikin khilaf kaya baejin, ugh, pasti bakal kangen :”)

      btw makasih suda mampir dimari kakcee! ❤ ❤

      Liked by 1 person

    1. bhaak, jangan kak jangan diajarin eye contact nanti korbannya makin banyak TT_TT dan yes, ternyata Jinyoung tinggal di kahyangan ya, temennya mimi peri dong? /musnahdon/
      btw makasi suda mampir dimari yaaa, unch aku seneng bisa melihatmu lagi setelah sekian lama xD

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s