Engel des Meeres

PicMonkey Collage
moodboard material ©tumblr

Written by thehunlulu ©2017

Engel des Meeres

Starring by SF9’s Kim Rowoon & OC’s Pelangi Genre Fantasy, Romance, Fluff Length Vignette Rating General

“Kau tadi menemukanku saat pelangi muncul untuk pertama kalinya di musim panas.”

::::

Debar ombak membius bibir pantai, menimbulkan buih putih yang menerjang kedua mata kakiku. Diiringi senyum tipis, kurentangkan kedua tangan, menghirup aroma asin bercampur amis khas pantai sementara pandanganku menengadah ke atas—ke arah awan yang bergulung apik menyerupai sisik ikan.

Dulu sekali, ayahku sering bercerita tentang kemampuan prediksi orang-orang desa yang sangat mengagumkan. Salah satunya adalah ketika suhu udara mulai naik dan kolase awan berubah menyerupai sisik ikan, itu adalah pertanda baik bagi siapapun. Nelayan dapat dengan mudah mengarungi laut, mengejar asa yang sempat tertunda saat musim hujan beberapa waktu yang lalu.

Tapi itu dulu. Sekarang, manusia sangat sukar untuk sekadar menyatu dengan alam. Literasi itu muncul karena keserakahan manusia dalam mengeksploitasi alam, sehingga banyak bencana yang timbul dan mematahkan prediksi akurat orang-orang lampau.

“Pelangi.”

Sebuah vokal yang muncul di sela-sela hantaman ombak dengan terumbu karang membuatku berpaling. Lantas kucari sumber suara itu seraya memacu langkah tipis, kemudian menoleh ketika suara tersebut menguar kembali. Seketika diriku terkesiap. Sepasang irisku membola maksimal.

“Pelangi ….”

Segera kuambil ancang-ancang untuk berlari, menjauh dari lanskap pemuda yang tengah menumpukan kedua tangannya pada sebuah batu raksasa. Surai hitamnya agak berantakan dan poninya tersisir ke bawah dengan acak-acakan. Tubuhnya basah kuyup—aku tidak terlalu yakin karena hanya bagian leher sampai kepalanya saja yang mencuat dari balik batu.

“Permisi Tuan, apa kau baru saja memanggilku?”

Lazimnya jika pemuda itu memanggil namaku, seharusnya ia menatapku. Namun kali ini, pergerakan secepat apapun yang kubuat di hadapannya sama sekali tak membuatnya mengalihkan atensi.

Kudengar hantaman ombak semakin menjadi, lantas kuajukan lagi sebuah pertanyaan padanya, “Permisi apa kau ta—ASTAGA!”

Aku terjatuh dengan posisi terduduk. Kedua kakiku bergerak, nyaris merangkak setelah kusadari bahwa pemuda tersebut memiliki sebuah ekor bersisik biru keemasan. Lidahku terasa amat kelu untuk sekadar berucap saat netra kami saling bertumbukan pada akhirnya.

“Nona! Kau tidak apa-apa?”

Sosok jangkung itu melesat secepat kilat, tangan kirinya merengkuh pergelangan tanganku sementara tangan yang satunya ia gunakan untuk menahan punggungku. Irisnya biru; berkilau indah seperti berlian yang berpendar. Tubuhnya menguarkan aroma laut yang intensitasnya sedikit lebih tinggi. Ditambah dengan ekor kilaunya yang seketika lenyap, dan digantikan oleh sepasang kaki layaknya manusia pada umumnya. Pun, pakaian berwarna biru bercorak koral yang menjadi kostumnya saat ini.

“K-kau … bukan manusia …,” lirihku terbata sambil mencengkeram erat tautan jemarinya. Kendati begitu, aura yang terpancar dari mata berliannya mengisyaratkan bahwa ia bukan orang jahat, bukan makhluk yang akan menyakiti seorang gadis sepertiku.

Ia menggeleng sambil melempar senyuman tipis. “Seperti yang kaupikirkan, Nona. Aku memang bukan manusia,” ujarnya, kemudian memapahku untuk duduk di bawah pohon kelapa yang menyiur pelan mengikuti arah angin.

Entah mengapa perasaan takut yang ada di dalam diriku tiba-tiba hilang. Seperti menguap dan berkelana jauh tanpa ingin kembali. Aku memperhatikan gerak-geriknya yang seolah-olah sedang merasakan hawa panas untuk pertama kalinya.

Apa jangan-jangan ia memang tidak pernah muncul ke daratan?

Kami berdua saling diam. Memandang kegiatan banyak orang yang melakukan beberapa aktivitas di sekitar bibir pantai. Ada yang berjemur, menenggak lemon squash di bawah bangku berpayung, sampai berlari-lari menjauhi gulungan ombak. Tidak ada satupun dari mereka yang mempedulikan kami. Semuanya bersenang-senang tanpa batas, tanpa mengerti bahwa tempat yang mereka kunjungi menyimpan segudang misteri. Seperti kemunculan sosok pemuda bermata biru di sampingku ini.

Pemuda itu menggeser duduknya, ia menekuk kedua lutut ke atas dan memainkan telunjuknya di atas pasir. “Sebentar lagi kau pasti akan mendapat keberuntungan dari Sang Dewa.” Ia mengangkat kepalanya, menatapku sambil berkedip tipis.

“Sang Dewa?”

Ia mengangguk. “Kalau di tempatku, Sang Dewa adalah sosok yang mengatur segala mekanisme kehidupan. Ia juga dikenal sebagai Sang Pemilik Takdir.”

“Oh,” kataku sambil ber-oh ria. “Kalau di sini namanya Tuhan. Omong-omong, ayahku pernah berkata kalau manusia yang melakukan aktivitas di bawah awan yang bersisik seperti ikan pasti akan mendapat keberuntungan.”

Ia mengangkat alisnya tanda mengerti. “Ah, seperti itu ya.” Kemudian ia kembali memusatkan fokusnya pada hamparan pasir di bawah kami, lantas mengambil sembarang ranting kecil yang berserakan di dekatnya. “Tapi … menurut kepercayaanku, siapapun manusia yang berhasil menemukan makhluk sepertiku pasti akan mendapat keberuntungan,” ujarnya sembari mematahkan ranting di tangannya. “Keberuntungan yang kauperoleh menjadi dua kali lipat, kalau begitu.”

Aku melempar kerlingan ke arahnya. “Kira-kira keberuntungan apa yang akan kuperoleh?”

“Entahlah,” jawabnya. “Apalagi kau tadi menemukanku saat pelangi muncul untuk pertama kalinya di musim panas.”

Aku mengikuti arah telunjuknya, seberkas sinar warna-warni melintang dari balik bukit di sebelah utara pantai.

“Indah sekali, bukan?” tanyanya. “Oh, aku hampir lupa. Perkenalkan namaku Rowoon,” ujarnya sambil berbisik.

“Rowoon,” ulangku. “Nama yang indah.”

“Kau sendiri?”

Aku lantas mengangkat telunjuk, mengundang Rowoon untuk mengikuti pergerakan tanganku. “Pelangi.”

Sepersekian sekon berikutnya, Rowoon terlihat agak terlonjak. Maniknya kembali berbinar, aku dapat melihat kilauan irisnya yang menatapku lekat seperti telah mendapat sebuah kabar yang sangat baik. “Kalau begitu kau adalah orang yang selama ini kucari.”

Aku menautkan kedua alis, sambil merengut ketika sang surya perlahan menyapu wajahku. “Aku? Memangnya kau mengenalku?”

Hanya deru angin yang menjawab, sementara Rowoon tetap bergeming di tempatnya, menatapku dengan tatapan antusias selagi berucap, “Kau harus ikut denganku kapan-kapan.”

Walaupun parasnya menyiratkan sebuah keyakinan, namun aku hanya menanggapinya sebagai candaan. “Yang benar saja? Seorang pangeran laut hendak mengajakku pergi ke tempatnya?”

Rowoon menarikku ke dalam dekapan dan segera membekap mulutku. Ia merasa bahwa volume suaraku yang terlalu tinggi dapat membuat orang-orang mengetahui eksistensinya. “Jangan katakan lagi, Pelangi,” bisiknya. Tidak sampai tiga detik, ia melepaskan tautannya dan membuatku bisa bernapas lega. “Maaf.”

Aku menatapnya penuh keraguan. Padahal, saat kami pertama kali bertemu, aku tidak merasakan sebuah sensasi aneh yang menjalar di sekitar tubuhku. Tak kuhiraukan gerak-gerik Rowoon yang kini tengah menggeser tubuhnya, menjauh dariku beberapa senti.

“Jangan khawatir. Aku bukan orang jahat seperti yang kaupikirkan. Aku hanya kemari untuk mencari seseorang yang kerap kali hadir di dalam mimpiku.” Rowoon menenggak saliva-nya. “Dan itu kau. Pelangi.”

Aku kembali memandangnya setelah melamun ke arah buih pantai yang timbul karena ombak besar menghantam karang. Penuturan Rowoon barusan cukup membuat bulu kudukku meremang. Secara impulsif aku menyunggingkan senyum pada Rowoon, ke arah berlian biru yang tampak pada sepasang irisnya. Pantulanku tercetak samar pada kedua bola matanya. Indah sekali.

Rowoon mengulurkan tangan perlahan, tanpa menyentak ataupun membuatku ragu untuk menjabatnya. “Keberuntungan pertama, kau berhasil bertemu denganku. Keberuntungan kedua …,” Rowoon menggantungkan kalimatnya.

“Keberuntungan kedua?”

Pemuda itu mengemban oksigen dalam-dalam. “Sang Dewa telah membebaskan kutukanmu.”

Terjadi sebuah keheningan beberapa sekon. Pandanganku tak lepas dari presensi Rowoon yang ada di sampingku, sementara beberapa asumsi perlahan muncul satu per satu di dalam benak. Siapa Rowoon sebenarnya? Apa hubunganku dengannya? Kutukan apa yang selama ini Dewa berikan padaku?

Tiba-tiba langit berubah gelap, embusan angin menyulut dari arah bibir pantai bersamaan kilat yang melesat cepat di atas kami.

Rowoon kembali angkat bicara, vokal baritonnya seperti menjadi pertanda baik di tengah kegelapan yang timbul layaknya sebuah bencana.  “Dulu, sebelum Sang Dewa menghendaki sebuah kehidupan, ia telah menuliskan banyak takdir untuk makhluknya. Termasuk jodoh, Sang Dewa sudah memperhitungkan segalanya tanpa ada yang tertinggal. Awal musim dingin tiga tahun yang lalu, aku telah melakukan kesalahan fatal yang membuat Sang Dewa murka sehingga ia menumpahkan air bah raksasa ke daratan. Membuatmu, Pelangi, terusir dari kehidupan bawah laut yang tenteram. Semua berawal karena aku lebih memilih agar Sang Dewa mengutuk pendamping hidupku, bukan memintanya untuk memberikan kutukannya padaku.”

Langit berubah menjadi hitam legam. Deru angin menghentak tubuh kami habis-habisan. Hanya kilau irisnya yang dapat bersinar di tengah kegelapan.

“Kesalahan apa yang telah kauperbuat?”

“Aku menyalahkan takdir karena menentang untuk hidup sebagai makhluk dasar laut. Pemikiranku terlalu kolot. Dulu, aku berpikir bahwa makhluk dasar laut adalah makhluk yang hina. Tapi … ternyata dugaanku salah. Aku hampa, dan hampir setiap hari berenang ke permukaan saat pelangi muncul di langit. Sang Dewa pernah berkata bahwa satu-satunya cara untuk menemukanmu adalah dengan berdoa sambil menatap pelangi itu. Dengan begitu, cepat atau lambat, aku akan menemukan sosok gadis seindah pelangi di pesisir pantai. Ini adalah satu-satunya cara agar Sang Dewa mencabut kutukan itu.”

“Kau bohong. Aku sama sekali tidak pernah mengalami hal yang kauceritakan.”

“Itu karena Sang Dewa telah menghapus seluruh ingatanmu, Pelangi.”

Aku tertunduk. Hendak melayangkan sebuah pertanyaan lagi namun rasanya begitu sulit. Penuturan panjang lebar dari Rowoon seakan hanya memantul tanpa bisa menyelinap masuk ke dalam akal sehatku. Tangannya yang dingin senantiasa menggenggam jemariku, hingga sebuah aliran yang sukar didefinisikan menghentak tubuhku secara tiba-tiba. Aku berpaling ke arahnya, menatap pantulan diriku lewat sepasang netra Rowoon yang berkilau. Iris legamku perlahan sirna, berubah menjadi iris dengan warna perak yang berpendar di dalam kegelapan. Beradu tatap dengan kedua obsidian Rowoon.

Langit pekat perlahan berubah seperti semula; biru yang membentang berhias cahaya matahari di angkasa. Awan berarak mulai tampak, dan orang-orang kembali melakukan aktivitasnya seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

“Ini nyata. Kau dan aku tidak perlu saling menunggu lagi di alam mimpi. Menunggu untuk bersatu maupun disatukan.”

Gulungan awan di atas kami tampak menari-nari, sementara Rowoon merentangkan tangannya. Pemuda itu mengundangku untuk menghambur ke dalam pelukannya. Sebuah pelukan yang kelak mengundang kami menuju gerbang keabadian, begitu katanya.

“Kau telah diusir dari kehidupan ini.”

“Jangan pernah kembali, jangan pernah memaafkan pria yang telah membuatmu menderita seperti ini.”

“Pergilah yang jauh … ke tempat yang penuh dengan keabadian.”

Mimpi itu. Mimpi yang dulu pernah menyambangi setiap tidurku. Mimpi yang nyaris kulupakan. Mimpi yang merupakan sebuah peringatan juga permohonan dari Sang Pemilik Kehidupan. Mimpi itu … kembali terngiang dengan frekuensi yang terlampau cepat, seakan mengungkapkan sebuah frasa perpisahan sebelum diriku berhadapan dengan kehidupan yang baru.

Sekarang, detik ini, di hadapan debaran ombak yang menggulung cepat, juga di hadapan Rowoon yang menyiratkan banyak harapan, ia berujar, “Iris perakmu adalah gambaran pasir yang membentang di sepanjang bibir pantai, sedangkan milikku adalah gambaran laut biru yang senantiasa berdampingan dengan pasirnya.”

“Selamanya?”

Rowoon lantas mengangguk. “Ya. Selamanya.” Ia tersenyum simpul. “Jadi, kembalilah padaku dan aku berjanji tidak akan pernah membuatmu seperti ini lagi.”

Selanjutnya, sebuah kepingan kehidupan yang semula berhambur acak seakan menyatu kembali. Ingatanku yang telah lama raib kini tersambung, membingkai sebuah kolase indah di bawah mentari sore sebelum kami benar-benar menghilang.

Menghilang ditelan cahaya perak yang membawa kami ke tempat yang berbeda dari sebelumnya.

.

.

Terima kasih Tuhan karena telah mengizinkanku untuk mencicipi indahnya kehidupan setiap insan di muka bumi.

.

-fin.


Serius ini apa bangeeett wkwkwkwk, ini pertama kalinya aku bikin genre fantasy astagaaa Rowoon citramu sedikit baik ya di sini hahahaha mengingat cerita2 terdahulu yang cast-nya SF9 mesti genrenya sad/angst terus XD 

Buat Sintia a.k.a ninegust, makasih wis bersedia kubikin kepo tujuh turunan sampe koprol di atas kapal perang dunia kedua XD Makasih jugaaa udah diizinin pinjem Rowoon x Pelangi HA HA HA PADAHAL IZIN AJA ENGGAK LOH /digorok/

DAH INI SURPRISE FF BUATMU, SEMOGA GA GALAUIN WINGS TOUR LAGI EHEEEE LAVYUUUU ♥♥♥

Mind to review? 😉

Advertisements

8 thoughts on “Engel des Meeres

  1. HEH DONNA DEMI APA KU TERJUNGKAL BACANYA…
    duhh sumpah ini manis banget… Bayangin ada pangeran laut ganteng cem rowoon unch terus mana dua org ini fav aku bgt aaaaaaaa
    Nice fic cintaaaahh

    Liked by 1 person

    1. KAKCEEEEEEE DIRIMU PERTAMAXXX
      Aslinya aku ngakak sendiri bayangin rowoon jadi mermaid astaga, bayangin kakcee lagi di pantai terus rowoon manggil “cewek… Ikut aku yuk!” Wacawwwww /pulang

      Btw makasi suda mampir dimari yaaa kakcee❤️❤️❤️

      Liked by 1 person

  2. YES BENER BENGET YHA GAPAPA AKU KEDUA JUGA, PAS BUKA GRUP LANGSUNG MELESAT DAN BACA INI. KIRAIN ROWOON ITU MANUSIA YANG TENGGELAM LAMA TERUS HANYUT KE PERAIRAN INDONESIA /digampar/ TERUS TERNYATA DIA ADALAH SEORANG MERMAN COI ALLAHU AKBAR! GAKUAT! MANIS NYA……. JADI PENGEN NYAMBUNGIN YHA… TAPI TAPI INI PELANGI JADI MERMAID LAGI?! WKWKWKKWKW MAKASIH YA BIKIN MOOD BAGUS TERUS BIKIN BAPER GEGARA PELANGI X ROOWON YANG UDAH LAMA GA MUNCUL DI PERMUKAAN:’ AYAFLU PUL– TP.BOONG💗💗💗💗

    Liked by 1 person

    1. SAMBUNGIN GEEEEH SAMBUNGINNNN WAKAKAKAKAKA
      GIMANA GIMANA PASTI SENENG YHA ROWOON X PELANGI AKHIRNYA NYATA, AKHIRNYA ROWOON TIDAK MENCINTAI PELANGI SECARA SEPIHAK HA HA HA POKOKNYA SIAPAPUN YANG ADA DITANGANKU PASTI AKAN BERBUAH MANIS KOK HA HA HA HA /pulang
      IYA PELANGI JADI MERMAID KAAAAAAK KYAAAAAAAAAAA BAHAGIA BERSAMA ROWOON SELAMANYAAA /digampar

      DANNN MAKASIH WIS MAMPIR KEMARI SINTIAAAAA AKU GA CINTA KAMU BHAI❤️❤️❤️

      Liked by 1 person

  3. Sik, sebelumnya, sejujurnya saya sudah baca dari tadi pagi, tapi tapi tapi mau komen itu mager /tabok aja tabok/ /ga/ /engga ditu don serius/ mager hla wong sinyal hape ne ae E, :3

    Oke dan sumpill ya don.. Aku baca ini ingin terjungkal mimisan.. Si rowoon kenapa maneshh :’))) DAKUH RINDU BANGGG…. TYDAAA…

    Sudah ya, aku pamit. Sekian dan semangat buat donjaaaa ❤❤❤

    Liked by 1 person

    1. sinyal hape E panter aja……..kesedot sama pesona mas daniel kayanya ya /pulang
      JANGAN JANGAN MIMISAN DIF YAKIN DEH KANG MAS DANIEL GA BAKAL NOLONGIN KAMU /dihajar
      rindu siapaaa?? yang nulis kah?? hehe makasih /plak

      DANN MAKASIH SUDAH MAMPIR YAAA DIFANTIII ❤ ❤

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s