About His Dream

6449f00744a9e6776110517b3c5e00c8

A special fic for Renjun’s birthday

Written by thehunlulu ©2017 

Ugh, masih sekolah dasar sudah dibelikan barang mahal!

***

Renjun belum pernah berandai-andai tentang apa yang ingin ia cita-citakan kelak. Menurutnya, memikirkan cita-cita atau profesi di masa depan masihlah terlalu dini. Teman-temannya sering bertanya, mengapa Renjun tidak pernah bercerita tentang keinginannya setelah lulus kuliah nanti, di mana ia ingin bekerja, atau jenis pekerjaan apa yang ia inginkan. Renjun tidak pernah memikirkan itu semua. Bahkan peduli dengan cerita teman-temannya saja terlihat sangat mustahil.

Tapi entah atas dasar apa bocah berumur sepuluh tahun itu tiba-tiba mulai bergabung dengan banyak kelompok di sekolah. Katanya, alasannya sih karena dia ingin pamer cita-cita.

“Cita-citaku ingin jadi penjual batagor, lho.”

Sontak saja seluruh teman-temannya tertawa hingga terpingkal-pingkal. Ada yang menunjuk-nunjuk wajah Renjun yang sedang melongo, ada yang lari terbirit-birit sambil memegangi perutnya karena tertawa, bahkan ada yang mengajak Renjun selfie kemudian meng-upload-nya di sosial media dengan keterangan: Calon polisi sedang berfoto dengan Mang batagor, nih!

Renjun terdiam cukup lama. Aneh, begitu pikirnya. Mengapa teman-temannya malah menertawakan Renjun saat dirinya—yah, baru saja—memiliki cita-cita? Padahal, Renjun sampai tidak tidur tiga hari gara-gara berimajinasi tentang berwibawanya penjual batagor itu. Eum, ralat, sepertinya sudah hampir seminggu sih dia tidak bisa tidur nyenyak.

Teman laki-laki yang bertubuh gendut berjalan mendekati Renjun kemudian merangkul pundaknya. Renjun tampak tidak nyaman, tetapi ia memilih untuk diam sambil merasakan pundaknya yang terasa sedikit berat.

“Menurutmu dari mana aku mendapatkan ponsel canggih ini, kawan?” kata si gendut, sambil mengarahkan ponsel berwarna hitamnya tepat di depan mata Renjun.

Ugh, masih sekolah dasar sudah dibelikan barang mahal!

Selanjutnya, Renjun menggelengkan kepala tanda tidak tahu.

DUK!

“Aduh! Sakit tahu!”

Si gendut menarik kembali ponsel yang semula ia pukulkan pada dahi Renjun kemudian memasukkannya ke dalam saku. “Aku mendapatkan ponsel mahal ini dari ayah dan ibuku, tentunya! Mereka bekerja keras siang dan malam agar mendapat uang yang banyak, kautahu! Ibuku bekerja sebagai pramugari, sedangkan ayahku adalah dokter bedah paling hebat di antara dokter yang lainnya!”

Mendengar penuturan temannya yang sangat-amat-menjengkelkan-banget-luar-biasa-horas itu, ingin sekali rasanya Renjun berteriak tepat di kuping si gendut. Menjambak-jambak rambutnya sampai botak, menendang tulang keringnya hingga patah, sampai membanting ponsel pintar miliknya hingga titik darah penghabisan.

Oh ayolah, Renjun juga manusia biasa. Seorang anak berumur sepuluh tahun yang terlihat cupu namun memiliki hati yang bisa merasakan dongkol dan sebagainya. Kalau cita-citanya diolok-olok oleh temannya, boleh jadi ia merasa hina, ‘kan?

“Tidak usah mengurusi cita-citaku, dasar gembul!” Renjun berteriak menggelegar, kemudian mendorong tubuh kawannya itu sampai terjerembab dan menimbulkan suara dentuman di tengah lapangan.

Renjun sedikit merasa puas setelah si gendut itu tergeletak tak berdaya. Ia berlari menjauh dan berteriak, “DASAR LEMAH DASAR PAYAH! DASAR CALON PILOT TAK TAHU DIRI KAU!”

Mungkin kalian bertanya-tanya apa yang membuat Renjun ingin sekali menjadi penjual batagor, ‘kan? Alasannya simpel; ia bisa bertemu dengan para cecan alias cewek-cewek cantik jika ia mangkal di SMP maupun SMA saat pulang sekolah. Dulu, sewaktu Renjun duduk di bangku taman kanak-kanak, ia tinggal di Indonesia selama dua tahun karena tuntutan pekerjaan orang tuanya. Di depan sekolahnya, Renjun sering mendengarkan cerita dari penjual batagor kalau dia—si penjual batagor—paling senang jika berjualan di lingkungan sekolah menengah. Katanya sih pembelinya banyak yang cantik.

Renjun rasa, menjadi penjual batagor bukanlah profesi yang memalukan, karena ia memiliki maksud khusus dari cita-citanya tersebut.

***

“Mas, beli batagornya dong.

“Beli berapa, Mbak? Sepuluh ribu gratis yang jual nih hehehe,” ujar Renjun yang berumur dua puluh enam tahun itu dengan diiringi gelak tawa.

Wah, sepertinya Renjun tidak salah pilih tempat untuk dijadikan spot mangkal-nya. Kalau ia berjualan di sekitar sekolah, akan sangat berbahaya kalau ia tidak bisa menahan nafsu lalu menggoda gadis-gadis cantik langganannya. Duh, bisa dikira pedofil, dong!

“Beli lima ribu saja deh Mas. Omong-omong, tumben penjual batagor mangkal di depan rumah sakit?”

Renjun tersenyum simpul. “Cuma ingin cari suasana baru saja, Mbak.”

“Batagor itu makanan khas Indonesia, ‘kan Mas? Kata suami Saya rasanya enak, padahal dia belum pernah mencoba.”

“Saya pernah tinggal di Indonesia waktu kecil, Mbak. Wah, suaminya juga tahu batagor, ya?” tanya Renjun setelah mengikat plastik berisi batagor itu dengan karet gelang.

“Katanya sih dia pernah diceritakan oleh teman—eh, itu dia suami Saya. Jeno, kemarilah!”

Renjun mengalihkan pandangannya ke arah lain. Pria bertubuh jangkung itu segera menghampiri si wanita kemudian memandang Renjun dengan raut cukup terkejut.

“R-Renjun?”

“Jeno?”

Oh sumpah, adegan saling bersitatap mereka berdua sungguh syahdu namun menegangkan melebihi sinetron-sinetron Indonesia.

“Eh? Mas kenal dengan suami saya?”

Renjun segera mengangguk mantap. “Dia … dia teman SD saya, Mbak.”

Wow, si gendut yang lemah itu sekarang bertubuh atletis sekali ….

“Jun! Kau benar-benar jadi penjual batagor?! Wah, aku tidak menyangka, Bro!

Renjun masih bergeming, sedikit terkejut karena setelah sekian lama akhirnya ia dipertemukan oleh Jeno, anak dari seorang dokter dan pramugari tersebut.

“Batagornya sudah selesai, Mas?”

“Iya—eh, sudah kok Mbak,” ujar Renjun sambil memberikan kantung kresek berwarna putih tersebut. “Saya permisi sebentar ya Mbak, Jen,” lanjut Renjun sambil mengambil ponselnya yang sedang berdering.

“Jun! Mau ke mana kau? Kita bahkan belum bercerita setelah sekian lama tidak bertemu!”

“Ada urusan mendadak,” kata Renjun terburu-buru sambil menunjuk gedung rumah sakit yang sangat megah di depannya. “Asistenku sebentar lagi datang untuk menggantikanku jualan batagor, jadi aku permisi dulu.”

ALAMAK! BAHKAN JENO BARU SADAR KALAU BAJU YANG DIKENAKAN RENJUN TERDAPAT TANDA PENGENAL BAHWA DIA SEORANG DOKTER BEDAH!

“Rasakan, Jeno. Memangnya seorang dokter bedah tidak boleh bekerja sambilan sebagai penjual batagor, hm?” desis Renjun di sela-sela perjalanannya.

fin.


Happy birthday Huang Renjun a.k.a moomin kesayangan! ♥♥♥

Advertisements

2 thoughts on “About His Dream

  1. Pertama, Happy Birthday HUANG RENJUN 🎉. Semoga cepat move on /BEDA CERITA WHOYY/ /pergi/

    Boleh dong foto sama Dokter ahli bedah yang sambilan tukang batagor. :))) Aku pesennya yang jual batagor aja >_<„ (bukan asistennya) 😍

    Suka ❤ Renjun nya ucul ❤
    Lanjutkan Donna ❤❤❤😆

    Liked by 1 person

    1. WHAI SETIAP CERITA YANG ADA RENJUN MESTI NYINGGUNG MASALAH MOVE ON WHAIIII /disambit
      wkwkwkwk kang batagor mana yang pinter bedah2 dif? apalagi bedah hatiqu /GAK/
      btw makasih suda mampir ya difan ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s