Potretmu

32bb30d0872c8aa61b3f17fb497790af

Written by thehunlulu ©2017

Teruntuk lanskap pemuda pada bidikan terakhir ….

***

New York, 05:30 PM

Hari ini, tentu saja pada hari Minggu saat matahari memendarkan cahaya keemasan, kulewati satu per satu jajaran toko kecil yang melintang dari barat ke timur. Nuansa khas New York pada umumnya; aroma pretzel dengan siraman saus karamel—kurang lebih seperti itu—yang mengudara di tengah keramaian yang stabil. Aku mengangkat kamera, memotret gugusan burung camar yang berusaha memelatuk beberapa jenis makanan yang dilempar oleh orang-orang. Warnanya putih bersih, berpadu dengan abu-abu yang menghiasi ekor dan sayapnya.

Aku tersenyum. Beralih melihat hasil potretanku di dalam kamera, menggerakkan ibu jari untuk menekan panel pengaturan guna menaikkan kontras pada sekumpulan burung camar tadi, karena tampaknya langit sudah tak lagi bisa diajak kompromi.

Tidak butuh waktu lama untuk menunggu matahari kembali ke peraduan. Bintang-bintang mulai menghiasi langit malam, cahaya temaram dari lampu kota mulai menyala. Sepertinya, New York tidak mau kalah dengan pendaran perak yang menggantung di balik awan tipis. Kembali, aku segera merajut langkah sambil sesekali berpikir; pasti akan terasa sangat menyenangkan jika bisa tinggal di kota ini selama beberapa waktu ke depan. Tapi, karena alasan tertentu, aku harus kembali ke Korea kurang lebih empat puluh delapan jam lagi. Itu artinya, mau tidak mau, aku harus bermaraton mengelilingi setiap sudut Kota New York untuk membunuh dua hari yang tersisa.

Kesempatanku untuk membidik potret kehidupan masyarakat New York hanya tersisa sedikit lagi. Vernon—saudara kembarku—tidak ikut menjenguk ibu dan ayah di sini karena ada beberapa keperluan sekolah yang harus ia selesaikan. Karena pada dasarnya, toh tidak dosa juga ‘kan jika aku meminta mereka untuk pindah sekolah ke Amerika? Memangnya siapa yang tidak mau tinggal di salah satu kota tersohor di dunia seperti New York?

Namaku Viodie Chwe, saudari kembar Vernon. Kami lahir di New York dan besar di Korea. Tapi, karena tuntutan pekerjaan, orang tua kami tinggal di New York untuk sementara. Sedangkan aku dan Vernon tetap melanjutkan sekolah di Korea. Sepertinya, mereka tidak berniat untuk mengajak kami bersamanya. Entah, namun setiap ada kesempatan untuk berkunjung ke kota kelahiran kami, aku selalu tertarik untuk mengabadikan nuansa-nuansa barat yang sangat bertolak belakang dengan budaya Korea. Hobi tersebut mungkin dimiliki oleh kebanyakan orang. But, who’s care? Kalau sewaktu-waktu aku merindukan New York, maka tak akan jadi masalah ‘kan?

Saat lampu-lampu dengan warna yang berbeda sudah menyala di setiap sudut, aku menghentikan langkah. Memandang pada salah satu pusat perbelanjaan elektronik dengan running text yang tersemat pada pintu kaca. Kali ini, saatnya memotret aktivitas setiap insan untuk menjadi objek bidikanku selanjutnya. Mulai dari anak-anak dengan sebatang gulali di tangannya, kemudian para remaja dengan pakaian kasual dan flat shoes-nya, sampai pada beberapa lansia yang berjalan beriringan dengan pasangannya. Kalangan apapun bisa kautemukan di sini, dan tentu saja peluang untuk mengisi beberapa slot memori kameraku semakin besar. Mungkin … suatu saat aku akan merindukan orang-orang bersurai pirang ini.

Aku terlalu bersemangat, sampai-sampai menyempatkan diri untuk memotret suasana di sekelilingku secara random. Tanpa peduli bagaimana hasilnya, atau kau akan berpikir aku ini maniak fotografi, aku tidak terlalu memikirkannya.

Tapi … tunggu sebentar. Aku sejenak bergumul dengan pikiranku tentang sosok pemuda yang tidak sengaja kupotret. Walau dari kejauhan dengan posisi tubuh yang membelakangiku serta keberadaannya di dalam kedai kopi yang terlampau ramai, hal itu cukup menimbulkan seberkas memori kemudian berkelebat di dalam otak. Dahiku mengernyit, sementara jemariku terus-menerus menekan tombol ‘next‘ untuk melihat foto selanjutnya. Barangkali—yah, jika memang kebetulan—potret wajahnya sempat terabadikan. Namun, tubuhku nyaris membeku ketika bola mataku semakin bergulir, berusaha mengenal sosoknya. Foto ketiga … keempat … kelima … dan—

Eung … Kak Mark …?”

—habis.

Kupikir aku tidak salah lihat. Itu tadi … yang berada di dalam kedai kopi … apakah benar ia adalah Mark? Kali ini aku bersikukuh, pun berani bersumpah bahwa ia adalah Mark Tuan—kakak kelas yang kukagumi sejak lama. Kalau memang iya, untuk apa dia kemari?

Sekali lagi aku menoleh, dan untuk pertama kalinya, pandangan kami mencapai titik temu. Maniknya menerawang sejenak, lantas merajut langkah ke arahku setelah tubuhnya berhasil keluar menembus pintu otomatis. Pada masing-masing tangannya tersemat satu cup minuman yang asapnya masih mengepul.

Berlagak bodoh? Tentu saja hal itu adalah konten pertama yang membanjiri isi pikiranku. Dalam diam, dengan bergeming di tempat yang sama, aku hanya memerhatikan eksistensinya yang kian memangkas jarak antara kami berdua.

“Viodie Chwe,” ujarnya agak tegas, seraya mengulurkan tangan kanannya untuk memberikan minuman itu kepadaku. “Benar ‘kan?” lanjutnya.

Aku masih melongo, tanganku terasa amat kaku untuk sekedar meraih minuman dari tangannya. Pun, saraf-saraf lidahku mendadak kelu hanya untuk mengatakan ‘terima kasih’ padanya.

“Nona Chwe?”

Sekon berikutnya aku tersentak. Seperti ada darah sedingin es yang mulai mengaliri tiap ruang kosong pada tubuhku. Aku menggigit bibir bawah dengan getir, lantas membalas ulurannya. Sekarang, minuman hangat tersebut sudah berada di genggamanku.

Dengan gusar, aku hanya mengerling ke arahnya kemudian mengalihkan pandang. Melihat gugusan bintang yang berkilauan di langit, menatap sol sepatu orang-orang yang sedang berlalu-lalang, sampai pada akhirnya aku terdiam.

Vokalnya mengalun, seperti menghipnotisku di dalam keramaian. “Maaf ya karena tidak memberitahumu sebelumnya. Jadi aku—“

“Mark Tuan. Aku tahu, kok.

Alih-alih mengangguk, Mark malah terkekeh dengan agak terpaksa ketika mendengar penuturanku barusan. Ia menggaruk ujung hidungnya sekilas. “Tidak, bukan begitu maksudku. Jadi, kemarin Vernon meneleponku untuk menemanimu jalan-jalan hari ini. Kedua orang tuamu bekerja di sini, bukan?”

Aku mengangguk. Pipiku memanas.

“Wah, kebetulan sekali, aku sedang membantu kedua orang tuaku untuk mengurus surat kepindahan mereka dari Los Angeles ke New York.”

Kebetulan. Aku sekarang mengerti.

Kesadaranku sepertinya enggan mendekat barang sejengkal. Karena bodohnya, aku baru sadar kalau Mark adalah senior yang paling dekat dengan Vernon di klub basket sekolah. Terlebih, kakak lima menit lebih tua dariku itu sangat amat tahu kalau kembarannya diam-diam mengangumi sosok Mark Tuan dari kejauhan. Juga, yang terpenting, semoga saja—yah, semoga saja—Vernon tidak pernah buka kartu soal perasaanku.

Yang aku tahu, Mark juga tinggal sendirian di Korea. Orang tua mereka tinggal di Los Angeles. Setahuku—lagi—pemuda bertubuh tinggi semampai itu bersekolah di Korea karena mendapat beasiswa. Hanya itu, tidak lebih.

“Vernon banyak bercerita tentangmu, omong-omong,” Mark mulai membuka suara ketika tak lama kami mulai meniti langkah. Ia menyesap minumannya sedikit lantas melanjutkan, “menurutmu bagaimana?”

“Eh? Bagaimana apanya?”

“Maksudku, jika dipikir-pikir, pasti sangat seru jika memiliki saudara kembar sepertimu. Walaupun tinggal sendiri di Korea, tapi kalian tidak akan merasa kesepian ‘kan?”

“Yah, begitulah. Tapi Vernon itu berisik. Terkadang menjengkelkan karena ia tipikal orang yang terlalu jujur.”

Mark mengangguk pelan. Perlahan sebongkah es yang membuat kami canggung kini mulai mencair. “Tapi menurutku, menurut pandangan seorang kawan dekatnya, Vernon memang tipikal orang yang selalu jujur ke siapapun, kok.”

“Kau tidak pernah jengkel? Sekalipun?” tanyaku, sambil mendongak ke arahnya yang sedang asyik menatap keramaian.

“Untuk apa?”

“Yah, siapa tahu, ‘kan.”

“Tidak, aku justru senang,” kata Mark enteng seraya menurunkan pandangannya dan menatapku sembari menautkan seulas senyum, tipis sekali.

Sepertinya, kalor yang ada di minumanku telah berteleportasi. Karena sekarang pipiku lah yang mulai memanas karena mendapat tatapan yang … sangat sukar didefinisikan dari Mark.

Kurasa membalas ucapannya adalah ide yang tepat. Kami bergeming sejenak, seakan melakukan kontak batin melalui isyarat mata.

Mark seperti telah mengetahui maksudku, ia kembali membuka suara, “Vernon pernah bilang kalau adik kembarnya sedang jatuh cinta pada seseorang.”

Jantungku terkesiap, enggan memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terlontar dari bibirnya. “Maksudmu … itu aku?”

“Tentu saja.” Ia mengangguk. “Kalau seseorang itu membalas perasaanmu, apa yang akan kaulakukan?”

“Tidak mungkin.” Aku menggeleng kuat-kuat. “Tidak mungkin orang itu akan membalas perasaanku,” ujarku lemah. Dalam hati mematut doa agar Mark tidak pernah membahas hal itu lagi.”Sudahlah, kita bahas yang lain saja.”

Mark meraih tanganku, menggenggam jemariku kuat-kuat. Kehangatan yang terselubung di dalam dirinya sekarang berpindah padaku. Dan … tentu saja dengan jantung yang kian berdebar, aku hanya mampu untuk bungkam.

“Baiklah, ayo kita bicarakan perasaan orang itu.” Langkahnya memelan. “Orang yang tidak mungkin membalas perasaanmu.”

Mark mendekat. Ia memelukku. Hangat, sungguh hangat.

Hatiku seakan meraung-raung. Kini berhasil melebihi batas maksimum ketika ribuan kupu-kupu mengepakkan sayap dengan dahsyatnya di dalam perutku. Seperti ada efek slow motion yang menyelimuti kami, karena orang-orang sekitar berjalan begitu lambat, sangat lambat.

Tempo jantungku enggan membaik ketika Mark melonggarkan pelukannya dengan perlahan. Ia sedikit menunduk, menyejajarkan sepasang maniknya dengan milikku. Menguncinya rapat, menjangkau titik fokusku agar kami bisa saling bertukar pandang lebih lama.

Rasa ini. Rasa yang tak pernah ada seorang pun yang berhasil menjangkaunya. Rasa yang cukup membuat batinku bergejolak. Rasa yang mampu menghentikan pikiranku untuk berjalan selaras sebagaimana mestinya.

“K-Kak Mark—“

“Orang itu tidak akan pernah membalas perasaanmu, Vi. Jadi … kautujukan untuk siapa semburat merah yang mendadak muncul pada kedua pipimu itu?”

Maka … izinkan aku untuk menghipnotis waktu, membuat dua hari ke depan terasa seperti dua tahun lamanya.

.

-FIN-


  1. Mark Tuan x Viodie Chwe akhirnya debut juga!
  2. Teruntuk Difanti, trims ya trims sudah membuat saya baper malem-malem begini gara-gara nulisin kisah mereka heuuuuuu :”)
  3. Aku tau ini enggak banget, jadi plis jangan buli aku karena memang nggak bakat nulis romens fluff :’)
  4. Maaf jatohnya gombalan alay gini, tapi percayalah bahwa aku nulisnya dengan setulus hati /hateu/
  5. MAAF LAGI KALO GA SESUAI EKSPEKTASI, KARENA SAYA DALAM MASA PEMULIHAN WEBE TAPI KOK YA MASIH WEBE /PLAK/
  6. Ini nulisnya ngebut, maaf kalo ada typo dan sebangsanya :”)
  7. Mind to review? 😉
Advertisements

8 thoughts on “Potretmu

  1. Difan yang rikues, aku yang baper :”)

    Yeokshi… Pertama2 aku ingin puji diksimu yang so puitis tp ttp ngalir hwhwhwhw… Ajarin aku dong, senpaynim…

    Kedua… Aku baper masa baca akhirnyaaa… Apalagi pas mereka pelukan terus kata2 terakhir mark itu apa bgt hwhwhwhwwwww…

    Makasih ya don udh bkin baper di tengah malam… Berfaedah sekali…

    Liked by 2 people

    1. Apalagi aku kak apalagi aku………. Ya Tuhan mark emang cocok dijadiin super cheesy seperti ini heuuu :’)
      whai senpaynim whaii, people just improving to get better kak :’)

      Daaan makasih suda mampir dimari kakcee, selamat baper bikos ini malam minggu wkwkwkwk 😂😂

      Liked by 2 people

  2. Difan yang rikues, Difan juga baper. BAPER PARAH :”)

    Tengs don, tengs. Dirimu sukses membuat diriku baper sebaper bapernya, SUKAAAAA >_< .

    AARRGHHH AKU TAK BISA BERKATA KATA, INTINYA AKU SUKAAKKK ❤❤❤❤❤, MARK TUAN X VIODIE ❤❤❤

    Itu yang terakhir aku senyum senyum sendiri bacanya astagaaaa… 😆,

    Dan, sungguh ini Indah sekali don, puitis sekali. Aku sukaakkk.. Ajarin aku dong :")))

    TENGS SABTU PAGI KU KAU BUAT BAPER, ARRGHHH ❤❤❤

    Liked by 1 person

    1. Dan ceritanya ga nyambung sama yang aku tanyain ke kamu kemaren ya dif😂😂 asiik, aku ikutan seneng karena kaum baper semakin bertambah /gagitudon/

      Tengs sudah mampirrr❤️❤️ sekarang saatnya kamu tentukan kelanjutan kisah mereka yhaaaaa wkwkwkwk..

      Ps; mark-jane tolong munculkan lagi di permukaan /digiles

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s