Belajar Memahami

ed7354bf7e0f47cf5ea38eed20348fc2

Written by thehunlulu ©2017

“Katanya, tempat sunyi adalah media yang paling bisa merahasiakan segala keluh kesahmu.”

Bagi Eunha, mengenal sosok Joshua Hong bukanlah hal yang patut disesali. Karena—yang pertama—jikalau semua orang belum mengetahui masalah yang Eunha hadapi, Joshua adalah orang pertama yang tergerak untuk menghampiri gadis Choi tersebut. Kedua, Joshua adalah relawan terbaik bagi Eunha. Pasalnya, pemuda beriris legam itu tidak segan-segan untuk memberikan pundaknya untuk si gadis, menyediakan pundak yang satunya lagi jika tangisan serta kegundahan Eunha tumpah ruah. Ketiga, Joshua Hong adalah sosok yang perhatian. Acap kali Eunha bergumam pada diri sendiri bahwasannya dengan berada di dekat Joshua, rasa takut pun was-was seketika menguap.

Terkecuali untuk suatu hal yang sensitif, pun rumit kalau-kalau hal itu dengan tidak sengaja melintas di dalam benak Eunha.

Perasaan.

Eunha pun senantiasa menampik sebuah pemikiran yang—sangat—tidak rasional baginya. Rasanya sulit, begitu sulit untuk menelan bulat-bulat kenyataan bahwa selama ini perasaannya ingin dinomor satukan oleh Joshua. Hingga waktu bergulir begitu cepat, Eunha dihadapkan oleh dua kemungkinan; dijauhi oleh Joshua lantaran penuturan mengenai gejolak hatinya selama ini, ataukah membiarkan perasaan itu pupus, menghilang ditelan angkasa.

Kenyataannya, Eunha lebih memilih untuk bungkam. Tanpa berharap Joshua akan segera peka alih-alih mengutarakannya. Karena ini adalah cara paling aman, menyembunyikan jati dirinya demi berada di sisi Joshua untuk waktu yang lebih lama.

Eunha harap, jika Joshua tidak dapat membuatnya bahagia, maka jangan biarkan pemuda bergaris Hong tersebut untuk menyakitinya.

Sederhana, namun hal tersebut begitu sukar untuk mereka jalani.

“Katanya, tempat sunyi adalah media yang paling bisa merahasiakan segala keluh kesahmu.”

“Menurutmu?” sahut Eunha sementara kakinya mengayuh sepeda sedikit lebih cepat untuk menyusul Joshua di depannya.

Joshua menghentikan kayuhannya, begitupula Eunha. Kini mereka berdua saling bersisian, Joshua kemudian mengulurkan tangannya guna mengambil satu botol air mineral dari keranjang sepeda Eunha lalu meneguk isinya. “Aku percaya-percaya saja, sih. Tapi memang benar ‘kan? Sunyi tidak pernah berkhianat.”

“Berhenti berlagak mellow seperti itu! Menggelikan! Kau bukan seperti Joshua yang biasanya, jika kau tahu.”

Mengabaikan pernyataan Eunha, Joshua lekas-lekas mengalihkan pandangannya yang kosong dari jalanan lenggang di hadapannya, disusul ibu jari yang ia tempelkan pada pipi sang lawan bicara. “Bulu matamu jatuh, Eunha-ya. Katakan permohonanmu.”

Di sampingnya, Eunha tak lantas menuruti perkataan Joshua. Gadis itu hanya terkekeh samar, sebelum akhirnya nyiur angin seakan menyapu bersih ingatan bahwa sosok Joshua yang selama ini dicintainya bukanlah pria yang akan membalas perasaan Eunha.

Semoga … kau segera memahami perasaanku, Josh.

“Cepat katakan, Eunha-ya!” ulang Joshua, setelah sebelumnya ia melempar botol air mineral ke dalam keranjang Eunha. “Pengecualian untuk bulu mata yang jatuh, kau tidak boleh memohon dalam hati.”

“Astaga Josh, literasi dari mana, memangnya?”

“Pokoknya cepat ucapkan dengan lantang.”

“Tidak mau.”

“Yakin?”

Eunha lantas mengangguk mantap, memberi Joshua keyakinan bahwa permohonannya barusan hanyalah suatu hal yang tidak berguna, dan sepatutnya tak perlu Joshua ketahui.

“Aku ingin … agar persahabatan kita terjalin untuk waktu yang lebih lama, melewati suka maupun duka tanpa ada rasa kehilangan satu sama lain.” Joshua mengemban oksigen dalam-dalam lantas melanjutkan, “Dan yang terpenting—“

Eunha tak lagi terkejut, hal itu membuatnya hanya mampu mengubah manik binarnya menjadi teduh, lagi-lagi frasa yang agaknya masih menjadi pantangan baginya itu menguar kembali.

“Yang terpenting?” ulang Eunha, diselingi sepoi sore yang menerbangkan sehelai bulu matanya dari jemari Joshua.

“Permohonan dalam hati yang Eunha katakan tadi segera dikabulkan oleh Tuhan.”

Jadi … apakah Eunha masih memiliki kekuatan untuk membendung air matanya yang nyaris meluncur detik ini juga?

.

-FIN-


Teruntuk Kakcee, trims sudah (sangat amat) sabar buat nungguin kisah Josh x Eunha ini! Saya nggak tau, tapi kapel ini memang minta dipeluk satu-satu kayanya huhuhu Josh semoga kamu peka sama Eunha ya :’) Daaaan saya tau kalo ini OOC hehehehehehehehehehe silahkan gebuk saya kalo ini beneran OOC ehee bikos saya webe bin gabut :’) Maaf Kakcee kalo ceritanya maksa, sok-sok puitis gitu heuuuu pengen bangkit dari webe tapi kok malah gini :’) Intinya, semoga suka yaa kakcee ❤ DAN OH YA SATU LAGI SUBIN X SOPHIE EHE TOLONG JANGAN INGATKAN JANGAAAAAAANNN /digiles/

Mind to review? 😉

Advertisements

3 thoughts on “Belajar Memahami

  1. IHIKS TERUS SAYA SENYUM2 DEWE BACANYA INI HAHAHAHAHAHA…
    Agak ooc, tp dikit kok. DIKIIIIITTT… BANGET. Ketutup sama alur apik yang berhasil kamu eksekusi yang bahkan bkin kreatornya baper hahahaha..

    NICE FIC DONNA!!! 💖💖💖

    Liked by 1 person

    1. Wahahahaa asiiiiik kreatornya Josha baper asikk /lalu joget bersama mas josh/ dan iya ooc waaakss mba eunha nya agak mellow disini ya padahal aslinya ceria kan ya? Ampuni saya..saya khilaf…

      Dan makasi suda mampir dimari kakcee❤️

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s