For Johnny

holding

Written by thehunlulu special for Johnny’s birthday

—For Johnny—


Tidak lazim kiranya kehidupan ini jika Johnny Seo—atau panggil saja Om Johnny—tidak melaksanakan ritualnya pada pagi hari. Bahkan sudah menjadi rahasia umum jika sosok pemuda Seo tersebut telah merangkap dua pekerjaan sekaligus, yaitu—

“John! John! Kambingmu lepas dari kandang!”

—menjadi pawang kambing pada pagi hari, alih-alih momong sang istri yang tengah hamil muda.

Johnny mencebik, ditatapnya paras Berlian—sang istri yang jelita—sembari menggamit cangkul di atas bahunya. Well, Johnny tahu, bahkan sangat tahu jika sang istri yang sedang hamil muda itu masih sering mual-mual di dalam rumah. Oh, jangan pernah berkonklusi jika rewelnya Berlian dikarenakan ia tengah berbadan dua. Itu salah besar, omong-omong. Maka dari itu, pagi ini Berlian mencari cara agar badannya sedikit terasa enak dengan cara duduk di beranda rumah, menemani sang suami yang hendak pergi mencangkul kuburan—ralat, maksudnya adalah ladang warisan ayahnya.

“John! Sudah kubilang ‘kan, taruh duru cangkulmu dan lari kejar kambing itu! Kalau terlindas mobil bagaimana?! Kau mau—AKH PERUTKU!”

Mendengar rintihan yang berakhir pada teriakan Berlian, Johnny sekonyong-konyong membalikkan badan. Kakinya yang semula hendak melangkah guna mengejar kambing yang sudah raib keluar pagar kini beralih untuk menghampiri Berlian.

Berusaha menjelaskan, Johnny tahu segala cekcok yang berusaha diutarakannya tak mampu menenangkan Berlian. Wanita itu kini bersimpuh sambil menarik-narik kemeja bagian bawah Johnny. Beruntungnya, entah Johnny yang terlalu peka atau memang jiwa kebapakannya muncul secara alami, pemuda itu lekas-lekas mengelus perut Berlian.

“Wah, anak kita mulai menendang-nendang, Sayang ….” ujar Johnny singkat ketika tangannya terulur, merasakan pergerakan sang bayi di dalam rahim Berlian.

“Sudah, jangan sok peduli, kau John! Cepat urus saja kambing itu lalu nanti malam—“

“Mengurusmu. Baiklah, akan kulakukan jika itu permintaanmu, Sayang.” Johnny berceletuk ria tanpa menyadari air muka Berlian yang mulai masam, menyiapkan ancang-ancang untuk—

PLAK!

ups, pipi Johnny jadi bersemu merah, deh!

Kemudian tanpa merajuk ataupun ngambek lantaran tepukan keras—sebut saja demikian—Berlian, Johnny segera bangkit setelah membopong sang istri masuk ke dalam rumah.

“Sudah ya, aku mau pergi ke ladang dulu lalu menemui Yuta untuk nego masalah hewan ternak yang hendak kita impor dari Jepang. Pokoknya kau di rumah saja, manjakan anak kita yang sudah pandai membuat ibunya kesakitan, hehehe.”

Belum genap tubuh Johnny menembus pagar, Berlian sudah berteriak sangat kencang sembari berusaha menyusul langkah sang suami.

“JOHNNY! PANTAS SAJA DI DALAM RUMAH AKU SELALU MUAL-MUAL! KAU BELUM MENYIRAM KLOSET, DASAR BAKUL KAMBING!!!”

Oh Tuhan. Sepertinya berdua bersama hewan ternak lebih menyenangkan daripada berdua di sisi Berlian.

***

“Jadi bagaimana? Kambing ini gemuk, lho Pak. Kalau sudah memasuki usia produktif biasanya bisa hamil empat anak sekaligus.”

Seiring penjelasan Yuta—agen ternak paling sukses seantero Asia—Johnny hanya bisa manggut-manggut. Ia hanya ingin cepat-cepat melunasi acara negosiasinya kemudian pulang ke rumah karena sudah rindu dengan Berlian.

“Baiklah Mas Yuta, saya ambil yang kualitasnya paling super, paling baik jika diambil susunya dan—oh, jangan lupa bonus kalkun untuk istri saya yang sedang ngidam, ya.”

“Oke Pak Johnny, semua sudah beres! Mau debit atau tunai?”

Oke, satu hal yang terlambat Johnny sadari; ternyata kantor peternakan milik Yuta sudah dilengkapi fitur yang bahkan bisa mengalahkan supermarket, yaitu mesin gesek untuk melakukan pembayaran non tunai. Satu lagi, ketika Johnny memeriksa kesehatan fisik calon kambingnya, sebelum mereka masuk ke dalam kandang, Yuta dengan canggihnya mendekatkan salah satu matanya pada mesin kecil yang tertempel pada pintu kandang.

Wow, bahkan Yuta melengkapi fitur retina agar pintu kandang terbuka. Begitu batin Johnny.

“Pakai debit saja, Mas Yut,” ujar Johnny sambil tersenyum.

***

“John! Yang benar dong kalau memandikan kambingnya! Lihat tuh, kotorannya nyiprat ke pakaianmu, tahu!”

“Ssttt … diam sedikit, dong Ber! Kau pikir momong kambing itu semudah momong dirim—“

BRUK!

“ASTAGA JOHN!”

Memang dasar Johnny, sudah tahu sang istri sedang hamil masih saja menyusahkan. Bayangkan, tubuh jangkungnya tiba-tiba terjengkang karena licinnya kotoran kambing di dalam kandang.

“Aduh … sakit, Ber ….” Johnny mengaduh, bokongnya sudah pasti mati rasa karena mencium tanah terlebih dahulu.

“Makannya! Kalau momong kambing itu yang benar! Lihat, pakaianmu penuh tahi kambing. Hiiiiiiii ….” Jujur saja, Berlian begitu bergidik saat Johnny bangkit dan mendekatinya, membuat wanita itu dilanda mual yang teramat sangat.

“Eh … Sayang … jangan mual tolong jangan mual!”

“Tidak bisa, John! Pergi! Pergi!” sergah Berlian sambil menutup hidungnya.

Sedangkan Johnny, calon bapak yang satu itu segera pergi ke kamar mandi guna membersihkan diri—dan selanjutnya bersiap-siap untuk momong istrinya, tentu saja.

MBEEEEK!

Oh lihatlah, bahkan kambing jantannya sangat durhaka karena telah menertawakan nasib sial Johnny.

***

“Berlian mau makan malam pakai apa?”

Akhirnya, setelah pagi sampai siang hari pemuda itu momong hewan ternak—yang agak laknat—miliknya, Johnny bisa menyisihkan waktunya untuk momong sang istri pada malam hari. Momong dalam hal positif, tentu saja.

Raut Berlian terlihat begitu bersemangat, senyumnya merekah sempurna. “Bagaimana kalau semur jengkol? Seperti masakan yang selalu kaucicipi saat kita mudik ke Indonesia.”

Johnny hanya bergidik, menautkan kedua alisnya maksimal. “Apa? Kenapa tidak yang lain saja? Seperti soto Lamongan atau nasi pecel? Oh, bakso Malang, mungkin?”

Oke, Johnny baru saja menyebutkan deretan makanan khas Indonesia favoritnya. Padahal sebenarnya Berlian paling suka lalapan, tapi sepertinya ia sedang tidak berselera kali ini.

“Kautahu ‘kan kalau anak kita ini benci mentimun? Setiap aku makan lalapan selalu saja mual-mual.” Berlian beralih, mengerling ke arah perutnya yang membuncit.

“Oh astaga! Kenapa makanan paling lezat seperti itu malah menjadi pantanganmu, Sayang?” Johnny mengulurkan tangannya, mengelus-elus perut sang istri dengan lembut.

“Tidak enak John kalau makan lalapan tidak pakai mentimun.”

Sosok Johnny kini memangkas jaraknya dengan Berlian, disusul rengkuhan jemari wanita tersebut pada milik sang suami yang masih mengelus-elus perutnya. “Ingat ya, kalau tidak suka makan mentimun nanti kau tidak bisa tampan seperti Papa, lho. Papa dulu waktu masih remaja gemar makan sayur dan minum susu. Kalau bisa anak Papa nanti kalau sudah besar rajin minum susu juga, agar bisa jadi pemain basket!”

Selanjutnya, perkataan Johnny yang terdengar sebagai bujukan motivasi itu berhasil membuat Berlian terkikik renyah. Bahkan pada saat seperti ini pun, sekesal apapun Berlian pada Johnny setiap pagi karena selingkuh dengan kambing-kambingnya, wanita itu tetap mencintai Johnny. Ada kalanya semua memiliki batas, dan ada kalanya pula semua jadi berkebalikan.

“Jadi … kau mau ‘kan membuatkanku semur jengkol?”

Cup!

Johnny mendaratkan kecupannya pada bibir Berlian.

Everything for you, Baby!

-fin.

Selamat ulang tahun Johnny Seo! (170209) ❤ Buat Kaber a.k.a Berly a.k.a Kak Berlian, terima kasih sudah mencintai Johnny dengan setulus hati ❤ 

Advertisements

4 thoughts on “For Johnny

  1. haluuu donna! kita kayanya udah kenalan dan follow-followan dari lama tapi jarang interaksi ya ehe. so, aku nadya dari garis 97 don, in case donna lupa ^^

    aku baru-baru ini kenalan sama nct, terus ga berhenti ngakak doooong bayangin johnny jadi peternak kambing :” sumpah ya don, padahal aku baca ini sambil makan ayam geprek di deket kampus yang tempatnya lumayan rame heuuu :” fanfic yang latarnya indonesia banget gini tuh menurutku agak cringey sebenernya, hahaha. ga kuat bayangin idol yang cakep-cakep itu jadi tukang jamu, pedagang asongan, atau peternak kaya gini. apalagi johnny kan macho banget, tapi di sini jadi kocak ya ampun atuhlah donna 😦

    keep writiiiing something funny (and sweet) yaaa don 🙂 ❤

    Liked by 1 person

    1. Haloooo kak Nadya, aku agak2 lupa tapi akhirnya inget yaa😂 /digebuk/

      Ciyeee baru kenalaaan, apakah kepincut sama pesona mamas Johnny? Atau kepincut sama hewan ternaknya juga? /digiles beneran/
      Aku sebenernya agak ga tega gitu aja kak, tapi entah kenapa tiap denger kata ‘Johnny’ itu kotak recehku bangkit untuk menistakan doi😂😂 secara dia kan mukanya ((yang menurutku)) paling pas buat dijadiin suami idaman para wanita sejagat raya dan tanah air beta /dikeplak/
      Jangan salaaah, macho2 gitu bakat jadi peternak lho xD

      Btw makasih kak Nadya suda mampir dan komen dimari yaaa… Mari kita nistakan Johnny bareng2😂😂

      Like

      1. udahlah don lupain aja lupain aku emang ga penting buat kamu huhu (lah). aku kayanya seneng doyoung nih don, please banget jangan dibikin nista yaaa :”)

        anyway kita ternyata selapak loh don di B24FFI hahaha aku baru sadar :”

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s