[JAN’s OST] #3rd Week (A) – Hidden Wings

hidden-wings

HIDDEN WINGS

©2017 — thehunlulu

Starring BTS’s Jeon Jungkook & OC Genre Family, Sad, Hurt/Comfort Length Vignette (±1200w) Rating General

See Also : Gxchoxpie’s ; ninegust’s

1st Week (A) | 1st Week (B) | 2nd Week (A) | 2nd Week (B)

“I think I was a little scared.” —Love Story by Lyn (The Legend of The Blue Sea OST)


Terhitung sudah dua belas tahun Jungkook hidup dalam kesendirian. Jalan hidupnya tak lagi sama selagi berjalannya waktu. Kami berdua lumpuh. Lumpuh dalam artian ia tidak lagi bisa bertukar cakap denganku, sedangkan hatiku begitu mati rasa untuk menganggapnya sebagai adik kandung. Bibir tipisnya tak lagi mengutarakan seuntai frasa, pun ejekan yang kerap kali ditunjukkannya. Hanya tangisan yang tak jarang diperdengarkannya. Bukan pada khalayak ramai, melainkan pada keadaan. Keadaan di mana puluhan—bahkan ratusan—motivasi baik yang mengiringi hidupnya kini berputar balik.

Jeon Jungkook, terlihat seperti monster.

Pemuda itu hanya bisa berkomunikasi melalui sepasang iris gelapnya, meraung-raung layaknya pasien pengidap kelainan serius. Sementara aku—seorang gadis menyedihkan—yang kuinginkan hanyalah kasih sayang kedua orang tua yang selalu mereka curahkan pada Jungkook, tidak lebih.

Jungkook—adik kecilku satu-satunya—mengidap Agyrophobia. Fobia yang membuat seseorang sangat takut untuk menyebrang jalan raya. Bahkan untuk melintas di atas trotoar saja sudah membuatnya keringat dingin hingga bicaranya tergagap-gagap. Sebenarnya Jungkook adalah sosok pemuda optimis, sukar untuk mempercayai berbagai hal buruk yang tahu-tahu sudah berdiri di depannya sendiri, hendak memeluknya. Jungkook selalu bisa melewati masa-masa sulit, namun untuk kali ini ia berada pada level yang terlampau tinggi untuk mengatasi itu semua.

Saat umur delapan tahun—aku selalu ingat—ia bertandang keluar rumah karena sudah berjanji untuk memandikan domba ternak milik paman kami. Ia sudah bersiap-siap di beranda rumah sampai paman kami datang. Setelahnya, mereka pergi menuju jalan raya dan mulai menyebrang. Paman memiliki penglihatan yang tidak terlalu baik, hingga beliau tidak melihat truk yang tengah melintas dengan kecepatan tinggi di sampingnya. Sedangkan Jungkook, ia tetap bergeming di tempat yang sama karena jarak pandangnya terhalang oleh tubuh jangkung paman kami. Setelahnya, klakson bus tersebut mengudara cukup lama selagi tubuh paman terpental jauh, menyisakan Jungkook yang selamat karena berguling di antara keempat roda truk yang tengah melesat kencang.

Hingga pada akhirnya dunia menjadi gelap, dan diriku tidak mampu menembus kegelapan yang masih tersisa pada diri Jungkook selama dua belas tahun ini. Semuanya terasa begitu semu, orang-orang di sekitarku seakan buta, dibutakan akan presensiku. Mereka terlalu memihak Jungkook, terlalu sering mengasihi, terlalu cepat untuk melepasku. Padahal, yang selama ini kukhawatirkan adalah hilangnya dua hal; kehilangan Jungkook, juga kehilangan kasih sayang kedua orang tua kami.

Sungguh, ingin rasanya diriku raib dari muka bumi ini. Sulit rasanya, dua belas tahun hidup seakan tidak terjadi apa-apa, kendati isi hati yang terlampau sesak seakan merunyamkan seluruh harapanku.

Aku tak lagi punya siapa-siapa, yang kumiliki hanyalah Jungkook—adik kecilku yang kehadirannya terkadang ingin kurenggut sehingga kasih sayang mereka berpihak padaku. Hanya itu, tidak lebih. Bahkan untuk saat ini, aku berharap efek trauma berat Jungkook menjalar hingga bukan pita suaranya saja yang tidak bekerja, melainkan otaknya juga.

Kudekap tubuhnya erat, seperti sore kemarin saat petir menyambar dan Jungkook hanya bisa meringkuk lirih di balik selimutnya, namun kali ini lebih erat. Aku rindu suaranya, dan kerap kali membayangkan suara cemprengnya yang masih berumur delapan tahun itu telah berubah layaknya suara orang dewasa.

Jungkook-ah, selama dua belas tahun terakhir, apa yang membuatmu mampu berbicara lagi?

Aku menyayanginya, sangat amat menyayanginya. Namun tindakanku pada Jungkook selalu berbuah seperti hardikan. Aku benci, aku iri padanya karena bisa mendapat simpati banyak orang sehingga aku melampiaskan kekesalan dan amarah padanya. Pada dasarnya, aku lah yang salah, namun setelah melampiaskannya pada Jungkook, rasa kesalku menguap entah ke mana.

Kuusap surainya yang harum. “Jungkook-ah, aku menyayangimu,” bisikku setelah merangkak ke atas tempat tidurnya, lalu memeluk tubuh itu. “Berjanjilah untuk tidak menyesal karena peristiwa itu, Kakak juga janji tidak akan memarahi Jungkook dan membuatmu menangis lagi.”

Jemari Jungkook bergerak, menyisir pelan rambutku sementara kepalanya bertopang di atas pundakku.

“Jika kau merasakan sesuatu atau ada hal yang ingin kauceritakan, pergilah menemuiku dan aku berjanji tidak akan menghindar lagi. Kakak akan berusaha keras untuk mengerti keadaanmu, apapun yang terjadi.”

Jungkook merapatkan cengkeramannya pada lengan bajuku. “Ha … ngat ….”

Aku terdiam. Membeku pada detik yang sama. Suara yang sangat tidak familiar itu menembus gendang telingaku. Jungkook terisak.

“J-Jung—“

“Hangat …. “ ujarnya kembali, suaranya serak.

Seperti ada sebuah palu yang menghantam dadaku, rasanya sesak. Atensiku beralih, melepas pelukanku dan memandang sepasang manik teduh Jungkook. Air matanya kembali meluncur, samar-samar bola matanya bergerak dan sekarang kami saling bersitatap.

“Apa yang baru saja kaukatakan, Kook?” tanyaku dengan sebuah pertanyaan retorik yang seharusnya tidak perlu dijawab, karena aku sudah tau apa yang dikatakannya.

Sepasang katup bibir Jungkook bergetar, berusaha keras untuk kembali berbicara. “Kak … Kau tidak pernah melakukan ini padaku ….” Ia terisak. “Tidak ada yang memelukku selain Kakak, aku iri padamu karena setiap hari bisa saling bertukar sapa dengan ayah maupun ibu, dan mereka terkadang memelukmu saat kau sedang susah ….”

“A … apa maksudmu?”

“Sedangkan aku? Aku dianggap seperti sampah hidup di dalam kamar, mereka seperti tidak sudi menyentuhku dan menganggapku sebagai patung karena tidak bisa bicara. Mereka menganggapku manusia paling aneh karena hanya bisa menangis dan melempar barang-barang jika kemauanku tidak terpenuhi. Aku … iri padamu, Kak ….”

Rentetan pernyataan Jungkook membuatku terkesiap.

“Aku sempat mengira bahwa kau membenciku, kau malu memiliki adik bisu sepertiku, tapi kenapa kau—“ Napasnya tersenggal-senggal, ia menghapus air matanya kasar. “—malah tidak bersyukur dan memilih untuk menyalahkan keadaan hanya karena orang-orang tidak menyayangimu? Aku memang tidak bisa bicara waktu itu, tapi pendengaranku masih bisa menangkap maksud dari teriakanmu setiap malam di hadapanku. Aku tahu kau kesal, kau ingin menukar kehidupanmu dengan sesuatu yang lebih indah, aku tahu itu ….”

Adikku, Jeon Jungkook, nyatanya memiliki jalan pikiran yang lebih rasional dariku. Aku sedang tidak ingin memanggil orang tua kami karena Jungkook yang tiba-tiba melontarkan sebuah percakapan. Aku sedang ingin berdua dengannya, menangis bersamanya, meluruskan segala kesalahpahaman yang terlanjur mendominasi pikiran kami.

Pada dasarnya ia menyayangiku, begitupula diriku.

“Kook ….” Kali ini aku menangis, menundukkan kepala dalam-dalam dan menggamit jemarinya erat. “Apa … apa yang membuatmu berkata seperti itu?”

“Apa aku salah, Kak?”

Kugelengkan kepala kuat-kuat. “Kenapa kau lebih memilih untuk diam, Kook?! Kenapa kau mulai bicara padaku sekarang?” bentakku, memukul pundaknya lemah.

Jungkook menghambur lantas menarik tubuhku menuju pelukannya. Ia mendekapku. “Aku takut … takut jika kau tidak akan pernah merawatku lagi kalau keadaanku sudah membaik. Aku takut kalau kau menganggapku bisa melakukan segala hal tanpa perlu bantuanmu. Aku takut tidak ada yang menyayangiku lagi, Kak ….”

“Aku juga takut, Kook ….”

“Apa yang kautakutkan?”

“Kehilanganmu.”

“Kak,” panggil Jungkook seraya menumpu tangannya di atas salah satu pundakku. “Bukan itu yang harus kautakutkan sekarang. Aku tahu dibalik amarah yang selalu kauluapkan padaku, ada setitik celah agar diriku mampu menembusnya,” ujarnya sambil meletakkan telapak tangannya di dada. “Aku ingin mengisi kekosongan hatimu, Kak. Aku ingin menemanimu di kala kau susah, menghiburmu semampu yang kubisa namun semuanya terasa sulit. Kita berdua saling memendam perasaan gelisah satu sama lain, aku tahu itu. Maafkan aku telah merepotkanmu, Kak, membebani hidupmu dengan kehadiranku ….”

Aku tak mampu berucap. Seorang Jeon Jungkook yang sudah beranjak dewasa telah menyadarkanku akan suatu hal; bahwa ia lah yang lebih membutuhkan kasih sayang. Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, tidak seharusnya aku meraung-raung untuk mengembalikan kasih sayang orang tua kami yang belum sempat terlaksana.

“Maafkan aku, Kook … maafkan aku ….”

Jungkook bukanlah monster. Melainkan ia adalah malaikat yang sayapnya tersembunyi di balik segala keterbatasannya, yang kelak akan ia rentangkan untuk kujadikan sandaran segala keluh kesah yang kumiliki.

.

I think I was a little scared.


fin.


  • Ide cerita terinspirasi dari gambar ini nih waktu iseng-iseng nelusuri pinterest: image1-9
  • LOL yang phobia nyebrang itu yang nulis sebenernya wakakaka jadi Don itu takut nyebrang, entah itu termasuk phobia apa engga yang jelas ya emang waktu mau nyebrang itu langsung keringet dingin, takut ditabrak jadi gabisa kalo nyebrang jalan sendirian :’)
  • Mind to review? 😉
Advertisements

2 thoughts on “[JAN’s OST] #3rd Week (A) – Hidden Wings

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s