[JAN’s OST] #1st Week (B) – Last Spring

img_5444

LAST SPRING

©2017 — thehunlulu

[SF9’s] Kim Inseong & OC — Friendship, Slight!Romance/2 Ficlets/General

See Also: Gxchoxpie’s ; ninegust’s

1st Week (A)

“I want to walk with you, whatever path we take.” —Say Yes by Loco & Punch (Scarlet Heart Ryeo OST)


1st

Tidak ada sebuah perubahan besar belakangan ini. Beberapa orang mengatakan—bahkan berambisi—untuk melakukan sebuah resolusi baru pada tahun 2017, yang sejujurnya kerap kali mengundang beberapa asumsi yang bersarang di otakku; haruskah gadis berumur dua puluh dua sepertiku meneruskan usaha restoran milik ibu, atau menambah jadwal kelas musik karena hal itu adalah bidangku.

Tepat, pilihanku jatuh pada opsi kedua; menambah jadwal kursus musik seperti yang sudah kurencanakan sejak musim semi tahun lalu. Bukan tanpa alasan aku memilih demikian, pasalnya ada seseorang yang sangat menginspirasiku untuk terus berlatih dan mengimprovisasi bakatku di bidang musik. Meskipun kami tergolong tidak terlalu kenal—entah ia mengingatku atau tidak—tapi aku yakin suatu saat kami bisa menjadi partner yang baik pada tahun ini. Resolusi yang cukup sederhana, menurutku.

Namanya Kim Inseong. Dua tahun lalu pernah pernah mengambil kuliah jurusan musik di Royal Academy of Music yang berada di London. Pemuda itu merupakan kakak tingkatku di mana sebelum kami pindah ke Korea, ia dikenal sebagai senior yang cukup memiliki talenta. Pada beberapa kesempatan ia sering memenangkan festival dan ajang-ajang populer di London. Sosoknya ramah, mudah bergaul dengan siapapun, juga murah hati dalam berbagi ilmu.

Pernah pada sebuah kesempatan ketika senja mulai bertandang, kusempatkan diriku untuk menunda pulang. Menguras beberapa menit terakhir sebelum gerbang ditutup kemudian menyusuri lorong kampus yang menyiratkan cahaya remang. Tidak ada sebuah alasan pasti mengapa diriku melakukan hal tidak terlalu penting seperti itu, mengingat pekan berikutnya sudah ujian akhir. Menyambangi perpustakaan juga tak kunjung menggugah hati—jikalau berniat untuk mencari referensi guna melengkapi tugas akhir.

Langkahku terantuk-antuk, mengambil jalan setelah menyelesaikan anak tangga menuju koridor selatan sebagai destinasi. Lenganku terayun sementara kedua tungkai tetap mematri langkah tanpa ragu. Hening mendominasi, kedua runguku hanya menangkap kesenyapan suasana pada waktu itu. Hingga beberapa detik terpangkas tiada arti, sebuah alunan melodi sayup-sayup menyambangi kedua telingaku. Tampak dari kejauhan sebuah cahaya terpancar menembus pintu kaca, mengundang kuriositasku untuk bertandang menuju studio musik.

Jangkahanku mendadak terhenti bersamaan ketika sepasang irisku menangkap sosok Inseong di dalamnya. Tubuh jangkungnya berdiri, tangan kirinya memegang mic sementara tangan yang satunya memosisikan kacamata bulat yang bertengger manis pada wajahnya. Satu detik. Dua detik. Hingga beberapa detik ke depan ia masih bergeming, mengamati pantulan dirinya yang berbalut kaus putih polos dan kemeja denim di depan cermin raksasa.

Berikutnya Inseong masih terpaku, membuatku secara tidak sadar ikut mengamatinya dari kejauhan. Tak lama lantunan aransemen terdengar, selaras dengan angin yang menyiur samar menerpa wajahku. Kuamati lekat-lekat sosoknya yang tengah menyanyikan lagu Just The Way You Are milik Bruno Mars; suaranya lembut pun merdu, mengundang senyuman perlahan terulas pada kedua ujung bibirku.

Faktanya, tak berselang lama Inseong menyudahi latihannya dan beranjak keluar dari studio musik sembari membawa tas ransel hitam pada pundaknya. Kedua bola mata kami tidak sengaja bertemu, lantas langkahnya terhenti. Tatapannya terlihat menyenangkan selagi sebuah senyuman terkulum pada wajahnya.

“Kau tidak pulang?”

Hanya sesederhana itu, sosok Kim Inseong diam-diam membuatku menyimpan rasa padanya.


2nd

Tahun kedua berada di Korea terbilang tidak buruk. Jika dibandingkan dengan kuliah di London dua tahun yang lalu, di sini aku bisa lebih leluasa untuk belajar menjadi tutor musik—mungkin karena tidak adanya perbedaan bahasa dan kebiasaan seperti di Inggris.

Aku memulai sebuah petualangan baru dengan menjadi tutor di sebuah tempat kursus musik sejak musim semi tahun lalu. Biasanya selepas kuliah, sekitar jam empat sore aku akan mengisi waktu luang untuk mengajar beberapa teknik dasar menyanyi dan bermain biola. Perhatianku hanya terfokus pada bagaimana perkembangan peserta kursus dari hari demi hari. Hanya sebatas itu. Jika mereka sudah cukup mahir, maka akan naik ke kelas berikutnya dan meniggalkan kelasku yang tergantikan oleh peserta baru.

Hingga pada suatu momen perhatianku seketika bercabang menjadi dua bagian. Bagian pertama tertuju pada bagaimana cara mengasah skill peserta kursus, bagian kedua tertuju pada presensi seorang gadis yang tak ayal membuatku cukup terkejut menyadari kedatangannya sebagai peserta baru.

Namanya Kim Youngri. Aku ingat betul, kami pernah kuliah di kampus yang sama saat di London. Lebih tepatnya, gadis bersurai seperti daun pada musim gugur itu merupakan adik tingkatku. Ia tidak populer, tidak juga kenal satu sama lain denganku seperti kebanyakan mahasiswa. Namun ia sering menjadi bagian dari panitia festival musik di kampus kami, sehingga mau tidak mau aku sering bertemu dengannya saat melakukan gladi maupun di belakang panggung.

Tidak pernah kusangka sosok itu muncul di hadapanku kembali. Setelah sekian lama waktu yang bergulir, saat di mana aku mulai melupakan perasaanku padanya, Youngri justru hadir kembali. Gadis itu meluapkan perasaanku yang terlanjur pupus, mencoba memberi celah untuk mengenalnya lebih dekat.

“Siapa namamu?” Kini giliranku untuk berkenalan dengannya seperti yang kulakukan pada peserta lain.

Rautnya memancarkan seulas senyum, ia benar-benar terlihat semakin cantik sejak dua tahun lalu. “Kim Youngri. Mohon bimbingannya.”

Aku yakin ia masih mengingatku. Maka aku tidak melakukan sebaliknya; memperkenalkan diriku sendiri seperti biasanya. Kami tidak pernah bertukar cakap sebelumnya. Karena yang paling berkesan menurutku adalah saat melihatnya berdiri di depan studio musik ketika kami masih kuliah di London. Kemudian aku mengajaknya pulang karena sudah larut senja namun ia menolak; ada beberapa tugas yang harus ia kerjakan di perpustakaan, katanya. Padahal jika dipikir-pikir, hari itu aku bergantian untuk menjadi petugas perpustakaan dan kuncinya kusimpan di dalam tas. Entahlah, gadis itu sungguh misterius namun menggemaskan.

Seusai jam kursus, rutinitas selanjutnya adalah kembali pulang. Youngri tampak lebih dahulu berjalan di depanku dengan kemeja berwarna pink pastel yang ia kenakan. Senada dengan warna bunga-bunga yang bermekaran di sepanjang jalan.

“Kim Youngri!” panggilku sambil berlari kecil ke arahnya.

Youngri menoleh sebelum menyapaku balik. “Selamat sore, Kak.”

“Santai saja, jangan terlalu formal begitu,” ujarku mengimbangi langkahnya menuju halte bus dan menerawang manik hazel-nya.

Kedua pipinya semburat merah, melengkapi hatiku kembali yang diam-diam memendam perasaan padanya setelah sekian lama tidak bersua.

“Kita sepertinya pernah bertemu, ya? Kau pernah kuliah di Royal Academy of Music, ‘kan?”

Youngri mengangguk. “Iya, kita pernah bertemu sebelumnya, omong-omong. Kak Inseong sangat populer di seluruh penjuru kampus, sehingga tidak ada yang tidak mengenalmu hehehe.” Gadis itu terkekeh.

“Kau tidak keberatan ‘kan jika bertemu lagi denganku?”

Youngri menengadahkan pandangannya, seperti mengabsen satu per satu mahkota bunga yang bergerombol apik di atas kami. “Tentu saja tidak. Aku sangat senang bisa berjumpa dengan senior sepertimu lagi!”

Aku tersenyum kemudian. Menatapnya yang sedang berjengit kecil untuk memetik bunga yang tampak merah muda dari dahan yang rendah.

“Ah, busku sudah datang rupanya. Aku duluan, Kak!” Youngri berlari menuju halte yang tidak terlalu jauh dari tempatku kemudian menerobos pintu otomatis yang nyaris tertutup.

Kemudian gadis itu melambaikan tangannya dari dalam bus. Senyumku seketika merekah sempurna.

“Youngri-ah! Ayo jalan denganku kapan-kapan!”

Entah ia mendengarku atau tidak. Setelahnya, bus yang ia tumpangi melesat pergi menjauh dari edaran mataku.

.

.

I want to walk with you, whatever path we take.

 


-fin.

Teruntuk ROMA a.k.a ninegust a.k.a mbasin, makasih yaaa udah boleh minjem mba Youngri-nya hihihihi. Kali ini engga nista kok enggak! XD

Kukasih bonus foto tutor musiknya nih:

img_5443img_5436img_5441img_5442img_5445

Advertisements

12 thoughts on “[JAN’s OST] #1st Week (B) – Last Spring

    1. segala sesuatu yang inseong lakuin bakal berdampak satu: baper. okesip kali ini dia harus musnah dari muka bumi wakakakaka… tutor violin kaya dia itu limited kak, kudu kuliah sampe london dulu baru bisa ketemu dia /gaaa/. makin tua makin imut, nanti dikira anaknya mom????? /plak/

      makasih sudah mampir dimari mooomm ❤ ❤

      Like

  1. Oke sip Donjaaa…. Ya ampun posternya ngga nguati… 😂 WHAAII MASS WHAAIII DIRIMI SO KYUUTTT PADAHAL UDAH BERUMUR :)))))),

    “Youngri-ah! Ayo jalan denganku kapan-kapan!” – pankapan ajakin aku juga ya.. :””””””””
    .
    Nic fic Donjaaa kyuuu ❤❤❤ /sejak kapan gua panggil donja? / /sejak ini/ /plakk/ 😂
    Semangat Donjaaaaa luv luv ❤❤

    Liked by 1 person

    1. Posternya pengen dibungkus bawa pulang ya dif? XD (((so kyut padahal sudah berumur))) tolong konotasiku negatif tentang itu XD jangan seong jangan ajakin difanti, dia sudah mendua dengan mark wkwkwk…

      Wait…. Darimana kamu tau kalo panggilanku di sekolah itu donja? XD btw makasiiih difantii sudah mampir yaaa ❤️❤️ love you…

      Liked by 1 person

  2. DOYOUNG BANGET ASSAAAAAAWWWWWW DAN DON KENAPA KAMU MENDESKRIPSIKAN ANAK INI BENER BENER CUTE GITU AW, SUMPAH IH PARAH BENER LAGI JADI KAKAKELAS ADEKALS ZONE GITU AW!!!! TAU GASI ROMA DARI AWAL SENYUM SAMPE AKHIR KALIMAT XD PARAHHHHH LUCU BANGET SUKAK LOVE LOVE💜💜💜💜 KAMU TERBAIK💓💕😜

    Liked by 1 person

    1. LUCU BANGET YHA AKU KEBAWA BAPER NULISNYA HIHIHI ABISNYA INSEONG LUCU BANGET SIH PARAH GA NYADAR UMUR :’)

      Apa aku kudu mempertemukan mereka? Karena sesungguhnya mereka saling menyimpan rasa namun tak kunjung menyadari satu sama lain uhuk :’) kuingin menangis di pelukan inseong aja /ga/.

      Anyway makasih kaksin sudah mampir dimari yaaaa, makasih juga suda dipi jemin oc nya ❤

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s