[Christmas Gift #4] Bertemu Kembali

-December Project by romakelapa-

Previous: #1 ; #2 ; #3


BERTEMU KEMBALI

See also: ninegust’s


Seungsik agaknya sedikit merasa sedih karena natal tahun ini tidak dilaluinya bersama sanak keluarga. Terlebih, karena beberapa hal pula yang membuat dirinya mau tak mau menghabiskan penghujung dua ribu enam belas ini pada sebuah supermarket. Memang, tidak ada hal spesial yang patut ia banggakan dengan menjadi seorang pekerja part time sepertinya. Namun di sisi lain, sebuah tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri pastilah tumbuh dalam benaknya, sebagai anak sulung yang kelak akan menghidupi dua orang adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Semenjak kepergian kedua orang tuanya beberapa bulan silam, bekerja bukan lagi menjadi pilihan bagi Seungsik, melainkan telah berpindah menjadi sebuah kewajiban.

Ingatan akan kedua orang tuanya kembali menyeruak, menyalurkan nasihat-nasihat yang kerap kali menggugah hati kecil seorang Seungsik manakala berpapasan dengan yang namanya seorang pemimpin. Entah apapun itu, kendati tidak ada sebuah persiapan matang, sepatutnya seorang ayah sudah mengarahkan putra sulungnya untuk menjadi sosok dewasa. Bukan berarti dewasa dalam konotasi negatif, melainkan dewasa dalam berpikir maupun bertindak.

“Selamat malam! Silahkan berbelanja!” Sapaan khas Seungsik mengudara, lantas dikembangkannya senyuman lebar pada seorang pelanggan setelah menembus pintu supermarket.

Beberapa jemang berlalu, saat dirasa tidak ada lagi pelanggan yang mengunjungi supermarket, sepasang tungkai Seungsik segera bertandang menuju gudang tempat penyimpanan beberapa merk minuman beralkohol. Tangannya terulur sementara tumitnya berjinjit, menggamit sebotol soju dari rak minuman yang letaknya agak tinggi. Selagi menjatuhkan bokongnya di ujung ruangan, tangannya dengan gigih membuka minuman tersebut menggunakan alat pembuka botol.

Satu-satunya cara untuk menghilangkan penat dan kejenuhan selama bekerja adalah meminum sedikit alkohol, alih-alih terbuai bebas berkenala menembus mimpi. Ini bukan kali pertama bagi lelaki itu untuk merehatkan sejenak pikirannya, bukan juga kali pertamanya curi-curi waktu istirahat sebelum kerja part-time-nya selesai. Memang, walaupun ada sebuah opini yang tidak bisa melarangnya; Seungsik sudah genap berusia dua puluh satu tahun, yang berarti sudah legal mengonsumsi minuman beralkohol.

“Sialan!”

Tanpa sadar Seungsik telah merampungkan tegukan terakhirnya. Sebotol soju yang tersemat dalam genggamannya kandas begitu saja dalam hitungan sekon. Ini bukan situasi yang baik, melainkan akan menjadi sebuah bencana karena waktu kerjanya masih tersisa sangat banyak.

Seungsik perlahan bangkit, tubuhnya linglung serta kedua matanya berkunang-kunang. Tidak ada yang bisa mencegahnya berbuat demikian, jika bukan dirinya sendiri yang mengontrolnya. Semuanya salah, seharusnya ia tidak berbuat demikian saat banyak pelanggan yang mulai mengantre di barisan kasir.

“Ah… Mohon maaf—eh, silahkan bayar di sini barangnya.” Ucapan Seungsik terbata, kelopaknya mengerjap beberapa kali saat deretan pelanggan di depannya mengabur, lantas tanpa sadar tubuhnya terhuyung mundur.

“Maaf?” celetuk seorang pria berperawakan tegap yang tengah membawa parsel berisi lemon yang baru saja ia letakkan di atas meja kasir.

Pandangan Seungsik beralih, berusaha menemukan titik fokus. “Alana?”

Diacuhkannya si pemuda, lantas Seungsik melirik ke arah seorang gadis yang tampak berdiri di samping pelanggan tersebut.

“Kau mengenalnya?”

BUG!

Sebuah bogem mentah dilayangkan Seungsik pada tulang pipi si pelanggan. Buku-buku jarinya mengatup rapat, seketika terlonjak kala luapan emosi yang tak bisa lagi ia bendung keluar begitu saja.

“Hei Bung, kalau ingin cari masalah bukan di sini tempatnya!”

“Byungchan-ah hentikan!” sergah si gadis saat pemuda yang bernama Byungchan itu bangkit, melompati meja kasir lalu menghantam pelipis Seungsik dengan ujung sepatunya.

Seakan tidak terima, Seungsik mengambil ancang-ancang guna menarik rambut Byungchan lalu menghempaskannya ke atas lantai.

“Seungsik-ah ada apa denganmu?! Cukup! Hei hentikan sekarang juga!”

Beberapa pasang mata berusaha menyergah, namun tubuh Seungsik terlebih dahulu ambruk menimpa Byungchan.

“Kau mengenalnya, huh?!” tanya Byungchan sambil terbatuk-batuk, seperti menginterogasi Seungsik melalui sebuah bisikan.

Seungsik dapat mendengar lontaran pertanyaan Byungchan, namun dirinya tidak lagi bisa mengontrol semua tindak-tanduk yang telah diperbuatnya. Kepalanya bahkan sungguh terasa berat barang diangkat sedikit.

“Kenapa kau… membawa Alana kemari?”

Hanya sebuah pertanyaan konyol, seperti menampar keras-keras diri Byungchan yang masih mengerjapkan kedua matanya berkali-kali. Seungsik tengah dikuasai efek minuman beralkohol yang baru saja diteguknya, namun sebongkah perasaan yang telah terkubur dalam-dalam di dalam hatinya berusaha tumbuh kembali untuk minta dikasihani.

“Apa hubunganmu dengannya?”

Nyatanya, berperang menahan kata hati lebih baik daripada menyalurkannya begitu saja; memberi peluang untuk memperluas luapan emosi pada orang yang salah, membiarkan orang lain berhasil menemukan kelemahan seorang Seungsik yang sesungguhnya.

“Aku masih mencintainya, jadi tolong jaga Alana baik-baik dan jangan biarkan ia muncul kembali di hadapanku. Kumohon…” bisik Seungsik lirih, suaranya melemah.

.

“Just because you’re right, does not mean I am wrong. You just haven’t seen life from my side.”

.

.

-FIN-

YAAMPUN FIX GAJELAS BANGET BHAY XD

Mind to review? 😉

Advertisements

2 thoughts on “[Christmas Gift #4] Bertemu Kembali

  1. APA APAAN INI KELAPAQ PLIS INI APAAN :’V

    SEUNGSIK KENAPA KAYAKNYA JALAN HIDUPNYA SURAM BANGET PADAHAL DI FIC SEBELAH KAYAKNYA ALUS AJA. YARABBI AKU SUKA ROMENSNYA, KATANYA GABISA BIKIN MELTING AH ELAH INI APAAN GOOD JOB GILS! AKU SUKA TERLEBIH PAS PART:

    Byungchan itu bangkit, melompati meja kasir lalu menghantam pelipis Seungsik dengan ujung sepatunya.

    OKE PERTAMA BAYANGKAN BYUNGCHAN YANG KAKINYA PANJANG MENGHANTAM PELIPIS SEUNGSIK, TERUS BERAKHIR DENGAN PELUK GEMAS DI LANTAI BUKANKAH ITU EUM TERLALU EUM-

    ALANA HARUSNYA BANTU BANGUN WOI!

    ALANA DI REBUTIN GITU XIXIXIXIXIXIXI

    UNTUNG SEJUN CUMAN KANG GALI KUBUR YA

    AH POKOKNYA GOOD JOB AKU SUKA ❤

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s