[Christmas Gift #3] Silence

collage-jpg1-jpg123

-December Project by romakelapa-

Previous: #1 ; #2


♦SILENCE♦

See also: ninegust’s


Semua berawal saat gadis berambut legam sebahu itu duduk seorang diri di sebuah halte. Malam sudah semakin larut, namun ia tetap bersikukuh menungguku di luar sana. Tangannya mengayun dari atas ke bawah, menyapa sentuhan salju yang terjatuh bebas memijak tanah. Sejenak sebuah senyum simpul tercipta pada kedua sudut bibirku, manakala gelap sudah mendominasi namun secercah titik terang bernama cinta tiba-tiba saja timbul di dalam hati.

“Sudah lama menunggu, Alana?”

Gadis itu menoleh, balik membalas senyumanku sementara ia menggeser posisi duduknya. “Tidak terlalu dan tidak masalah, kok,” ujarnya sambil menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya.

Kami berdua menatap kosong ke depan, memperhatikan jalanan yang sedikit lenggang dan sesekali menyipit saat sebuah mobil melintas. Entah pemikiran apa yang diolah otak kami. Yang jelas sedikit kecanggungan agaknya masih terasa karena memang sudah sekitar enam bulan kami tidak bertemu. Alasannya karena Alana mengikuti orang tuanya yang bekerja di New York, dan ia memiliki kesempatan untuk pulang ke Korea sampai malam pergantian tahun berlalu.

Jangan bertanya apakah aku rindu gadis yang duduk sampingku ini atau tidak. Karena pada kenyataannya aku memanglah rindu, dan akan selalu rindu. Namun entah pengaruh udara dingin atau karena alasan lain, lidahku begitu kelu untuk mengucapkan sepatah kata yang terlampau mewakili perasaanku itu.

Pandanganku beralih, menatap lamat paras cantiknya di bawah penerangan halte. Alana menenggelamkan telapak tangannya ke dalam saku jaket. Disusul tanganku yang terulur untuk menelusup ke dalam, menyalurkan kehangatan dengan menggenggam buku-buku jarinya. Ia tidak memberontak, masih belum memulai percakapan karena Alana memang tipikal gadis pendiam jika belum ada orang lain yang terlebih dahulu membuka suara.

“Sudah makan malam?”

Alana menggeleng.

“Kalau begitu ayo kita mencari makan malam!” ajakku, melingkarkan lengan pada bahu Alana.

Tampaknya gadis itu sudah merasakan sebongkah kecanggungan yang mulai mencair, pasalnya ia malah bersenandung ria sambil mendekatkan tubuh mungilnya padaku.

“Byungchan-a.

Pandanganku menurun. “Hm?”

“Pasti ada yang kausembunyikan dariku, ‘kan?” Alana cepat-cepat melepaskan rangkulanku saat gelengan kepalaku lah yang menjawab pertanyaannya. Untuk sesaat gadis itu terdiam, kemudian berlari mengimbangi langkahku. “Bohong!”

“Mana buktinya kalau aku berbohong, huh?!

Alana menyentuh dadaku dengan telunjuknya. “Hatimu. It because some hearts understand each other, even in silence.”

Tanpa sengaja senyumku terkembang, melihat polahnya yang mengundang ribuan kupu-kupu dalam perutku untuk menari. Lantas tanpa aba-aba kuraih pergelangan tangannya, menempelkan telapaknya pada sumber gemuruh di dalam dadaku. “Kau merasakannya, ‘kan? Biarlah ucapanku yang berbohong, namun hatiku sama sekali tidak bisa membendung rasa rindu yang kian sulit untuk diubah menjadi sebuah kata-kata untukmu, Alana.”

Sepasang iris hazel-nya bersirobok dengan milikku, seakan itulah yang mampu ia utarakan saat aku benar-benar dalam keadaan merindukannya. Merindukan senyumannya, nasihatnya, ataupun omelan yang tak jarang ia tujukan padaku.

Tercipta sebuah kurva lengkung pada bibirnya, mengisyaratkan sebuah perasaan yang sama sepertiku. Namun bukankah lebih baik jika seorang laki-laki yang terlebih dahulu menyatakan perasaannya?

Pada akhirnya Alana tersenyum, pipinya semburat merah seperti buah apel. Lantas ia memelukku erat selagi kuusap puncak kepalanya yang harum itu.

“Aku menyayangimu, Byungchan-ah… Bahkan saat kau berhasil memberiku sebuah kehangatan tanpa kehadiranmu sekalipun. Aku merindukanmu, jauh hari sebelum diriku menyadari perasaanku sendiri…”

Kukecup keningnya sekilas. “Kau tahu? Aku telah jatuh cinta pada seorang gadis —“

Alana melonggarkan pelukannya, namun lenganku justru semakin mendekapnya.

“—yang bahkan mencintaiku pada saat aku tidak sanggup untuk mencintai diriku sendiri.”

Akhirnya pelukan kami mengendur. Lantas Alana mendongak, bertukar senyuman denganku sedikit lebih lama. Setelahnya kami merajut langkah, berimbangan menembus butiran salju yang tampak tidak bisa menerobos kehangatan kami berdua.

“Omong-omong kau suka lemon, ‘kan? Bagaimana kalau setelah makan malam kita membelinya di supermarket?”

“Untuk apa?”

“Kado natal untukmu, tentu saja!” tukasku sembari menyentil hidungnya.

Lekas saja Alana mengangguk mantap tanpa penolakan, juga satu senti pun senyumannya yang merosot. Dengan berpegangan tangan satu sama lain, perlahan kekosongan dalam hatiku mulai terisi; tentang bagaimana komitmen untuk saling mencintai dan juga dicintai.

.

“When we’re apart, suddenly all the love songs were about you.”

.

.

-FIN-

  1. Maaf saya ga bakat nulis romens yang fluffy-fluffy gitu wkwkwkwk…
  2. Seneng banget Roma dari tadi tuh soalnya Byungchan kedapetan genre romens wakakakaka aku nya yang ogah banget tolong jatohnya malah rayuan gombal tidak jelas 😦
  3. SOOOO…. OKE KALI INI TIDAK ADA YANG NISTA, CUKUP BEJUN DAN SUBIN SAJA, TERLEBIH BEJUN DIBIKIN MEWEK DAN SUBIN DIBIKIN MATI EHE. /slapped/
  4. Mau makasih dulu buat Kaksin a.k.a Roma yang menghiasi DM twitter dengan keluh kesahnya tentang seri ketiga ini ehe ((ceritanya mau menghilangkan webe, tapi kok malah tambah webe ehe ehe))
  5. Ada yang tau kurang berapa seri lagi yang akan diposting? 😀
  6. “Roma kayaknya aku kudu nembak orang dulu deh biar tau percakapannya orang lagi pacaran tuh gimana.” < ini alasan kenapa saya ga bakat nulis romens, gaizz…
  7. Mind to review? 😉
Advertisements

4 thoughts on “[Christmas Gift #3] Silence

  1. SEKALI LAGI,

    “KADO”

    PLIS KITA SAMA MULU BHAY.

    BTW

    BYUNGCHAN TOLONGIN DI BUNGKUS SATU GAUSAH BAKE BAWANG APALAGI KACANG, CUKUP TAMBAHAN BUMBU CINTA.

    BTW,

    KATANYA GABISA BIKIN ROMENS, APA APAAN INI WOI?! MERAYU RAYU MINTA DI TABOK BYUNGCHAN.

    PLIS AKU GATAHAN.

    Liked by 1 person

  2. Pingback: Marshmallow Land

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s