[Christmas Gift #1] Prize Claw

image1

-December project by romakelapa-


PRIZE CLAW

See also: ninegust’s


Udara dingin begitu menusuk tulang pada penghujung malam menjelang natal. Dengan berbekal kaus turtleneck berwarna hijau tua disertai jaket musim dingin yang berwarna senada, sepasang tungkai Subin melangkah mantap menuju pusat perbelanjaan di Kota Seoul. Lelaki itu berjalan seorang diri—tanpa ditemani oleh teman maupun sanak saudaranya lantaran ia hidup sendiri sebagai murid beasiswa yang jauh dari keluarganya di Jeju.

Tak banyak hal penting yang terlalu menarik atensinya sepanjang perjalanan melewati satu per satu toko maupun kedai minuman. Bahkan Subin sendiri kerap kali dihinggapi kebosanan sampai-sampai ia mengembuskan napas berat, memperhatikan karbon dioksida dari dalam mulutnya yang berdifusi dengan dinginnya udara luar kemudian menciptakan kepulan asap kecil. Sejemang memindai beberapa toko yang tampak ramai dilanjut memperhatikan pernak-pernik natal yang dijual, Subin lantas kembali memacu langkah sampai dirasa menemukan tempat yang bisa menarik hatinya.

Kira-kira sudah dua puluh menit Subin berjalan, menilik satu per satu toko maupun banyak insan yang berlalu-lalang dengan membawa plastik berisi aksesoris natal. Namun dari sekian banyak objek yang ditangkap netranya, tidak ada satupun yang berhasil mengundang kuriositasnya untuk beranjak mendekat pada salah satu toko. Sepasang iris pekatnya mengedarkan pandang, kepalanya berputar kesana-kemari disertai telapak tangan yang ia tenggelamkan ke dalam saku jaket. Sembari memandang gemerlap lampu berwarna emas dan merah yang menggantung di setiap sudut, samar-samar sebuah senyuman tersemat pada bibir tipisnya saat Subin menemukan sebuah mesin permainan yang berisi banyak boneka natal di dalamnya. Meniti langkah lebih cepat dan mantap, Subin lekas mendekati benda yang berhasil menarik pehatiannya tersebut. Kedua obsidiannya tampak berbinar sambil mengamati jajaran boneka yang tertata apik di dalamnya.

Tidak lama Subin kembali dengan dua keping koin yang sudah berada di tangannya. Dari kejauhan pemuda itu melihat sekilas sebuah boneka berbentuk Olaf yang pernah ia temukan pada salah satu animasi Disney. Lelaki bersurai cokelat tua itu menargetkan figur salju berhidung wortel tersebut untuk menjadi sasaran claw yang mulai ia gerakkan perlahan. Sesekali kepalanya memiring bersamaan dengan pandangan yang tampak menimbang-nimbang, sebelum jemarinya menekan tombol berwarna merah untuk mengambil boneka dengan topi sinterklas tersebut.

“Sial!” Umpatannya spontan mengudara. Subin tidak mengetahui jika waktu yang tertera di samping stik yang dioperasikannya telah habis, sehingga claw yang digunakannya otomatis turun, mengambil sebuah boneka yang sebenarnya bukan menjadi target Subin. Maka mau tak mau pemuda itu mengerucutkan bibirnya maksimal disertai gerutuan yang turut serta.

Kemudian tubuhnya menunduk, meraih sebuah boneka berfigur gadis kecil berbalut sweater merah khas natal yang jatuh dari penjepit claw. Tersisa raut kecut pada paras Subin sambil ia menggenggam erat boneka hasil tangkapan tak sengajanya. Beberapa saat kemudian telapaknya menepuk-nepuk boneka itu sambil berlalu meninggalkan mesin tersebut.

“Menjengkelkan sekali mesin itu. Padahal jelas-jelas aku ingin Olaf, bukannya boneka jelek sepertimu.” Lagi, beberapa toko berlalu tak membuat umpatan demi umpatan yang Subin lontarkan juga berlalu. “Hei! Apa kau lihat-lihat, ha?! Ck, jangan tersenyum seperti itu!”

Dengan perasaan dongkol yang masih bersarang di dada, Subin lekas menenggelamkan boneka itu ke dalam saku jaketnya yang terbilang cukup besar. Lalu dengan derap langkah yang cepat, Subin berjalan kembali tanpa melepaskan pandangannya pada hiruk-pikuk Kota yang semakin ramai walaupun malam terlampau larut. Arloji pada pergelangan tangan kirinya menunjukkan pukul dua belas kurang sepuluh menit sebelum menuju tanggal 25 Desember. Subin sendiri tidak akan senekat ini jikalau ada yang menemaninya di apartemen sampai natal tiba. Tapi karena dirinya terlalu bosan, maka jalan-jalan sembari menanti natal tidak ada salahnya juga.

Karena kantuk yang tiba-tiba menyergap, Subin langsung mengambil langkah untuk berbelok menjauh dari pusat perbelanjaan guna kembali ke apartemennya. Jarak yang ia tempuh terbilang cukup dekat, namun ia harus waspada karena beberapa lampu jalan terlihat tidak bekerja dengan baik lantaran beberapa waktu lalu terdapat pohon tumbang yang memutus kabel listrik.

Subin terus berjalan di bawah redupnya penerangan, hingga tidak sadar ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari sebelumnya.

“Eh?” Jemarinya merogoh ke dalam saku jaket. “Ke mana bonekaku?” Pandangannya beralih, melongok ke dalam sakunya sendiri sambil meraba-raba tubuhnya.

Beberapa sekon berikutnya Subin menghentikan langkah. Menatap jalanan kosong di depannya sambil menerawang perihal aktivitas yang sekiranya membuat boneka itu mungkin terjatuh di suatu tempat.

“Mencariku, pemuda tampan?”

Subin nyaris berjengit saat mendengar suara gadis di belakangnya. Ia ingat betul jika saat ini dirinya tengah berjalan seorang diri tanpa ditemani siapapun. Dengan getir Subin menoleh, asupan oksigen seperti sulit dihirup saat maniknya menemukan presensi seorang gadis berbalut sweater merah yang menatapnya datar.

Ritme jantungnya semakin cepat, selaras dengan langkah mundurnya saat si gadis berjalan mendekat. Sepasang bola matanya bersirobok dengan milik gadis itu, terkunci sempurna dengan tatapan yang tak memiliki arti tertentu. Sorotnya seakan menyampaikan setitik pesan yang menyiratkan sebuah tuntutan. Entah apa itu, yang jelas Subin tampak susah payah menghindari gadis itu.

“Kau tadi mencariku, ‘kan? Lalu mengapa sekarang malah menjauh seperti itu?” Suaranya lirih bergetar, parasnya memancarkan sebuah kesedihan. “Kalau tidak suka dengan kehadiranku lantas mengapa kau memilihku?” lanjutnya.

Subin bungkam seribu bahasa. Langkahnya masih belum berhenti sampai punggungnya menabrak tembok. “To…tolong jangan lakukan itu, kumohon…” bisik Subin dengan suara serak dan bergetar saat gadis itu memepetkan tubuhnya sembari mengacungkan sebilah belati pada lehernya.

Dengan sigap tangan Subin bergerak guna menampik benda tajam itu, namun yang ia dapatkan justru ujung belati yang telah menempel sempurna pada kulitnya. “Kaupikir apa karena diriku seonggok boneka maka kau bisa seenaknya memperlakukanku karena aku benda mati?” ujar si gadis sambil menyejajarkan wajahnya dengan Subin, menatap tajam sepasang iris kelam pemuda di hadapannya yang tampak terengah-engah.

“Bu…bukan sepert—“

“Mengarang alasan? Tampaknya mengarang itu indah ya bagi seluruh pria busuk sepertimu,” potong gadis itu cepat.

Subin tidak berani melakukan sedikitpun pergerakan, karena dengan melirik ke arah belati tersebut bisa disimpulkan bahwa sebentar lagi lehernya akan sobek—cepat atau lambat.

“Kenapa kau—“

“Kenapa aku tiba-tiba berubah wujud? Karena aku ingin berterimakasih padamu, pemuda tampan.”

JLEB!

“Akhh… A…apa…yang…kau…laku…kan…”

Dihunuskannya belati itu tepat pada leher Subin. Tangannya dengan lihai mendorong benda tajam tersebut agar masuk lebih dalam, mengoyak kerongkongan dan tenggorokan Subin dengan kencang disertai darah segar yang mengalir keluar sehingga menodai kulit pualam si pemuda. Matanya mengerjap beberapa kali, mulutnya menganga berusaha mengemban pasokan oksigen namun nihil.

Gadis itu menyematkan seringaian hebat saat kedua tungkai Subin tak lagi mampu menopang tubuh empunya. “Terima kasih karena kau telah membebaskanku dari kurungan mesin laknat itu—“

Kedua maniknya menatap sekilas sebuah nametag yang tersemat pada jaket si pemuda.

“—Subin-ah…

JLEB! JLEB!

Desisan si gadis kembali mengudara, mempercantik tubuh Subin dengan beberapa tusukan pada kedua pipinya selagi bau anyir yang mulai tercium. Beberapa pola abstrak diciptakan oleh tangan lihainya, beralaskan kulit wajah seorang pemuda yang kini telah menutup kedua matanya sempurna. Kembali, gadis itu kini merangkulkan lengan Subin pada lehernya lalu memeluk lelaki itu penuh cinta tanpa peduli pekatnya darah yang menghiasi pakaiannya.

“Selamat natal, Subin-ah…” bisiknya disertai kecupan sekilas yang ia daratkan pada bibir Subin.

.

.

-FIN-

  1. CHALLENGE ACCEPTED!
  2. Makasih banyaaaaak ninegust a.k.a kaksin a.k.a Roma yang sudah mau saya ajak buat bikin projek di penghujung 2016 ini, pokoknya kelapa sayang roma deh xixixixi.
  3. Subin itu siapa? Kok posternya diblur? Kok…. Kenapa….. Siapa…..
  4. Maaf Subin, dipinjem romakelapa dulu buat diajak main belati hihihihihi semoga suka /digampar/

 

Mind to review? 😉

-KELAPA-

Advertisements

8 thoughts on “[Christmas Gift #1] Prize Claw

  1. KAYAK

    KENAL

    DENGAN

    BAU

    BAU

    INI

    SEMUA.

    SUBIN NAK SADAR NAK JANGAN MATI SIAPA YANG MAU TANGGUNG JAWAB ?! /plak. APASIH KELAPAQ JAWAB INI APA, BERANI – BERANINYA BONEKA LAKNAT ITU MASUK MENGHIASI HIDUP SUBIN YANG HAMPA INI. TYDAQ KESIAN SEQALI ANAQ INYI YARABBI. LAHAWLA WALAKUWATA ILLABILAH!, U DID IT!!!!!!! YEAAAAYYYYYY SEPERTI INI KAH RASANYA TELAH MENGHANCURKAN IMAGE SUBIN?!

    OQE BALIQ.

    KELAPA AKU SUKA TYTYQ.

    GAMAQE QOMA.

    AKU SUQAQ ITU AJA.

    KAMU GOODJOB

    AKU MAU NANGIS DULU SAMBIL PELUK GEMAS JIHUN

    DADAH KELAPAQ

    Liked by 1 person

  2. KENAPA KALIAN SEMUA NGENISTAIN SUBIN IH ASTAGA DIA MASIH PIYIK JALAN HIDUP DIA MASIH PANJANG KALIAN INI KYAAAAAAAA….

    AKU MAU NANGIS TAU GA DIA YANG TAK BERSALAH HARUS MENJADI KORBAN KEKEJAMAN KALIAAANN… HWHWHWHW

    (maap capslocknya ga nyante)

    but, yeokshi, hahahaha, I LOVE HOW YOU EXECUTE THE PROMPT WE MADE FROM YESTERDAY’S CHAT kkkkk
    KEEP WRITING DEAR ❤

    Like

  3. Pingback: Marshmallow Land

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s