[SongFic] Green Rain

chanhee-jpg123

GREEN RAIN

©2016 — thehunlulu

[SF9’s] Kang Chani & OC — Friendship, Sad, Angst/Vignette/General

***

When I open my eyes to the sound of the clock
It feels new but the day is the same

 

Dahinya mengernyit samar, seberkas sinar yang lolos dari jendela kamarnya membuat Chani menggeliat di atas ranjang tanpa menyadari bahwa selimutnya terlebih dulu merosot ke atas lantai. Perlahan kedua kelopak matanya terbuka, benda pertama yang berhasil menarik kuriositasnya adalah jam dinding berwarna hijau yang menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Terbesit dalam pikirannya, apakah kali ini ia terbangun pada hari yang berbeda, ataukah hanya hari-hari yang sama seperti sebelumnya.

Kini tubuhnya menegak, duduk membelakangi sinar matahari di tepi ranjang. Sedetik setelah mengembuskan napas berat, ia sempatkan kedua maniknya untuk melirik ke belakang. Tak ada awan berarak pagi ini, juga tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh orang-orang yang hendak melakukan aktivitasnya karena cuaca begitu cerah.

Terkecuali Chani.

Ia sangat kalut, terlalu takut menerima kenyataan bahwa cuaca cerah bertandang lebih cepat; menuntun semua orang untuk melakukan kegiatan dengan penuh semangat dan kebahagiaan. Sejak lama ia berpikir, dirinya lah yang menciptakan kesedihan itu. Palung kesedihan yang terlampau dalam. Hari demi hari, perasaannya senantiasa menemani Chani untuk mengisi palung itu dengan air mata yang tiada akhir, hingga membuat diri si pemuda tenggelam dan semakin tenggelam ke dalamnya. Semua itu kesalahannya, hingga ia sendiri tidak sanggup berenang menuju permukaan karena kegelapan telah menggerogoti dirinya.

Yang bisa menolongnya bukanlah egonya sendiri, melainkan seseorang yang juga terlanjur tenggelam, dan Chani tak kunjung menemukan sosoknya dalam kegelapan.

Pemuda itu bangkit perlahan. Setelah menggamit selimutnya yang terjatuh di atas lantai, ia meniti langkah menuju kamar mandi dan segera membasuh wajahnya. Dalam sunyi, pun parasnya yang sangat kusut, tangannya menyambar sebuah buku gambar dan mengantongi pensil ke dalam saku celananya.

Kemudian presensinya menghilang, meninggalkan bunyi gesekan engsel pintu yang berderit di dalam kamarnya.

So I headed to the same place that I go every day without thinking

 

Cukup lama Chani berjalan, menyusuri jalan setapak yang tidak banyak dilalui insan. Pada akhirnya ia duduk pada sebuah kursi kayu yang berada di antara pepohonan rindang. Anak rambutnya sedikit bergoyang diterpa angin, kemudian dirinya mengambil napas sejenak dan mengedarkan pandang. Setelah terdiam cukup lama, pemuda itu mengeluarkan pensil dari sakunya.

Pemandangan sehari-harinya tidak pernah berubah; tanah lapang berhias rumput liar yang membentang tanpa ujung, dua pohon berdaun rindang—Chani sendiri lupa namanya—yang berada di sebalah kanan-kirinya, dan yang terakhir adalah dirinya sendiri. Seorang Chani yang selalu kesepian, sama seperti kursi yang selalu ia duduki setiap hari. Di sekitarnya tidak ada kursi yang lain dan entah atas dasar apa seseorang menempatkan kursi itu di sana. Chani tidak terlalu mempermasalahkannya, toh ia akan selalu menemani kursi itu, melalui hari demi hari yang penuh sepi dengan menggambar di atas kertas.

Ya, tempat ini adalah saksi bisu dari apapun yang Chani lakukan setiap hari. Entah pemuda itu menggambar sambil berbicara sendiri, sekedar menyapa kupu-kupu yang sedang lewat, atau menangis dalam diam. Semuanya ia curahkan di taman tak bertuan itu. Indahnya, Chani begitu menikmati hidupnya, sambil menunggu seseorang yang telah menjanjikannya untuk kembali.

The wind tells me that the world is rough

But if things stay like this, I think it will be alright

 

Sembari menggumamkan lagu, kedua netranya terpaku pada sketsa gadis yang berhasil diciptakan oleh tangan lihainya. Kemudian matanya menerawang ke arah langit yang baru saja disambangi awan untuk beberapa saat, lalu kembali berkutat dengan gambarannya. Hingga tanpa sadar pikirannya melayang, terbawa angin dan menerbangkannya pada masa lalu di mana ia pertama kali menciptakan palung itu.

Namanya Seungmin, gadis yang terakhir kali Chani temui sosoknya tiga tahun yang lalu. Masih terbesit di benaknya, bagaimana awal mula ia bertemu Seungmin, menggoda gadis itu saat berulang tahun yang ke lima belas hingga menangis, sampai pada rutinitas setiap sore yang mereka lakukan di taman itu.

Semua terasa begitu cepat, seperti jarum jam yang berputar dengan kecepatan paling maksimal, hingga Chani merasakan adanya efek stop motion yang membuatnya tidak merasakan apa-apa. Segala frasa perpisahan menguap begitu saja dari pikirannya, sampai tahu-tahu jarum itu berjalan normal kembali, saat Chani tak lagi menemukan sosok Seungmin di kehidupannya.

Hingga Chani tersadar bahwa ia telah kehilangan sepicis hatinya. Ia tidak tahu rasanya memiliki, namun kali ini seorang gadis lugu seperti Seungmin begitu membuatnya merasakan bagaimana rasanya kehilangan. Yang artinya, Chani sudah jatuh cinta pada gadis itu cukup lama.

Masih teringat jelas dalam memori bagaimana saat mereka berdua saling bercanda pada sore hari, tepat sebelum matahari kembali ke peraduan. Di tempat itu pula, di sebuah taman dengan kursi yang kesepian mereka terduduk. Saling diam, bungkam akan seuntai kalimat yang akan mereka utarakan. Kang Chani sudah membulatkan tekad untuk mengutarakan perasaannya, namun saat itu ia kalah cepat. Seungmin terlebih dahulu membuka suara, dan ia menyampaikan sebuah—

“Chani-ah, sebentar lagi aku akan pergi ke tempat rehabilitasi untuk pengobatan leukemia.”

—kabar buruk.

Tiba-tiba seluruh tubuh Chani terasa membeku, darahnya seperti tidak dapat mengalir.

“A-aku tidak bermaksud untuk merahasiakannya.” Seungmin terbata, ia menyeka air matanya yang entah sejak kapan mulai menggenang. “Aku hanya tidak ingin berbagi kesedihan, cukup diriku saja yang—“

“Kenapa?” potong Chani.

“Chani-ah…”

“Kenapa kau baru mengatakannya sekarang? Apa kau pikir aku akan menjauhimu jika kau sakit parah? Apa kau khawatir jika aku tidak sudi berteman denganmu lagi?” Chani tidak sadar jika nada bicaranya berubah meninggi, seperti menghardik Seungmin untuk menuntut sebuah jawaban.

Di hadapannya, Seungmin dapat melihat kedua mata Chani yang selalu ceria berubah menjadi sayu. Pemuda itu berkaca-kaca.

“Tidak Chani-ah, aku sama sekali tidak pernah berpikiran  dan menganggapmu seburuk itu.”

“Lalu kenapa? Jelaskan padaku kenapa kau menyembunyikannya? Pada saat kau terbuka dan mulai memberitahuku, kenapa saat itu juga kau mengatakan ingin pergi? Apa ada yang salah denganku? Apa selama ini aku selalu bersikap jahat padamu? Dan kapan kau akan kembali?”

Rentetan pertanyaan terasa menghujam hati Seungmin, rasanya perih sekali. Ia tidak sanggup menjawabnya satu persatu karena kedua bahunya sudah bergerak naik turun. Gadis itu menangis.

Dengan sabar Chani menatap Seungmin. Kedua sikunya ia tumpangkan di atas pangkuan dan membungkuk, menolehkan wajah ke arah si gadis yang sedang menatap rerumputan di bawahnya. Satu per satu air mata gadis itu terjatuh, membuat Chani mengerti dan memberi jeda bagi Seungmin agar bisa lebih tenang untuk menjawab pertanyaannya.

“Karena jika kau mengetahui keadaanku, sejujurnya aku takut kita tidak akan bisa bersenang-senang sampai detik ini. Aku terlalu takut persahabatan kita terhalang oleh penyakit yang kuderita, aku terlalu takut jika tidak bisa merasakan kebahagiaan sebelum aku pergi ke tempat yang lebih indah.”

Chani menggigit bibir bawahnya yang bergetar.

 “Lalu kapan kau akan kembali?”

“Kalau itu aku tidak tahu.”

Berhasil. Satu kalimat dari Seungmin berhasil membuat pertahanannya runtuh. Chani mendongak menatap langit berwarna oranye khas sore hari, ia tidak ingin Seungmin melihat air matanya yang nyaris meluncur.

Mulai detik itu juga, Seungmin mulai mengubah pola pikir Chani. Bagaimana pemuda itu justru akan lebih menjaga si gadis, dan juga merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang ia sayang padahal Chani sendiri belum sempat menjaganya.

Semua terasa begitu cepat berlalu. Namun setelah Seungmin pergi dari kehidupannya, Chani merasa dunia berotasi begitu lambat. Siang akan menjadi lama, dan malam juga tak kunjung berganti dengan pagi hari. Sampai-sampai Chani sendiri terlanjur melewatkan dan melupakan banyak hal.

Tapi Chani yakin jika semuanya akan baik-baik saja.

“Chani-ah!

Chani tersadar dari lamunannya, kemudian mengerjapkan mata beberapa kali karena aktivitasnya terinterupsi oleh suara yang mengunjungi rungunya.

“Kang Chani!”

Pemuda itu terkesiap. Jantungnya berdegup kencang.

I want to hide my slightly nervous heart

 

Sosok yang berhasil ditangkap oleh penglihatannya…

Sosok yang telah lama hilang…

Sosok yang mengingatkannya akan memoar-memoar yang pernah tercipta…

Sosok itu muncul kembali di depan mata Chani.

Semua terasa seperti mimpi. Chani baru saja terbangun dari sebuah mimpi buruk. Tanpa sadar langkahnya membawa Chani untuk mendekati gadis itu. Sebuah senyuman terpatri di bawah sinar matahari yang tampak samar. Pemuda bersurai legam itu menemukan seseorang yang membawanya kembali ke permukaan. Ia adalah Park Seungmin.

“Seungmin-ah!” Chani memeluk tubuh ringkih itu, menenggelamkan wajah pualam sang gadis ke dalam pelukannya.

Walaupun Seungmin menggunakan kursi roda dengan tubuh yang semakin kurus, Chani tetap bersyukur jika gadis itu baik-baik saja. Instingnya ternyata benar, dan saat ini sosok di hadapannya masih belum melepaskan senyumannya. Senyuman yang lebih cerah daripada sinar mentari sekalipun.

But the reason I grew up is because of your eyes that believed in me, your one smile

That was enough for me

 

Chani berusaha melupakan wajah Seungmin yang sedikit pucat, ia terlampau bahagia hingga bibirnya hanya bisa mengutarakan kata ‘rindu’ berkali-kali.

“Hei dengar, aku merindukanmu Seungmin-ah! Kang Chani merindukanmu!”

“Aku juga merindukanmu, Chani-ah. Bagaimana kabarmu? Hei, mengapa kau semakin tinggi?”

Chani hanya terkekeh mendengarnya. Tidak bisa dipungkiri, pemuda itu tengah merasakan banyak bunga yang bermekaran di dadanya. Maka dengan langkah cepat ia mendorong kursi roda Seungmin untuk berkeliling taman.

Seungmin tidak protes sedikit pun, rasanya ia sangat merindukan momen-momen seperti ini. Hanya saja kali ini ada yang berbeda; ia tidak perlu merasa capai karena harus berjalan cukup lama dengan kedua kakinya. Tubuhnya terlalu lemah jika kali ini ia harus berjalan.

“Aku? Kau bertanya tentangku? Wah, terasa seperti mimpi!”

Ck, dasar!”

“Seperti yang kau lihat, ‘kan? Aku baik-baik saja, kok!

Bohong. Chani sedang berbohong.

Eum, kau bertanya kenapa aku semakin tinggi? Itu karena Kang Chani rajin minum susu! Tidak seperti Park Seungmin yang benci minum susu!” lanjutnya dengan nada sangat meyakinkan.

Gadis itu terkekeh sebagai jawaban. Kepalanya berputar ke atas dan menatap wajah Chani yang sedikit buram karena membelakangi sinar matahari.

Napas Seungmin semakin berat, ia tidak mengerti apa penyebabnya. Namun Chani tiba-tiba melayangkan sebuah pertanyaan.

“Seungmin-ah…

“Ya?”

“Bagaimana pengobatanmu di sana? Apakah kau sudah benar-benar pulih? Apa kita bisa bersama seperti dulu lagi?”

Seungmin tersenyum kecut. Tidak, Chani. Segalanya tidak baik-baik saja seperti yang kau lihat saat ini. Aku yakin kita masih bisa bersama seperti dulu lagi, tapi hal itu tidak akan berlangsung lama. Semuanya akan lebih cepat berakhir.

“Seungmin?” Chani menghentikan kursi roda gadis itu, kemudian beralih menatap paras Seungmin yang tengah kewalahan menghirup napas.

“Aku melewati banyak hari-hari menyenangkan di sana, dan sudah pasti aku lebih baik sekarang. Tidak ada yang perlu kaukhawatirkan, Chani-ah! Banyak yang memberiku hadiah saat teman-teman maupun saudaraku datang menjenguk, dan itu semua membuatku lebih baik.”

Bohong. Baik Chani maupun Seungmin sama-sama berbohong. Mereka menutupi suatu hal agar tidak saling khawatir satu sama lain. Mereka tidak membiarkan lawan bicaranya merasa terbebani, yang tanpa sadar mereka sendiri juga memakan mentah-mentah rasa ‘tidak khawatir’  yang ternyata palsu itu.

“Syukurlah kalau kau sudah membaik,” ujar Chani.

“Eh?” Seungmin buru-buru menatap langit. “Perkiraan cuaca mengatakan kalau hari ini sangat cerah, tapi mengapa tiba-tiba mendung?”

Chani merasa demikian. Saat kedua obsidiannya berputar, ia mendapati langit yang tampak sangat mendung. Awan pekat terlihat menggantung dan sebentar lagi pasti akan memuntahkan hujan. Dengan cekatan Chani mendorong kursi roda Seungmin untuk mendekat pada kursi yang ia duduki tadi, kemudian mengambil buku gambar dan menyobek halaman bersketsa seorang gadis untuk diberikan kepada Seungmin.

“Ini hadiah untukmu!”

Begitu Seungmin melihat apa yang diberikan Chani, alangkah bahagianya gadis itu. Salah satu tangannya terulur, kemudian meraba permukaan kertas yang menampilkan sketsa dirinya yang sedang tersenyum dengan kedua mata yang membentuk lengkungan sabit.

“Waah, Kang Chani kau hebat! Apa kau terlalu merindukanku hingga membuat seperti ini? Tunggu dulu, sejak kapan kau pandai menggambar?” tanya Seungmin antusias. Gadis itu tampak tidak bisa menyembunyikan senyuman khasnya.

Di hadapannya, Chani yang sedang berdiri hanya bisa terkekeh dan tanpa sadar melupakan jauh-jauh segala kekalutannya. Pemuda itu memasukkan pensil ke dalam sakunya sebelum menyuruh Seungmin untuk membalik kertas itu.

“Untuk apa?”

“Lihat saja dulu!”

Jantung Chani berdebar lebih cepat ketika Seungmin mulai membaca kalimat yang ia tulis rapi pada halaman berikutnya.

Seungmin-ah, berjanjilah untuk tidak membuatku khawatir. Aku tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya karena aku menyayangimu.

Sepersekian sekon berikutnya Seungmin mengalihkan pandang, kemudian melompat dari kursi rodanya dan berjinjit, memeluk Chani erat dan berbisik, “Aku juga menyayangimu, Chani-ah.

Hal yang membuat Chani merasa hidup kembali; ia berhasil mengungkapkan perasaannya pada Seungmin. Setelah sekian lama, akhirnya kelegaan itu muncul yang senantiasa membuat kedua insan itu saling bertukar kehangatan; Chani membalas pelukan Seungmin tak kalah erat.

Tak lama hujan turun dengan intensitas yang tidak bersahabat sehingga mengguyur mereka berdua, sangat bertolak belakang dengan perasaan Chani saat ini. Mengapa hujan harus turun disaat hatinya telah menemukan titik cerah? Apa alam tidak menghendaki Chani untuk bebas dari kerisauan yang selalu merundung dirinya?

“Seungmin-ah, hujan! Cepat kembali ke kursi rodamu dan kita kembali pulang!”

Namun Seungmin justru berlari. Jemari mungilnya menggamit pergelangan tangan Chani hingga mau tak mau pemuda itu harus ikut berlari di belakangnya.

And I want to firmly hold your hand and run

We become fresher in the pouring green rain

 

“Hei perhatikan keadaanmu, nanti ibumu bisa marah kalau kau hujan-hujanan! Lalu bagaimana dengan kursi rodamu?” teriak Chani berusaha menyaingi suara hujan yang semakin menjadi. Pandangannya kabur, dan telinganya hanya mampu menangkap teriakan Seungmin sambil sesekali mengusap wajahnya.

“Biarkan saja, Chani-ah! Aku hanya ingin bebas, jika kau tahu!”

Tidak berselang lama Chani pun berhasil mengimbangi langkah cepat Seungmin di depannya. Seungmin tetap berlari dengan selembar kertas berisi sketsa dirinya yang sudah luntur terkena hujan. Chani tidak mempermasalahkannya, yang terpenting kali ini mereka berdua bisa bahagia juga tertawa bersama setelah sekian lama.

“C-Chani-ah…”

Chani menghentikan larinya. Sekonyong-konyong menghambur ke arah Seungmin yang membungkuk dan memegangi dadanya.

“Seungmin-ah kau baik-baik saja?”

Lawan bicaranya bungkam, membuat Chani berteriak dan mulai membopong Seungmin.

“Kau baik-baik saja, Seungmin-ah?” Chani menoleh ke arah kursi roda Seungmin yang sudah sangat jauh dari tempatnya. “Aku akan menggendongmu.”

“Ti-tidak perlu, aku tidak apa-apa.” Seungmin berusaha bangkit dengan pertolongan Chani. Gadis itu berjalan dengan terseok-seok.

“Ini serius, aku akan menggendongmu.”

“Tidak usah, kita berjalan saja,” ucap Seungmin di sela napasnya yang terengah-engah.

Chani tak kuasa berkata apa-apa. Pemuda itu dengan telaten membantu Seungmin untuk berjalan di bawah hujan, ia mengulurkan sebelah tangannya pada pinggang sang gadis setelah sebelumnya menyuruh Seungmin untuk bertumpu pada punggungnya.

“Kau tersandung?” tanya Chani akhirnya, dengan air muka yang memancarkan kekhawatiran setelah melihat wajah Seungmin yang semakin pucat.

“Tidak, hanya kehabisan napas,” balasnya sembari terkekeh.

Tidak, pasti ada sesuatu yang lebih dari itu. Batin Chani.

Mereka menyusuri jalan dalam diam, hanya rinai hujan lah yang senantiasa memberi keributan. Sesekali Chani melemparkan guyonan klasik yang mampu membuat Seungmin tertawa, begitupula sebaliknya. Hanya cengkerama yang kembali bersemi di antara mereka berdua.

“Omong-omong dulu kau sering membe—SEUNGMIN-AH!!

Tiba-tiba salah satu lengan Chani terasa berat. Seungmin tak sadarkan diri yang spontan membuat Chani menariknya ke dalam dekapan.

“Seungmin-ah bangun! Park Seungmin!”

Kepanikan melanda Chani. Pemuda itu berhenti seketika, kedua bola matanya yang tertuju pada tubuh Seungmin membulat sempurna. Persis, segalanya persis seperti dugaan yang sempat terbesit dalam pikirannya.

Seharusnya dugaan itu tidak terjadi terlalu cepat, secepat jantungnya yang kian berpacu. Tubuhnya semakin menggigil karena menjadi sasaran hujan. Bibirnya bergetar dan tanpa terasa kesepuluh jemarinya juga merasakan hal yang sama.

Sekeras apapun Chani menepuk-nepuk pipi seorang gadis dalam pelukannya, sang gadis tetap bergeming. Sepasang kelopak matanya tertutup rapat. Chani menangis sekeras-kerasnya, hingga ia memilih untuk duduk di atas paving jalanan yang sepi sembari tetap memeluk Seungmin. Pemuda itu berharap si gadis dapat membuka matanya, menatap dirinya seperti yang ia lakukan beberapa saat lalu.

Namun nihil, hujan semakin deras, dan semakin deras pula Chani menumpahkan air matanya. Kedua tangannya menggoyang-goyangkan tubuh tak berdaya itu, meronta-ronta agar sang gadis mendapatkan kesadarannya kembali.

“Seungmin-ah… Kumohon… Bangunlah Seungmin-ah… Mengapa kau tega membiarkanku sendiri lagi? Apa arti pertemuan pertama kita setelah sekian tahun ini? Apa ini semua sudah kaurencanakan sebagai cara untuk berpamitan denganku? Tapi aku tidak mengizinkanmu untuk pergi, Seungmin-ah…” Chani berteriak, suaranya nyaris hilang ditelan derasnya hujan.

Sekeras apapun Chani memohon, seyakin apapun Chani berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menjaga Seungmin lebih baik lagi, semua itu tidak ada artinya. Sosok gadis yang ia sayangi dan ia khawatirkan sudah pergi untuk selamanya. Meninggalkan seberkas luka yang terlampau perih, terlampau tajam untuk menyayat hati Chani yang terlanjur pulih.

Dan satu hal yang Chani terlambat sadari…

Dirinya tidak lebih peka dari cuaca.

Karena, tidak selamanya cuaca cerah akan berlangsung lama.

Sesungguhnya hujan yang tiba-tiba menyambangi sudah menjadi takdir untuknya. Karena alam ingin menemani Chani yang tak lama lagi akan merasakan kesedihan, dan alam memberikan tempat baginya untuk menumpahkan segala keluh kesahnya; termasuk air mata yang terlalu kentara jika saat itu hujan tidak datang.

When the path we take is wrong or maybe blocked
And we stop in place, what should we do?
And when we pass that path, what kind of face will we have at that moment?

.

.

.

-fin.

  1. FF debut SF9 yeeaaayy!!!
  2. Maap debut-debut Chani udah saya bikin ngenes karena sesungguhnya kamu terlalu ucul kalo dibuat drama ala teenager gitu yha /dikepruk/
  3. Kenapa pake lagunya shinee? Nggak tau, pengen aja :’) /ditebas/
  4. Sekalian kasih hadiah buat Difanti yang suda lumutan nunggu ff ini dipost, dan saya selalu aja nunda sambil bilang, “nanti aja ya kalo udah nyampe rumah kuposting” “bentar dif masih ngedit” “iyaaa bentar dikit lagiiii” “seperempat lagiiii” /dibuang ke laut/
  5. Terus buat Nafer, wes ya utangku lunas wkwkwkwk.
  6. Mind to review? 😉

Salam hangat,

Don♥

Advertisements

10 thoughts on “[SongFic] Green Rain

  1. NANGESSHHHH DON 😭
    -emng dasar baperan sih ini orang, makanya ku minta yang nyesek-nyesek-
    Donna tanggung jawab, udah bikin anak gadis nangis malem malem cu.a gegara ff Donna ini. Mana malem selasa lagi -,- besok classmeet hlo, Don -,- ./trs apa hubungannya?/ /plak/
    At least, thanks loh, Don.. repot repot bikin beginian trs dipost.. /haha
    Aku masih nunggu song fic atunya pokoknya. Ngga tau kapan, tapi kudu loh Don.. 😊 Thanks a lot, Donna 😘

    Liked by 1 person

  2. NANGESSHHHH DON 😭
    -emng dasar baperan sih ini orang, makanya ku minta yang nyesek-nyesek-
    Donna tanggung jawab, udah bikin anak gadis nangis malem malem cuma gegara ff Donna ini. Mana malem selasa lagi -,- besok classmeet hlo, Don -,- ./trs apa hubungannya?/ /plak/
    At least, thanks loh, Don.. repot repot bikin beginian trs dipost.. /haha
    Aku masih nunggu song fic atunya pokoknya. Ngga tau kapan, tapi kudu loh Don.. 😊 Thanks a lot, Donna 😘

    Like

  3. Pas baca: Gile… diksinya jago… kapan diksiku macem gini yawlah… *sungkem sujud*
    kemudian
    INI KENAPA ENDINGNYA KUDU BAPER GINI YAASTAGA…
    sebenarnya feel sedihnya emang udah dapet banget sih sepanjang cerita, dan dirimu membawakan ceritanya dengan baik. Ngalir banget bahasanya, feel sedihnya dapet banget, pokoknya daebak deh! Apalagi pas baca endingnya kuingin menangis rasanya… ingin kupeluk chani terus ku cup cup dia, bilang “jangan sedih, masih ada noona…” /apa coba?/
    It’s an awesome fic, Donna! Keep writing yaa 😀

    Liked by 1 person

    1. haluuuu kak gecee, pinjem adek kesayangannya dulu ya wkwkwk buat kunistain XD jangaaann jangan ikut2an baper gara2 chani, dia emang gitu baperan udah biarin dibeliin permen palingan langsung girang lagi /hah/ /ditendang/
      IYAAAA KAN MASIH ADA NOONA YANG GAGAL MEMANGGILMU OPPA, DEK! /ga/
      btw makasii lhooo kak geceeee sudah nyempetin bacaaa ❤ ❤ ❤ walaupun ada typo tapi semoga ga sadar yang baca /bilang aja kalo males ngedit don/

      Like

    1. nafer mah kapan ga nangis ha kapan HAAA
      btw wait ‘dunja sudah besar ya’ ituu apaa maksudnya apaa :” jadi kamu pikir saya selama ini cuma sekecil upil sampe gak keliatan :” /suda don suda/ /ditebas satu kampung/
      dan kamu satu2nya orang yang komen pake bahasa kita sehari-hari yess wkwkwk.. makasii lhoo sudah nyempetin baca dan komen 😉 ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s