Emptiness – Ficlet

EMPTINESS_1

EMPTINESS

thehunlulu ©2016

[PTG’s] Adachi Yuto & [OC’s] Mayuzumi Nao — Sad, Angst/Ficlet/PG-15

.

“Rindu itu pengecut, adalah bentuk semu tentang ketidakmampuanmu untuk merengkuhku.”—prompt by ashaxchanx

***

Aku hanya mampu menerawang serdadu pekat yang tergores melintang dari ujung langit. Kedua siku mencium pagar pembatas berwarna biru muda setinggi perut, kemudian memejamkan mata menertawakan dirimu yang sedang berjalan sempoyongan di sana. Aku tahu kau tidak sedang bergurau kala itu; kau berucap dengan payahnya bahwa tidak ada kata ‘rindu’ yang menghalangi kita berdua selama kepergianmu. Tapi apa? Nyatanya aku bisa menilik sesuatu yang berbeda denganmu kala bersitatap denganku beberapa waktu lalu. Kau, Adachi Yuto, jangan samakan diriku dengan gadis lain yang pernah kau permainkan sebelumnya. Sebelum kau tahu bahwa kesepian yang menyergapku dapat seketika memboyongmu ke dalam takdir yang tak pernah kau duga sebelumnya.

“Nao…”

Benar kan? Itu pasti dirimu, seorang Adachi Yuto yang memberanikan diri beradu argumen denganku untuk kesekian kalinya. Aku lekas memutar badan, membelakangi angin sore yang tak pernah berhenti membelai tubuhku. Kemudian aku melihatmu mengambil jangkahan pertama. Persis, senada dengan ritme ombak yang berduyun-duyun mengalir di belakangku.

“Mayuzumi Nao…”

Hah, otakku rasanya seperti kekurangan suplai oksigen saat kau mengucapkan namaku. Semoga saja, semoga angin pantai yang meniup tubuh ringkihmu itu tidak membuatmu tumbang di tempat sebelum kau menggumamkan kata ‘maaf’ untukku.

Matahari mulai kembali ke peraduan, menyinarkan seberkas warna oranye yang membuat sepasang manikku kewalahan untuk menangkap presensimu di sana. Kau tetap melanjutkan jangkahanmu yang kurasa sangat berat untuk kau tempuh. Rambutmu basah, bulir keringat berlomba-lomba menetes dari ponimu. Tas ransel yang bertengger pada kedua bahumu sudah raib entah ke mana. Terakhir, hanya tubuhmu lah yang menjadi beban untukmu berjalan—dan sekali lagi, jangan lupakan soal rasa bersalahmu yang tak bisa kau tebas habis dari otakmu.

“Terima kasih,” ucapku. “Terima kasih untuk dirimu, kita, dan juga hubungan yang selama ini mati-matian kau pertahankan, Yuto.”

Demi melihatmu mengumpulkan tenaga untuk merapatkan bibirmu lalu tersenyum, aku bahkan rela berkata dusta seperti ini. Aku, dirimu, dan juga segala kenangan yang pernah kau persembahkan demi menuntutku untuk terus berada di sisimu. Demi seorang Mayuzumi Nao sepertiku yang bahkan tidak tahu persis jika kelak kau akan bersemayam di hati orang lain.

Kurasa aku menyesal. Menyesal karena orang lain bahkan lebih pandai membuatmu nyaman berada di sisinya. Namun siapa aku? Aku adalah gadis yang hanya bisa memberimu kebahagiaan, bukannya memberimu kenyamanan yang membuatmu lantas melindungi diriku. Bahkan kau tutup telinga akan rinduku, karena aku tahu rindu bukan bagian dari suatu kebahagiaan, melainkan teriakan hati yang seakan memaksamu untuk mendekat, melupakan sosok gadis yang kala itu bersanding denganmu. Sepertinya aku lebih terlihat sebagai sosok wanita yang hanya bisa meronta-ronta untuk memaksamu berjalan searah dengan kata hatiku, juga tanpa adanya sebuah komitmen dari kita berdua untuk saling mempertahankan.

“Nao…” Kau merintih, memohon belas kasihku untuk mengampuni segala keluputanmu. Kau menatapku nanar, bibirmu gemetar tak keruan, kedua tanganmu mengepal kuat-kuat seperti hendak melawan ganasnya angin yang berembus. “Kurasa aku hancur, aku tidak mungkin bersandiwara di hadapanmu lagi. Kumohon, jadikan permintaan maafku ini sebagai permintaan pertama dan terakhir dalam hidupku.”

Apa? Bahkan kau sendiri tidak menyadari bahwa kau tidak lagi hidup di dunia. Kau sudah menjadi fana di mataku, Yuto.

“Maaf untuk apa? Maaf karena telah membuatku rindu setengah mati? Maaf karena pada akhirnya kau mengakui semua kesalahanmu?” Aku berteriak, menuntut alam yang menjadi saksi bisu antara pertikaian kita agar setidaknya ia membela perkataanku. Karena aku lelah, lelah terus-menerus menjadi pelabuhan dustamu, lelah karena tidak mampu menahan rindu yang kerap kali membuncah. “Aku rindu Adachi Yuto yang dulu…” gumamku di tengah heningnya suasana.

“Caci maki diriku kalau kau mau, Nao. Aku tahu, sangat tahu bahwa mempertahankan suatu hubungan itu lebih sulit daripada mengawalinya. Seperti halnya kau, aku tidak akan menyalahkanmu jika kau membenciku karena aku—“ Kau menarik napas berat. “—menduakanmu.”

“TAPI MENGUBUR RINDU DALAM-DALAM ITU LEBIH SULIT DARI YANG KAU KIRA, YUTO!” Aku memekik lirih sekuat yang kubisa. Ingin rasanya kuucapkan rentetan sumpah serapah di hadapanmu, karena aku tahu kau sama sekali tidak memiliki insting yang baik untuk menjadi seorang pemuda yang perasa. “Katakan sekali lagi, betapa mudahnya kau bicara seperti itu. Aku tahu kau tidak pernah sedikit pun rindu padaku, kan?” tanyaku, dan embusan angin semakin kencang, mengaburkan pernyataan Yuto dari kedua runguku.

“Ti-tidak seperti itu, Nao. A-aku juga merindukanmu. Sungguh.” Sudah kesekian kalinya kau mencoba mengelak, membela dirimu sendiri yang sesungguhnya terlihat seperti menuntut permintaan maaf dariku. “Maaf,” katamu lagi, membuat perasaanku kembali berkecamuk memandangmu konyol karena kau merajuk seperti itu.

“Pengecut!” tindasku, sangat amat kencang ketika kurasa emosiku meluap melebihi batas maksimum. “Kau tahu? Rindu itu sungguh pengecut! Karena itu semua terjadi karena ketidakmampuanmu untuk merengkuhku. Rindu itu semu, dan semua itu tidak akan terjadi jika kau bisa mengobati rasa rinduku. Dan kau—“ Aku tak kuasa melanjutkan perkataanku karena presensimu perlahan mengabur mengikuti arah angin. “—kau rela menukar kebahagiaan yang kuberikan menjadi sebuah picisan memori kelam, kau merenggut kebahagiaanku demi kenyamanan gadis lain, Yuto! Aku sangat kecewa padamu…”

Sejemang setelah aku menyelesaikan semua keluh kesah padamu, kau menghilang pergi. Entah ke mana, namun aku mendongak saat mendapati bayang-bayangmu terbang tinggi ditelan langit senja, menyusul gumpalan awan yang sebentar lagi menumpahkan hujan. Mungkin kau akan turun setelah ini, turun menjadi hujan yang akan menyusul tangisanku sebentar lagi.

Setidaknya hatiku terasa ringan setelah mulutku berhasil berucap, mewakili isi hatiku seperti petir yang menyambar pada siang hari yang cerah. Tidak ada yang bisa memprediksi, namun semoga kau tenang di sana, Adachi Yuto.

.

.

-fin.

  1. Thanks Kasha buat promptnya!
  2. Makasih juga Kafeb sudah dipinjemin OC-nya!
  3. Mind to review? 😉

#BONUS PIKU MAS YUTO

large

Advertisements

2 thoughts on “Emptiness – Ficlet

  1. hai donna! pertama kali komenin fanfikmu nih, semoga masih inget aku ya(?) /lah siape elu nad/
    first of all, aku suka banget diksinya ;_; cantik, tapi penyampaiannya tetep simpel jadi ga terlalu mikir keras pas baca. terus biarpun aku ga ngikutin pentagon tapi tetep ngefeel baca ini, and i guess it’s another good thing 😉
    ohiya btw gaya nulis kamu itu khas banget loh, soalnya habis baca ini langsung jadi inget kalo aku tenyata pernah baca fanfik kamu di monstaxffi yang judulnya regenschirm hahaha
    aju naiseu lah don, keep writing ya 😀 ❤ /yeu sok kenal/ /menggelinding/

    Liked by 1 person

    1. halo kak Nadya! masih inget dong pastinya hehehee 😀

      ehee, makasih ya kak udah sempetin ngereview ff absurd ala kadarnya begini hiks don jadi terharu :” eh kak Nadya juga baca yang di mxffi? hihihi iya kah masa khas, don ga nyadar masa wakakaka XD /apaan lu don/. ikutin pentagon dong kak, yuto siap menikam jiwa rapuh anak muda 😦 😦 😦

      makasih kak sudah mampir dimari yaa ^^ ❤ ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s