Basketball Boy in the Evening – Vignette

RING

Basketball Boy in the Evening

a fiction by thehunlulu 

Starring [ROMEO’s] Hyunkyung & [OC’s] Shan/Friendship, Fluff/Vignette/General

.

“Lucu? Oh bukan, itu idiot lebih tepatnya.”

***

“Oh begitu, ya?”

Gema berat menginterupsi sebuah percakapan yang tidak lama berlangsung. Si empunya suara lantas terkikik setelah mengambil jangkahan terakhir. Terlihat menimbang-nimbang, sebelum akhirnya wajah gadis yang duduk di kursi penonton mengalihkan fokus pada Hyunkyung.

Sebenarnya Hyunkyung tidak mudah berbasa-basi, pun mendedikasikan separuh hidupnya hanya untuk menekuni olahraga favoritnya; basket. Namun buru-buru pemuda itu menepis segala gundah gulana di hatinya hanya karena Shan. Alasan klasik sebenarnya; akankah Hyunkyung dengan mudahnya mengecewakan Shan bahkan saat kedua tungkainya rapuh sekalipun? Shan bukannya ingin menentang keputusan Hyunkyung saat dirinya tidak ingin lagi menjadi bagian dari klub basket, namun Hyunkyung lah yang mati-matian ingin membuat Shan bahagia.

Katakanlah bahwa Shan adalah sumber kebahagiaan Hyunkyung.

“Ayo pulang, Shan!” Entah dari mana datangnya angin ribut fana yang tiba-tiba saja mendorong Hyunkyung untuk berkata demikian. Bahkan pada saat kesadarannya masih ragu untuk singgah pada dirinya.

Shan mengubah duduknya dan menepuk-nepuk bagian bawah roknya. Tentu saja dengan berpamitan pada sosok gadis lain yang baru saja ia ajak berbincang. “Sekarang?” tanya Shan segera merajut langkah setelah menenggerkan ranselnya di pundak.

Hyunkyung tersenyum. Sebenarnya ia tidak mengerti juga, bahkan sudah beberapa minggu ini dirinya selalu mengakhiri hari-hari sekolah bersama Shan—juga si gadis dan dirinyalah yang selalu menjadi murid terakhir penghuni sekolah. Kegiatan rutin mereka memang seperti itu; datang pagi-pagi buta untuk melakukan piket bersama, pulang pun harus bersama sembari menunggu langit menyinarkan berkas keungu-unguan tanda kembalinya matahari ke peraduan.

Tidak ada yang spesial, Shan juga tidak keberatan jika harus memandang Hyunkyung dari kejauhan. Seperti halnya hari ini, beruntunglah Shan yang ternyata punya teman berbincang sembari menilik sekilas tubuh basah Hyunkyung karena bermain basket. Biasanya, Hyunkyung akan mengakhiri latihannya disusul presensi Shan yang merajut langkah cepat sembari membawakan air putih untuknya.

Namun hari ini berbeda. Sapuan hawa aneh tak biasanya mengikat sosok Hyunkyung. Sepertinya ada yang tidak beres. Sebenarnya Shan sudah merasakannya, namun kedua katup bibirnya juga kelu untuk bertanya pada Hyunkyung.

Sampai pada gerbang sekolah yang hendak tertutup, Hyunkyung maupun Shan lekas berlari cepat ke arah muka sekolah sebelum keduanya terkurung hingga esok hari. Barulah setelah itu Shan mencermati air muka Hyunkyung yang tidak berbeda dari sebelumnya lantas berujar, “Aku lupa memberikanmu air putih, ya. Tunggu sebent—“

“Tidak usah.” Hyunkyung menampik halus pergelangan tangan Shan saat hendak merogoh ranselnya.

Untuk detik yang sama Shan hanya mampu terdiam, menangkap lanskap Hyunkyung yang berbalut kostum olahraga beserta keringat sebesar biji jagung yang meluncur dari rambut menuju leher kawannya. “Hyun, kau tidak haus? Biasanya kau langsung menggeledah tasku selepas latihan, kan? Apa minummu masih banyak?”

Hanya derap dua pasang tungkai yang menjawabnya. Menyusuri satu bangunan ke bangunan yang lain, berkejaran dengan langit senja yang sebenarnya masih tampak lebih cerah dari hari-hari kemarin. Sesekali Hyunkyung membetulkan letak tas ransel yang ia gantungkan pada salah satu pundaknya.

Shan begitu geram dengan Hyunkyung hari ini. Kedua bola matanya tidak sabar untuk bergulir ke arah Hyunkyung yang tengah mematri senyum sambil memperhatikan jalan setapak yang mereka lalui dengan hati-hati.

“Hei Hyunkyung! Kenapa diam saja?”

Shan percaya Hyunkyung pasti tidak akan bungkam lagi setelah ini. Kelima jarinya mengepal dan berhasil menghantam punggung jangkung kawannya yang sudah berjalan mendahuluinya. Kali ini pasti Hyunkyung tidak akan bisa lolos dari Shan. Sebelum pekatnya langit mengaburkan pandangan, lekas-lekas Shan mengambil tempat di samping Hyunkyung saat dirinya sudah sampai di halte.

“Dasar menyebalk—“

Pssst!”

Niat hati ingin memukul lengan Hyunkyung, Shan justru mendapat karma; kali ini ia yang bungkam. Bahkan untuk bernapas saja rasanya sangat ragu.

“Ini masih sore, Shan. Jangan membuatku malas denganmu, please.” Begitu kata Hyunkyung sembari merengkuh pergelangan tangan Shan untuk pertama kalinya. Digenggamnya tangan mungil itu sambil memangkas jarak pada wajah keduanya. “Diam sebentar, ya,” bisik Hyunkyung kemudian, masih tetap mematri telunjuknya di depan bibir.

Shan hanya mencibir melihat Hyunkyung memiliki aktivitas lain; menempatkan ranselnya di atas pangkuan dan merogohnya agak gusar.

Shan dibuat mengernyit. “Omong-omong aku baru sadar, kenapa kau latihan hanya sebentar? Bahkan sore ini masih lebih cerah dari hari sebelumnya, kan?”

Terlihat gurat bahagia terpancar dari paras Hyunkyung. Ia memiringkan tubuhnya lalu menyodorkan satu bungkus keripik keju untuk Shan. “Makan ini,” tawar Hyunkyung mengabaikan pertanyaan si gadis. Bagi Hyunkyung, butuh selangkah lagi untuk mengatakan alasan mengapa dirinya pulang lebih awal bersama Shan.

Selama dua sekon Shan masih terpaku, kemudian tersadar dan mulai membuka bungkus snack tersebut. Matanya menerawang Hyunkyung yang sedang mengunyah keripik keju miliknya, seakan tidak ada yang ingin ia utarakan pada Shan—dan gemersik dua bungkus keripik pula yang mengalun samar di telinga keduanya.

“Kau belum makan siang, kan? Habiskan saja itu, hitung-hitung untuk mengganjal perut selama perjalanan pulang.” Hyunkyung membuka suara sedikit panjang lebar bersamaan dengan lampu halte yang menyala secara otomatis. Suasana tampak lebih terang dari sebelumnya, dan Hyunkyung pun bisa lebih leluasa menatap wajah Shan.

“Jadi ini alasanmu mengajakku pulang lebih awal?”

Anggukan singkat Hyunkyung menjadi jawaban bagi Shan. “Namun sebenarnya bukan itu, sih, alasannya,” sambung Hyunkyung sembari mengarahkan ibu jarinya untuk menyapu remah keripik pada ujung bibir Shan.

Shan terkesiap. “L-lantas?”

Hyunkyung terkekeh renyah. Serenyah dua keping keripik yang kembali menyambangi indera pengecapnya. “Hanya… lucu saja.” Pemuda itu memberi jeda untuk menelan keripiknya. “Lucu melihat diriku sendiri, Shan. Untungnya kau tidak tertawa, hehe.

Shan dibuat mengernyit oleh polah tidak wajar dari kawan—katakan saja sahabatnya—yang tengah mengulum seulas senyum. Jika boleh jujur, Shan tidak kuasa melihat wajah Hyunkyung pada detik yang sama. Gadis itu memilih untuk berpaling tanpa melontarkan sebuah frasa pun kata. “Lucu bagaimana?” tanya Shan pada akhirnya.

Sebenarnya Shan sudah tahu betul sifat Hyunkyung sebenarnya. Walaupun pemuda itu sangat humoris, namun sepertinya Hyunkyung sedang tidak beres kali ini. Tingkat keseriusan Hyunkyung tidak pernah sampai membuat atensi Shan serasa ingin melompat dari dalam dirinya. Sumpah, Shan sungguh penasaran.

Hyunkyung mengembuskan napas ringan. Ia menutup bungkus keripik di tangannya. “Lucu ketika diriku melihat seseorang, tertarik, lalu mencintai dan menyayanginya setulus hati dari kejauhan, Shan.”

“Hyunkyung?” Shan memutar posisi duduknya agar berhadapan dengan lawan bicaranya. Gemuruh di dadanya seakan hendak meledak kalau saja Shan tidak bisa mengontrolnya. “Lucu seperti itu yang kau umpamakan?”

“Lucu? Oh bukan, itu idiot lebih tepatnya.”

Awalnya Hyunkyung memberi fokus pada Shan, namun kali ini ia urung. Sepasang maniknya lebih memilih untuk berkelana, mengabsen satu per satu kendaraan yang berlalu-lalang di depannya.

Shan terdiam seribu bahasa. Bukan hanya lidahnya yang kelu, namun kedua bola matanya juga enggan menatap Hyunkyung yang mulai berucap, “Maka dari itu aku mengajakmu pulang lebih awal, Shan. Aku tidak ingin tertarik lalu menyayangimu dari kejauhan, seperti keberadaan sebuah tebing yang membuatku sulit memangkas jarak denganmu.”

Tidak terpikir oleh Shan bahwa Hyunkyung akan membuat adrenalinnya membuncah. Gadis itu hanya terpekur kaku, merasakan dinginnya jemari Hyunkyung yang mulai bergerak; menggenggam tangannya dalam kehangatan.

“Aku dan dirimu itu jauh, seperti jarak antara ring basket dan bangku penonton di mana kau akan selalu duduk dan menungguku hingga larut sore. Terkesan sangat idiot, ya Shan? Namun begitulah, aku ingin mengajakmu pulang lebih awal agar aku bisa selangkah lebih dekat denganmu.”

Jangan tanya mengapa, namun setelahnya Shan benar-benar ingin meledak rasanya. Kalau saja suara Hyunkyung tidak menginterupsi Shan, mungkin dalam beberapa hari ke depan gadis itu akan membeku bak sebongkah es yang tidak akan pernah meleleh jika Hyunkyung terus-menerus berada di dekatnya.

“Busnya sudah datang, ayo kita pulang, Shan!”

.

.

-fin.

  1. Welkam Hyunkyung x Shan yang akhirnya debut juga kyaa /peluk Hyunkyung sampe bengek/
  2. Thanks Kaber buat prompt dan segala inspirasi yang membuat hati dd Don jadi baper sebaper-bapernya setiap liat muka Hyunkyung 😥 ((hidup rapuh squad!))
  3. Akhirnya terealisasikan setelah lama ingin menulis fiksi mz Hyunkyung yang super duper tampan syalalalala jadi pengen punya kakak kelas seperti doi rasanya :’)
  4. Terakhir, muka Hyunkyung emang minta dibiasin dan diajakin ngerjain PR bareng hahahaha XD
  5. Mind to review? 😉

#BONUS PIKU HYUNKYUNG

-Don♥

Advertisements

7 thoughts on “Basketball Boy in the Evening – Vignette

  1. HYUNKYUNG SAHABATABLE DAN PACARABLE SEKALIIIII TTATT
    Keep writing Donna ❤ tulisanmu super x) promt dari ber ihiiiik akhirnya sudah dieksekusi sama dd donna. Wkwk senang rasanya :3 /peloq donna sampe bengek/

    Liked by 1 person

    1. Hmmm kaber, aku terhura kaber aku terhura si pemilik prompt ternyata dengan baik hati mampir kemari kyaaa love you kak :*

      Btw mz hyunkyung memang kekasihable, aku kasmaran karenanya /apasih don/ /disemprot fire truck/

      Well, kaber makasih sudah mampir kyaa ❤ ❤ don sayang tante ber kyaaaaaaaaaaaa terimakasih sudah bahagia karena mz hyunkyung kya kya kya kya /nikahi aku mz/

      Liked by 1 person

  2. HAI HELLO ANNYEEEOOONGG
    AKU IZIN MERIBUT DI SINI TAK APA YAAAA???

    ku pen baca baca fic terbaru dari dedek guru sih jadiii akhirnya ku baca ino dan….

    OH MY GOSH DON INI TU SWEETIE BANGEEET AWAWAWWWW SUMPAAAAHH SYUKA SAMA STORYLINE NYAAA YANG CKUPLAH MEMBUAT KU JADI RAPUH JUGAAA….

    yaaa gimana sih uda punya temen cow anak basket GANTENG PULA ITU PICT NYAAA truss ngajakin pulang berdua, NYINDIR BUAT LEBIH DEKETAN NYA GITU BANGET ZIAALLL

    emang si kalo nggak cepat2 takut keduluan langkah sama mingyu ya mas? /lho

    Tulisannyaa jugaaa manisss as alwayssss 💜💜💜💜suka bangeeettt pkoknyaaaa

    SEMANGAT NULIS YA DONNAAA. DAN ADU ITU EMANG MAS NYA GANTENG YAAA HUHUHU 😭😭😱😱😱😱

    Liked by 1 person

    1. HALUUU MBA MINS YANG CIMIT! 😀

      subhanallah kak, itu julukan apa lagi ‘dedek guru’ wkwkwkwk aku bukan guru kak serius XD people just improving to get better :3 /apasih don/ panggil don ((pacarnya mingyu)) aja /salah/ /dikepruk/

      UHUUUUUU KAK AKU LAGI DALAM FASE NGEBAPERIN VISUALNYA ROMEO KAK, SI HYUNKYUNG YANG GANTENGNYA GA KETULUNGAN TOLONG 😥 😥 dan kak mins menekankan ‘temen cowo anak basket’ itu…..apa….aku….rapuh….. /efek cinta bertepuk sebelah tangan/ /hus don/ ih aku gemes ae kak, abisnya kaya ga greget gitu kalo hyunkyung ga nggombal kaya gitu yakan :’) DIA GANTENG KAN YA KAN YAA GANTENG /serah kamu don/

      btw kak mins, makasih buanyak, banget, amat, sangat karena sudah mampir dan ngasih apresiasi yaa! ^^ ❤ ❤ ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s