[Ficlet] Dernière Réunion

haechaaaannnnn123

Dernière Réunion

thehunlulu ©2016

[NCT’s] Kim Donghyuk & [OC’s] Yuki — School Life, Sad/Ficlet/General

.

Kenyataan memang benar adanya; lebih pahit dari sesapan kopi yang tak sengaja kuminum saat kencan pertama kita. 

***

Hai Yuki, apa kabarmu?

Apakah ada secuil memori yang masih kau ingat perihal pertemuan kita tiga tahun yang lalu? Apakah kebahagiaan senantiasa berjalan beriringan denganmu?

Hari itu telah tiba, Yuki, hari kelulusan yang kerap kali kunantikan selama tiga tahun terakhir. Hari ini, iringan lagu perpisahan sayup-sayup menjalar ke dalam runguku, membekukan kedua tungkai ini untuk melangkah menuju aula dan bertatap muka dengan teman-teman. Tawa bahagia serta kedua mata yang berbinar tampak jelas mendominasi seluruh paras yang berkumpul di sini. Namun lain halnya denganku, aku justru membuang muka, enggan tenggelam dalam lautan sukacita yang mereka rasakan.

Aku terduduk, diam seribu bahasa kendati teman-teman kita sibuk bercengkerama satu sama lain. Dengan serumpun bunga yang semerbak harumnya sedikit menaikkan mood-ku, diam-diam aku mendongak dan menatap kehadiran orang tua siswa yang tengah menyaksikan upacara kelulusan buah hatinya dari balkon yang berada di lantai dua. Kutilik mereka satu per satu kemudian mengerjap sesekali, lantas menemukan sosok ibumu yang menangis haru di antara keramaian—menciut di tempat terpojok dengan salah satu tangannya yang menutup separuh wajahnya dengan sapu tangan. Tapi, di manakah dirimu, Yuki?

“Kim Donghyuk!”

Pandanganku beralih beberapa sekon setelah namaku menggema, Kepala Sekolah tersenyum tulus kala kujejakkan kedua kakiku ke atas panggung perpisahan dengan serumpun bunga berwarna kemerahan yang masih tersemat apik di antara jemariku. Namun tiba-tiba sebuah insting memberiku dorongan untuk terdiam di tempat—menyisakan jarak antara diriku dan dirimu.

“Yuki…” Senyuman kecut kelewat sinis tak sengaja terpancar dari wajahku. Memicingmu melalui ekor mata agaknya sudah membuat hatiku sesak, seakan ikut merasakan penderitaan yang kau alami beberapa bulan belakangan.

Alunan melodi masih tetap berjalan sebagaimana mestinya, dan sekarang giliran namamu yang menggema di seluruh penjuru aula. Seketika senyumanku yang perlahan terangkat mendadak urung kala kedua tanganmu memacu kursi roda; membawamu melenggang pergi tanpa menghiraukan eksistensiku. Bunga-bunga dalam genggamanku bergoyang samar merasakan angin yang mengekori sekelebat tubuhmu yang tiba-tiba saja lupa akan kehadiran diriku.

Ternyata seperti ini, ya, rasanya. Kenangan yang berhasil kita ciptakan selama tiga tahun ini tak senantiasa membuat kita berdua bernostalgia saat melewati upacara kelulusan seperti sekarang. Kenyataan memang benar adanya; lebih pahit dari sesapan kopi yang tak sengaja kuminum saat kencan pertama kita. Kenyataan di mana kau justru melupakanku tanpa rencana, ditambah dengan waktu yang cukup dini untuk menghadapi semua itu.

Walaupun begitu, aku tetap berdiri di sini, menyapu bersih seisi aula dan terpekur menatap punggungmu yang sedikit membungkuk di atas kursi roda. Sematan senyum yang berlabuh pada parasmu memperkukuh pertahananku; melupakan segala sesak karena kau sudah tak lagi ingat akan diriku. Dengan bantuan beberapa selang penunjang kesempatan hidupmu, kau memaksakan diri untuk tersenyum—walaupun senyuman itu tak kau tujukan untukku secara pribadi.

Kemudian kau berbalik setelah berjabat tangan dengan Kepala Sekolah, mengucapkan ‘terima kasih’ walau tak terlalu kentara. Setelahnya, kau sedikit mempercepat laju kursi rodamu untuk berjalan berlawanan arah denganku yang masih termenung canggung. Namun demikian, aku tidak berekspektasi terlampau tinggi akan kesadaranmu untuk bertegur sapa denganku. Sembari menempatkan buku kelulusan di atas pangkuanmu, samar-samar kudapati bulir air mata yang menggenang di pelupukmu. Entah kau hendak terisak akan upacara kelulusan yang sebentar lagi akan berakhir, atau tentang dirimu yang sejatinya tak mengingat tentang apa yang selama ini kau alami di masa-masa sekolah menengah atas. Semuanya terlihat kabur. Benar, kan, Yuki?

Tiga tahun berlalu, dan hari ini saatnya kita mengucapkan setutur kata perpisahan. Kau juga pasti ingin mengucapkan hal itu, bukan?

Selamat hari kelulusan, Yuki. Walaupun kelulusan identik dengan berakhirnya sebuah masa, namun kuharap aku tidak akan pernah lulus mencintaimu. Jangan lupa berikan remedial jika aku tidak mencintaimu dengan benar, ya?

.

.

.fin.

Advertisements

2 thoughts on “[Ficlet] Dernière Réunion

  1. HWALOO DONCHUUU

    ceritanyaaa….
    Aku lagi wb. Aku aku pen nulis tapi bngung gimana mulai.
    Akhirnya, ku jalan2 dan ada notif email ada fic ini….
    Kubaca sekalian belajar dari masternim juga….

    WATDE…. MASYAALLLOOHHH
    FIC APA INIIIII?
    UNPREDICTABLE BGT STORY LINE NYA SUMPAAAAA
    ku gak nyangka si yuki itu cukit………

    DAN YANG BKIN BAVER…. ENDINGNYA. KATA KATA REMIDIAL CINTA BLABLABLAA ITU ARGHJSNDBIWS KOK KAMU MASTER SEKALI???

    INI FANTASTIS SUMPAAHH
    aku suka banget sama tulisanmu FIX!!!
    ku mau berguru denganmuuu 💟💟💟💟💟💟💟💟💟

    KEEP WRITING HONEY!!!!!

    Liked by 1 person

    1. HALUUUUU KAKMINS YANG CIMIT KYAA AKU TERHURA BISA NYASAR DIMARI YA KAK :”) Aku bukan masternim kak, because people just improving to get better :”) tulisan gaje begini kujadi pundung ternyata ada yg baca :”)

      EH HAHAHAHA BENERAN BAPER NIH? PADAHAL YANG NULIS KETAWA2 KAK INI BEGIMANA BISA DONGHYUK DIBIKIN GALAU GALAU ALA REMAJA KEKINIAN /GAK/ KAKMINS AKU SUNGGUH MENGAPRESIASI KOMEN ANDA HIKS MAKASIH DAH MAMPIR DAN NINGGALIN JEJAK YA KAKMINS! DON MENYAYANGIMU MWAH ❤ ❤

      Ps; jangan berguru, saya masih banyak dosa sana sini. XD

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s