[Vignette] Blurring Mind

junnnbzzzz123

BLURRING MIND

thehunlulu ©2016

[SEVENTEEN’s] Wen Junhui & [OC’s] Jane Jung — Sad, Angst, Psychology, AU!/Vignette/PG-17

.

 Berakhir tragis bersama orang yang kucintai menyebabkan kepuasan batin yang berlebihan memang, namun aku menyukainya.

***

Aku terkadang seperti itu.

Bukan tipe orang yang tertutup memang, namun terkadang naluriku menciptakan sebuah keinginan—lebih tepatnya obsesi—agar aku menjadi orang yang baik-baik saja, bersembunyi di balik tipu muslihat yang tak kunjung lapuk oleh waktu. Kendati begitu, hampir semua orang yang pernah bertukar cakap denganku menganggap bahwa lawan bicaranya ini adalah pemuda periang, mudah bergaul di tengah keramaian.

Namun sebaliknya, aku sungguh terobsesi akan eloknya keheningan. Di mana setiap embusan napas dapat menerobos rungu dengan leluasa, serta membuat atensiku tertarik ke dalam sebuah dimensi yang mana itu adalah tempat untuk mengarungi arti kehidupan yang selama dua puluh tahun ini kusambangi.

Terlebih jika ditemani oleh rinai hujan yang bernak-pinak, berebutan untuk lebih dulu untuk menghantam bumi. Langit yang tampak keabu-abuan, serta semilir angin yang berembus sepoi sehingga menerbangkan beberapa anak rambutku seperti saat ini.

Sebuah melodi elok tercipta ketika ritme napasku berkejaran dengan alunan udara yang bergesekan dengan ranting pohon, membuatku sayup-sayup membuka kelopak mata perlahan. Masih dengan punggung yang berbaring di atas rerumputan hijau dan mataku yang sesekali mengerjap. Saat-saat yang kutunggu telah menampakkan eksistensinya; hamparan tanah lapang berhias cahaya remang dikarenakan matahari yang tidak dapat meloloskan diri dari pekatnya awan.

Inilah obsesiku yang sebenarnya. Berlatar sebuah kisah memilukan di masa lalu yang membuatku harus terkungkung dalam sebuah sense yang teramat gila.

“Jun…”

Singkatnya, ketika suara seorang gadis terlontar membuatku seketika bangkit dari tidur. Sebelum menyahut, obsidianku terlebih dulu berkelana mengamati tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jemarinya yang mengapit serumpun mawar merah ia sodorkan padaku, tak lupa dengan senyuman yang merekah pada parasnya.

“Oh, hai Jane,” ujarku mempersilahkan.

Kemudian ia mendekat, yang membuatku tersadar bahwa sedari tadi tubuhku masih bergeming di tempat yang sama. “Duduklah,” ujarku kemudian, sedangkan tangan kananku membalas ulurannya guna mengambil alih serumpun mawar dari tangannya.

Kemudian ia tersenyum singkat, membuatku terenyuh pada sekon yang sama. Ia bergerak sedikit, membetulkan dress berwarna biru pastel yang ia kenakan kemudian bersimpuh anggun di hadapanku.

“Maaf ya, mungkin kau bosan memiliki janji denganku di tempat seperti ini—“

“Tidak masalah, Jun.”

“—oh syukurlah,” spontanku.

Oh sungguh, aku sungguh benci dengan segala kecanggungan ini. Membuatku lantas membeku seketika saat Jane merengkuh kedua tanganku. Menautkan jemarinya pada milikku di bawah rintik hujan yang semakin bertubi-tubi. Pada sekon berikutnya aku memberanikan diri untuk membalas genggaman tangannya lalu bergerak mencondongkan tubuhku, menatap maniknya lekat-lekat.

Hasrat ini. Sebuah hasrat yang mendadak ingin mengambil alih seluruh fungsi otakku, membeludak dengan drastis hingga membuatku sukar mengendalikan diri. Sebuah hasrat yang mengingatkanku pada memori masa lalu yang tiba-tiba datang untuk dikenang oleh seorang pemuda bernama Wen Junhui ini. Aku tidak ingin mengingatnya, sungguh tidak ingin.

Semilir angin bergerak semakin kencang, gumpalan awan yang menghimpun kami dari atas bergeser secara cepat, seperti mendorong kepalaku untuk lebih maju mendekati wajah Jane yang terlihat sedikit shock. Maniknya terkunci dengan milikku. Bertatap muka dengan jarak sedekat ini memang jarang—atau bahkan tidak pernah—kami lakukan sebelumnya.

Seperti jarum jam yang berhenti berotasi, mengijinkan seluruh aktivitas kehidupan terhenti—pengecualian untuk dua insan yang tengah berbaur dengan alam seperti kami berdua—serta kekosongan yang melanda, mungkin ini adalah saat yang tepat untuk membidik-nya penuh cinta.

Jane mengira jika aku akan mengecupnya lembut, maka ia menutup kedua matanya perlahan saat dirasa pergerakanku semakin mendekat dengannya. Lah, memangnya aku pemuda sebaik dan seromantis itu di matanya? Andaikan saja ia tahu atau mungkin tidak terlalu terlambat untuk mengetahui bahwa ia adalah targetku selanjutnya, Jane mungkin akan berlari menjauh dariku, menjauh dari pemuda gila yang masih terjebak oleh lilitan memori masa lampau yang enggan memusnahkan diri dari pikiran. Oh, kau belum mengetahui siapa Wen Junhui sebenarnya? Akan kujelaskan; aku adalah pemuda yang hidup pada masa modern namun masih berpikiran primitif, seakan hidup penuh lika-liku masa lalu pada zaman secanggih ini.

Berlatarkan pepohonan rimbun yang mengepung kami berdua kala itu, serta efek hitam-putih yang ikut serta dalam pertemuan pertamaku dengan seorang gadis beberapa tahun silam; di bawah remangnya cahaya matahari. Saat itu—di tempat yang sama—senyumku merekah bersamaan dengan rentangan tanganku yang memeluknya erat. Rambutnya ikal—terurai sampai pinggang—menerbangkan semerbak harum ketika rambutnya diterbangkan oleh angin. Aku menikmati aroma khas gadis itu lantas mengambil napas dalam-dalam sementara pelukan kami belum juga terlepas.

Saat itu sedang mendung, aku mengingatnya. Kami menikmati permen kapas berwarna-warni di atas rerumputan, bercengkerama satu sama lain dan sesekali melontarkan percakapan konyol yang sungguh membahagiakan. Kemudian tepat beberapa saat setelah hujan turun, gadis yang bersamaku itu ambruk saat kami berlari menuju tempat berteduh. Darah segar mengalir dari ujung pundaknya. Aku tak berkutik. Sebuah drama tragis yang tidak pernah kulihat dan kusangka saat itu berlangsung di depan mataku, sekaligus gadis yang paling kucintai yang menjadi pemerannya.

Kemudian aku berputar haluan dan mencari sumber bunyi tembakan itu berasal. Namun nihil, di sana hanya ada aku dan seorang gadis yang tubuhnya mencumbu tanah dengan sempurna; beralaskan kubangan darah yang telah berubah menjadi danau kecil. Beberapa detik selanjutnya, aku menemukan sepasang kaki tengah berlari di belakangku namun aku tak meliatnya dengan jelas. Hujan sialan itu benar-benar menyempurnakan aksi sang pembunuh.

“W-Wen Junhui…”

Aku tersadar dari lamunanku. Kemudian menoleh ke arah Jane yang tengah meringkuk di pelukanku.

“Hentikan Jun…henti…kan…”

Seketika itu juga mataku terbelalak. Apa sekelam itu masa laluku hingga mengingatnya saja membuatku terhipnotis untuk melakukan hasrat itu? Mulutku melebar maksimal, tanganku beralih dari sebuah gagang belati yang menembus punggung Jane dan menutup mulutku. Tanganku mengadah, memperhatikan likuid merah pekat milik Jane yang membanjiri telapakku. Sayup-sayup indera pendengaranku menangkap tangisan Jane disertai irama tak beraturan pada pundaknya. Bersamaan dengan rinai hujan yang semakin deras membasahi bumi, kedua tanganku memegang pipinya kuat, memandangnya panik yang dibalas oleh rintihan Jane yang terdengar memilukan.

“Jane! Kau dengar aku?!” teriakku berusaha mengalahkan derasnya hujan yang mengguyur kami berdua.

Jane bergeming, dari katup bibirnya terlihat seperti hendak melontarkan sebuah kalimat namun terdengar samar.

“J-Jun…p-pertemuan ini kurasa—“

Tubuhnya menggigil kedinginan, namun aku bersikeras untuk tetap membuatnya berbicara, “Katakan Jane, katakan…”

“—cukup berkesan…”

Kemudian Jane ambruk di pelukanku.

Aku menangis sejadi-jadinya, mengutuk diriku sendiri akan sebuah hasrat yang terkubur dalam beberapa tahun terakhir. Dalam pelukan Jane aku berteriak, menyalahkan hujan yang selalu datang dengan mengirimkan kenangan masa lalu yang kelam. Juga hasrat yang selalu mendorong batin ini untuk melakukan sebuah drama tragis di bawah hujan; dengan aku sebagai pemeran utama atas tindak kejahatan ini.

“Jane! Jane!” pekikku tercekat masih dengan kepalanya yang bersandar pada bahuku. Sebuah pelukan terakhir kami di bawah guyuran hujan, begitu pula dengan kenangan beberapa tahun lalu yang berputar cepat dalam angan. Pada waktu yang sama, suasana yang sama, dan tragedi yang sama. Serta saksi bisu yang selalu datang di saat seperti ini; hujan deras, sederas air mata yang enggan berhenti menciptakan sungai kecil pada kedua pipiku.

Entah sudah berapa nyawa yang melenggang pergi, melepaskan sang raga dalam pelukanku hanya demi memenuhi hasrat yang terlampau membeludak ini.

“Aku akan menemanimu, Jane…” Uluran tanganku mencabut sebilah belati dari punggungnya.

Berakhir tragis bersama orang yang kucintai menyebabkan kepuasan batin yang berlebihan memang, namun aku menyukainya.

JLEB!

.

.

—fin—

Cuma pengen mendaur ulang fic ini biar enggak tenggelem hwhwhw. (Karena ini fic event buat blog SEVENTEEN dan tengs buat budirnya karena fic nista ini berhasil masuk 10 besar TT^TT)

Advertisements

4 thoughts on “[Vignette] Blurring Mind

  1. Walaupun sedih gara2 junhui ganteng ternyata meninggal juga (abaikan), tp overall seneng baca ceritanya yang ngalir banget….. Dan permainan kata2nya itu loh… Sesuatu sekali 👍👍

    Nice fic! 😄👍

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s