[Birthday Fic] Narcissist – Ficlet

taeyoooonggg12345

Narcissist

thehunlulu ©2016

[NCT-U] Lee Taeyong — Sad, Painful, Friendship (PG-13)

.

“Jangan katakan… Jangan katakan soal penyakit itu lagi…”

***

Kata orang-orang Taeyong itu gila. Taeyong sudah tidak waras. Taeyong tidak pantas memijakkan kaki di muka bumi yang terlampau suci ini. Kata orang-orang—lagi—Taeyong seharusnya tidak pernah dilahirkan dan mengakibatkan banyak malapetaka bagi kelangsungan hidup orang banyak. Seharusnya Taeyong mengetahui semua itu.

Namun Taeyong tetap bersikap acuh, menggiring langkah menelisik semak belukar yang terletak di belakang sekolahnya. Jangkahannya cukup panjang, membuatnya hanya bisa menerka-nerka perihal presensi jangkung berbalut pakaian hitam di belakangnya. Mengerahkan kecepatan maksimal, punggung Taeyong berbelok pada salah satu persimpangan jalan ditemani alunan napasnya yang memburu, berkejaran dengan keringat sebesar biji jagung yang meluncur dari pelipisnya. Kemudian kedua tungkainya berhenti otomatis saat lagi-lagi dirinya harus dihadapi oleh dua persimpangan—ke kanan dan ke kiri. Hanya melalui ekor matanya saja, jalanan tak berujung di belakangnya sudah digerayahi oleh keberadaan manusia jangkung itu. Kali ini pria misterius itu juga berhenti, merangsang adrenalin Taeyong untuk membuncah tanpa permisi. Secepat kilat pemuda itu belok ke arah kanan, berlari sekencangnya sembari melepas penutup kepala pada jumper yang ia pakai.

“Jangan, kumohon jangan membuntutiku…” rintihan Taeyong berdifusi dengan udara, saling mendahului antara napas yang tak terkontrol dan kalimat selanjutnya yang hendak ia utarakan. “Kumoho—TIDAAAK!!!”

BRAAK!!

Dan semuanya menjadi gelap. Semua rencana Taeyong yang semula hendak mengerjakan tugas di rumah neneknya sepulang sekolah pun harus pupus. Perlahan matanya menerawang, seperti menembus cakrawala lalu terhempas turun, meninggalkan sang jiwa yang telah berkelana menjamah dunia antah berantah.

***

“Lee Taeyong!”

Sayup-sayup ringisan samar terkulum pada kedua ujung bibir Taeyong. Sorot penuh tanda tanya yang mengerubungi otaknya ia lontarkan pada wanita tua yang duduk di pinggir ranjang. Pemuda itu terperanjat bukan main. Sekujur tubuhnya yang semula baik-baik saja berubah menjadi putih berbalut perban dengan bercak merah yang merembes pada beberapa sisi tubuhnya. Hendak mengadu pun kerongkongan Taeyong rasanya seperti tercekik hingga sekarat oleh benda yang membalut lehernya.

“Ne-nenek…”

Mematung bak robot bernyawa yang hanya mampu mengasihani diri sendiri tanpa mengerti apa yang terjadi, hampir separuh kelopak mata Taeyong tergenang oleh cairan bening yang akhirnya ia tumpahkan. Sembari mengoyak-ngoyak pundak neneknya tanpa ada sebuah pertanyaan, Taeyong menangis sesenggukan.

“A-aku ti-tidak mati, kan?” Kuriositas Taeyong masih berlabuh pada sepersekian persen pikiran rasionalnya. Ia berusaha meyakinkan neneknya bahwa ia baik-baik saja. Taeyong pasti akan baik-baik saja jika wanita itu memberitahu apa yang telah terjadi—dari awal hingga Taeyong berakhir menyedihkan seperti ini.

“Mengapa kau tidak pernah menuruti nasihat Nenek, Taeyong?” Sang Nenek berkaca-kaca kemudian mengusap rambut cucunya itu dengan lembut, mencium semerbak aroma medis yang melingkupi ruangan tersebut.

Sejenak Taeyong melirik ke atas, menatap cairan infus yang bergoyang pelan saat ia menggerakkan tangannya. Kemudian ia beralih memandang kedua manik sang Nenek dengan gundah. “Aku tidak bersalah, Nek, jangan selalu menyalahkan diriku seperti itu! Mengapa semua orang selalu menyalahkanku seperti diriku adalah penyebab semua kegilaan ini?! Aku hanya berjalan dari sekolah melewati jalanan kecil untuk menuju rumah Nenek, hanya itu!” Desisan kecil yang awalnya Taeyong lontarkan berakhir menjadi sebuah hardikkan gaduh. Ia berteriak nyaris tercekat saat lagi-lagi neneknya menyalahkan dirinya. Semua kejadian di dunia ini seakan dirinya lah dewa pengendalinya.

“Taeyong! Dengarkan Nenek!”

“Aku muak dengan semua ini, Nek!” Taeyong menyambar kotak medis yang terletak di dekatnya.

PYAR!!

Kemudian ia menendang meja nakas di sampingnya hingga tergelincir jauh, membuat semangkuk bubur di atasnya berceceran ke lantai. Taeyong mencoba mengerahkan seluruh tenaga yang ia miliki hanya untuk berdiri tegap, kendati kaki kirinya masih dibalut gips bersamaan dengan rasa nyeri luar biasa yang masih menggerogoti tubuhnya.

“Lee Taeyong hentikan!”

Sang Nenek berusaha menyergah perbuatan Taeyong yang hendak kabur dari ruangan dengan pergelangan tangan kanan yang bercucuran darah. Ia terseok-seok sempoyongan, memegangi luka tersebut setelah ia berhasil mencabut paksa selang infus dari pergelangannya.

“Teroris, Nek! Aku diuntit teroris!” Taeyong berhenti, kemudian menoleh pada neneknya yang membekap mulutnya dengan perasaan shock.

“Taeyong! Berhenti mengulang sikapmu seperti tiga tahun lalu! Nenek pikir semakin bertambah dewasa dirimu maka kau semakin pandai mengontrol kehidupanmu.”

Taeyong menyeringai menggunakan salah satu sudut bibirnya, menyoroti Neneknya dengan tatapan benci. Sang Nenek berlutut perlahan, menangis sejadi-jadinya di hadapan Taeyong yang berhasil membuka kenop pintu.

“Ja-jangan pergi sekarang, Taeyong, ini masih siang. Nenek lebih tega membiarkanmu bepergian saat hujan turun daripada siang bolong seperti ini.”

Taeyong menatap lemah Neneknya yang tampak memukul-mukul dadanya sesak. Tangannya yang semula tertaut pada kenop pintu perlahan merosot. Ia berjalan gontai menghampiri wanita tua itu kemudian berbisik, “Jangan katakan, Nek… Jangan katakan soal penyakit itu lagi…”

***

“Lihatlah!” Hansol terbahak maksimal disusul gema membahana dari kawannya. “Sudah berapa abad, ya, kita tidak melihat Taeyong berbuat sinting seperti itu?” Hansol menyembulkan kepalanya di antara semak belukar sembari terkikik membalas ucapan Yuta yang berada di sampingnya.

“Rekam saja kelakuan memalukannya lalu kita unggah ke sosial media!” timpal Yuta.

Hansol pun berderap pelan mendekati Taeyong yang terus berlari sambil berteriak minta tolong. Yuta menyeringai hebat saat menangkap lanskap Taeyong yang berdiri linglung sembari menoleh ke belakang—lebih tepatnya menoleh ke arah angin karena tidak ada siapapun di belakang Taeyong.

“Lee Taeyong sinting! Lee Taeyong bego! Sampai ke tembok Cina pun kau tidak akan bisa menghindari bayanganmu sendiri, bodoh! Sampai kapanpun bayanganmu akan selalu mengikutimu!” pekik Hansol yang masih fokus pada ponsel yang ia gunakan untuk merekam gelagat Taeyong.

“Hei Hansol, sebenarnya Taeyong sakit apa, sih?” tanya Yuta.

“Narsisisme.”

Keduanya, Hansol maupun Yuta tersentak bukan main saat seorang pemuda berdiri di belakangnya sembari menatap mereka satu per satu. Tatapannya teduh, kemudian tersenyum kecut ke arah dua karib itu.

“Ta-Taeil?”

“Kau tahu itu apa? Itu adalah sindrom yang menyebabkan Taeyong mencintai dirinya secara berlebihan. Taeyong tidak gila, ia begitu ingin melindungi dirinya sampai-sampai ia sangat waspada terhadap bayangannya sendiri.”

“Bagaimana kau tahu?” tanya Hansol kemudian.

Taeil mengangguk. “Aku tahu karena aku sahabatny—LEE TAEYONG!” Sejurus kemudian Taeil mengalihkan pandang, berlari ke arah Taeyong yang terpental jauh karena truk berkecepatan tinggi menabrak tubuh karibnya.

Taeil terduduk lemas, menepuk-nepuk pipi Taeyong yang bermandikan darah kemudian menatap sepasang mata sahabatnya yang mulai hilang kesadaran. “Hansol! Yuta! Cepat panggilkan ambulans!”

.

.

-fin.

  1. Happy birthday Lee Taeyong! 
  2. Engga tau ini apa, ide random yang tiba-tiba muncul dan Don tau ini absurd banget hahahaha /bodo amat/ /dikeplak/
  3. Buat narsisisme sendiri adalah sindrom yang bikin penderitanya mencintai dirinya dengan cara yang berlebihan. Kalo di wikipedia, di sana dijelasin pake ilustrasi seorang pemuda yang mencintai pantulan dirinya di kolam, sangking cintanya sampai dia tenggelam dan akhirnya di kolam itu tumbuh bunga yang namanya Narsis. 
  4. Dan fic ini jatohnya si Taeyong malah jadi kaya orang gila /GAK/ gila-gila ganteng uhuk /peluk sampe bengek/ 
  5. Terakhir…. happy birthday lagi buat Taeyong! Makin ganteng deh ngalah-ngalahin adek kelas Don yang mirip sama kamu /eh/ 
  6. Ilysm bang Tae! 
Advertisements

2 thoughts on “[Birthday Fic] Narcissist – Ficlet

  1. Btw pengemudi truck itu saya, plis, jihyeon. (plak)(diamuk masa)

    Tumben ya denger nama penyakit macam begitu ‘-‘ lah gapapa lah mas taeyong kekgitu toh aku padamu mas ❤ nice fic zenpay donnah~ XD

    wait…..siapa donnah?(plak)

    Liked by 1 person

    1. kakji plis, jadi profesi apapun kayaknya oke-oke aja selama bisa menjerat hati oppa /salah/. HAHAHAHA SAMA KAK AKU JUGA BARU TAU KALO ADA PENYAKIT BEGITUAN /terus don?/ jangan mau yong taeyong, kakji dah diculik sama mz wonho aja biarin yong jangan mau /ditebas/. ihiiikkkk kakji makasih udah mampir yaw ❤ sekali lagi……..ane bukan zenpay kak………jangan panggil ane zenpay……………………..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s