[Birthday Fic] Street Painter — Ficlet

font-b-oil-b-font-font-b-painting-b-font-font-b-paris-b-font

Street Painter

by thehunlulu

[NCT-U] Moon Taeil — Crime (PG-15)

.

Taeil merasakan adanya kekosongan pada objek lukisnya.

***

Café des Deux Moulins, Paris, June 14th 2016.

Pemuda Moon mengulum senyum—sejenis senyuman yang tidak begitu berlebihan—namun tetap mematri objek pengamatannya tepat pada kedua netra. Kala semilir angin berembus sepoi, sejenak tubuhnya ia hentikan beraktivitas guna mengemban pasokan oksigen untuk parunya. Jeda beberapa sekon berikutnya, tubuhnya sesekali meliuk dengan percaya diri; mencuri pandang pada sepasang insan yang menjadi sumber pengamatannya, kemudian tangan lihainya menggoreskan beberapa pola abstrak pada bentangan kavas berukuran persegi yang bersandar pada easel—papan penjepit kanvas—yang berdiri dengan kemiringan beberapa derajat di hadapannya.

Duduk pada salah satu kedai yang tak terlalu ramai memang membawa kesan tersendiri bagi pelukis andal seperti Taeil. Beralih memusatkan atensi pada palette dengan genangan wana dasar—merah, kuning, dan biru—yang tertuang sedikit lebih banyak dari warna lainnya, ia bersiap untuk membuat gradasi menggunakan cat minyaknya; perlahan dengan sedikit banyak profesionalisme yang tertanam dalam dirinya, beberapa goresan saja sudah menciptakan tatanan apik tanpa melenceng pada potret wanita yang dilukisnya. Seperempat lingkaran digoreskannya menggunakan kuas yang sedikit lebih kecil, lalu terciptalah sepotong pizza yang ujungnya terdapat bekas gigitan.

“Berhenti sebentar, Miss.” Taeil mencegah sopan, mengisyaratkan menggunakan salah satu tangannya untuk memberi peringatan pada seorang wanita yang setengah badannya baru tertoreh pada kanvas putih berbayang siluet Taeil.

Pemuda itu menggumamkan nada selaras dengan alunan melodi yang menjadi pusat kenyamanan mengapa pengunjung kafetaria di sepanjang jalan betah mendudukkan bokongnya di salah satu sudut kafe. Cuaca bisa dikatakan tidak terlalu panas, tidak pula terlalu dingin. Taeil dapat merasakan kehangatan pun angin sejuk yang tak jarang menerbangkan rambutnya yang tertutup flatcap khas pelukis yang selalu ia pakai.

Berburu objek di sepanjang jalan setapak Kota Paris memang tidak selalu menyenangkan. Pasalnya—walaupun ia sudah berbulan-bulan menjadi street painter di kota romantis semacam Paris—orang-orang disini sedikit kurang bisa menjaga privasi diri mereka sendiri, apapun mereka lakukan di sepanjang jalan tanpa berakhir; bercumbu di tempat terbuka yang jelas Taeil sendiri gerah melihatnya. Well, mungkin lelaki itu masih menggendong segudang budaya Timur yang bertolak belakang dengan budaya Eropa—yang entah kenapa Taeil belum kunjung beradaptasi sepersen pun.

Bunyi gemeltuk sepatu pantofel milik satu-satunya pemuda Asia di tempat itu menandakan ia ingin segera angkat kaki dari sana. Tak menghiraukan desiran angin musim dingin yang mulai mengudara, kini tubuhnya sedikit merasakan panas yang menjalar perlahan. Namun ia adalah pelukis profesional, dan tidak akan mengalihkan presensinya dengan cara yang sungguh naif perkara objek lukisnya kali ini sudah melakukan aktivitas lain; berpelukan secara panas kemudian nyaris melakukan adegan tak senonoh di hadapan Taeil.

Pemuda itu merasa bosan. Ya, lingkup kafetaria memang tak terlalu ramai, itu yang membuat dirinya sedikit dilanda kebuntuan untuk menggoreskan objek lain pada kanvasnya. Jalanan tak berujung pun sudah ia rampungkan, begitu pula dengan huruf sekecil semut yang tertera pada banner kafetaria. Papan menu? Sudah pasti ia lukis secara mendetail, sampai-sampai pipa paralon yang menjulur dari atas bangunan pun sudah tercetak sebagaimana mestinya.

Namun Taeil merasa ada kekosongan pada objek lukisnya. Persetan dengan pelanggannya yang sudah berganti pose ratusan kali—jika Taeil boleh mengumpamakan—ia tak peduli. Toh yang terpenting sepasang insan itu sudah Taeil lukis sebagaimana mestinya; si lelaki memeluk mesra kekasihnya sedangkan si wanita mengunyah potongan pizza yang ada di dalam mulutnya. Seharusnya, Taeil sudah bisa angkat kaki dari tempat itu dan mengejar deadline-nya di Museum Louvre saat dirasa pekerjaannya sudah rampung.

Namun Taeil adalah tipe pemuda yang perasa, ia tak ingin begitu saja menyerahkan mahakaryanya sebelum kata hatinya mengatakan ‘cukup’ untuk hasil lukisannya. Maka dengan salah satu ujung bibirnya yang terangkat maksimal, otaknya menemukan ide cemerlang guna memberi kesan ‘ramai’ pada kanvas yang didominasi warna coklat miliknya.

Tak ada satupun yang tereliminasi dari kedua obsidiannya yang turut beredar pada seluruh penjuru, kemudian saat dirasa orang-orang tak memandang eksistensinya, barulah ia mengencangkan flatcap yang bertengger pada kepalanya. Tepat lima detik pemuda itu merogoh ransel miliknya, kemudian dengan sigap mengeluarkan sebuah kotak lukis dari dalamnya.

DOR! DOR! DOR!

Seluruh penjuru tiarap, pengecualian untuk target bidikan pemuda Moon itu. Simbahan darah muncrat kesana-kemari, mengalir keluar dari pagar kafetaria bak sungai kecil yang berwarna pekat—sepekat minuman wine yang sudah bercampur dengan enzim-enzim pencernaan milik korban.

Tak acuh, Taeil segera membongkar pasang pistol miliknya menggunakan kedua jarinya, hingga akhirnya berubah menjadi kuas sebagaimana mestinya. Penyamaran perdananya di tanah Eropa berjalan mulus.

“Mission complete,” gumam Taeil menahan kekehannya untuk mengudara.

Kali ini parasnya menampilkan kebahagiaan; menatap kerumunan orang yang menyaksikan jenazah sepasang insan yang terbujur kaku. Tak sedikit pula anak muda yang menelpon panggilan darurat dengan sangat amat gusar.

Namun Moon Taeil bertolak belakang; ia kembali menggoreskan cat minyaknya pada kanvas, menciptakan berpuluh-puluh objek baru yang menghiasi mahakaryanya. Tak lupa ia melukiskan ekspresi ketakutan dari sekian banyak manusia yang berkumpul, juga tatanan kursi yang terlempar kesana-kemari.

Inilah keramaian yang Taeil inginkan. Karena, Kota Paris tak selamanya berbuah romantis, berakhir tragis pun tetap membawa keanggunan tersendiri di mata Taeil.

“Moon Taeil? Berapa persen lukisanmu mendekati kata rampung?”

“Halo Bos, semua sudah tergores sempurna. Bisakah saya pergi ke Museum Louvre sekarang juga?”

“Baiklah, komisi ratusan ribu euro sudah menantimu.”

“Baik. Kalau begitu, saya akan segera datang menemui Anda.”

Pip!

Dan, impian Taeil pun terwujud; menjadi seniman lukis kelas internasional yang karyanya dipamerkan di museum berkelas, sekelas Museum Louvre yang menjadi ikon Kota Paris yang sungguh fenomenal.

.

.

-fin.

Happy birthday Mas Taeil! ^^ Donna menyayangimu mwah ❤ Fyi, nemu ide beginian waktu ga sengaja nemu lukisan jalan setapak Paris di gugel ;_; Gatau kenapa bawaannya pengen bunuh orang aja gitu hwhwhw, mungkin Taeil atau mungkin saya terlalu jones, jadi dia ingin segera menghabisi sepasang insan yang tengah dilanda kebahagiaan TT^TT

Bonus piku Mas Taeil:

Salam hangat,

Don♥

Advertisements

One thought on “[Birthday Fic] Street Painter — Ficlet

  1. Bang, lo kalo kesepian kan ada saya di sini, Bang. Saya temenin selama hidup Abang saya mah rela.

    ini demi apa Taeil…
    Belakangan abang tertua ensiti ini menggerayangi otakku, dan terdamparlah saya di sini. Hai Donna, aku sblmnya pernah mampir juga di ff mu yang di nctfanfiction.

    suka ih sama mas taeil yang sangar kek gitu,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s