[Vignette] Nevermind

tumblr_o3vpppzbG71rouo49o2_1280

NEVERMIND

thehunlulu ©2016

.

[BTS] Kim Taehyung, Kim Namjoon || Friendship, crime, slice of life, AU! ||

Vignette || PG-15 (for the harsh words and behavior)

.

The story and plot is original mine!

.

Dedicated to all the boys who lived in this painful world…

 

–inspired by RUN Japanese ver. theory

.

Menapakkan kaki berlawanan arah dengan arus kehidupan bukanlah sebuah kesalahan.

Kala Tuhan menggariskan seluruh skenario untukku menggunakan tinta tebal bernama ‘takdir’, di sini–di bawah naungan hujan yang seakan menghardikku yang tengah bersimpuh lemah–tak serta merta membuatku bangkit, menyeret tungkaiku untuk menyelami arti dari kehidupan yang sesungguhnya.

Karena aku tahu, kehidupan bukan untuk kau kejar kemana berlabuhnya.

Tetapi untuk kau temukan bagaimana caranya meloloskan diri dari takdir, membentuk suatu kehidupan dengan jerih payahmu sendiri.

Takdir hanya ilusi.

Takdir hanya delusi.

Karena Tuhan memberimu kekuatan bukan untuk sekedar menjamah berbagai sudut untuk kau temukan bagaimana cara berpikir rasional. Lebih dari itu, gunakan kekuatan dan pikiran rasionalmu untuk menemukan bagaimana caranya berbelok haluan–melukiskan sebuah kehidupan baru yang tak seorang pun tahu, serta lupakan delusi yang bangkit di anganmu mengenai kehidupanmu yang sebelumnya.

Bisa menciptakan kehidupan sendiri adalah impian semua orang.

Namun apa kau menduga, jika kehidupanku ini bukanlah kehidupan yang kuinginkan? Aku dibutakan. Dalam gelap, bersembunyi di balik tipu muslihat, ia mendekatiku yang terlampau lemah. Hipotesa yang payah, aku mengulurkan tanganku–berharap ia adalah malaikat yang hendak menuntunku pada kehidupan yang terang, membuatku tertelan dalam dimensi itu. Aku yang lemah pasti akan terhuyung mundur kala memijakkan kaki pada kehidupan itu. Karena aku yang ‘gelap’ serta menyedihkan ini pasti akan termakan oleh gemerlapnya takdir yang sesungguhnya. Namun aku salah. Malaikat enggan untuk mendekatiku yang berusaha menentang takdir. Ia berusaha mencari kawan untuk diajaknya bermain-main pada dunianya yang kotor. Lalu ia menjadikanku–pemuda lemah tak berdaya–yang masuk ke dalam lubang tipu muslihatnya.  Apa kau tahu jika ia sudah menargetkanku sebagai kawan di takdir kehidupannya?

Namun aku menikmatinya.

Aku. Kim Taehyung.

Terjebak di dalam takdir seseorang.

Katakanlah bahwa seseorang hidup hanya untuk mematuhi seluruh petuah kehidupan; menunduk kala dibebani dengan sebuah kewajiban, enggan menuntut hak, tekanan batin kerap kali menghantam dada, serta sukar untuk mendapatkan kepuasan batin maupun materi. Pendek kata, bunuh diri pun menentang takdir. Namun aku tak semenyedihkan itu.

Kehidupan memang pahit. Bertubi-tubi hal itu menamparku walau hanya sejemang. Namun bila aku memikirkannya lebih spesifik, membangun takdir seorang diri memang sulit. Maka aku sedikit banyak merasa bersyukur karena ia sudah menuntunku menuju takdirnya. Walau terlampau kelam, aku menikmatinya.

Aku yang dahulu selalu menunduk, perlahan hal itu terhempas pergi bersama angin. Semakin aku menyelami seberapa dalam takdir-nya, aku semakin percaya diri. Seorang Kim Taehyung sepertiku sudah bisa berjalan sambil membusungkan dada dan mengarahkan pandang. Tentu saja tidak ada niatan di benakku untuk menemukan celah antara kehidupan fana dan nyata lalu berusaha keluar dari jebakan kehidupannya ini.

Walau aku tahu, keputusanku ini membuat kehidupan di sana runtuh. Hanya karena seorang Kim Taehyung yang terlampau keras kepala, semuanya menjadi kacau, hancur, dan runtuh.

Aku sebenarnya tidak menginginkan hal itu terjadi di kemudian hari. Namun pasti Tuhan akan menghardik ia–Kim Namjoon–terlebih dahulu karena ia yang mengajakku kemari.

Jadi tidak salah ’kan jika aku berlagak seakan tak punya hati nurani?

“Kim Taehyung! Minggir!”

Kala itu Namjoon bersepeda menembus dinginnya malam, napasnya terengah serta suaranya berdifusi dengan udara. Aku hanya berdiri sambil memandangnya keheranan. Runguku sukar menangkap pekikannya di ujung jalan, lantas ia menghilang dari netraku.

Merajut langkah, tangan kiriku menggenggam sebuah kantong berwarna coklat yang sedikit hangat. Ditemani ringkihan antar ranting pohon serta derap langkahku, aku lekas memusatkan pandang pada sebuah kursi taman yang terletak di bawah sebuah pohon beringin tua. Napasku sangat berat untuk sekedar memberi jeda sebelum aku melahap sebuah burger di tanganku.

“Ah, dasar Namjoon sialan.” Umpatku yang menyerupai bisikan, seakan hendak mengajak sang penghuni pohon untuk bertukar cakap.

Tanganku membeku disertai getaran yang agaknya sedikit mengganggu acara makanku. Lantas saja aku menoleh ke segala arah, mencari batang hidung seorang Namjoon namun nihil. Sarung tangan hitam yang membalut tanganku perlahan kulepas, sedikit kewalahan jika harus makan menggunakan sarung tangan.

Aku tahu jika kala itu sudah lewat dari tengah malam, namun tiba-tiba saja Namjoon mengagetkanku dari belakang. Demi Tuhan aku sungguh tidak mengerti mengapa pusat kota sangat gelap saat itu. Aku nyaris saja memuntahkan makanan yang sudah siap kutelan sebelum eksistensi Namjoon mengambil alih tempat kosong di sampingku.

“Berengsek.”

Umpatan khas Namjoon.

Aku yang tidak terlalu ingin tahu hanya melanjutkan melahap gigitan terakhirku. Hingga saat itu telingaku memerah karena ulah angin musim dingin yang menyapu wajahku. Saat itu pula aku membuka suara pada Namjoon.

“Ada apa lagi?”

Namjoon bergeming.

“Hei Namjoon, ada masalah apa?!” aku menaikkan volume bicaraku, berusaha mengalahkan suara ranting yang bergesekan di atas kami.

Namjoon tak memiliki niatan untuk membalas ucapanku baru saja. Ia menekuk lehernya ke bawah sembari memejamkan matanya. Kedua tangannya ia lipat di depan dada yang membuatku berdecak kesal. Dapat kulihat kantung matanya yang semakin hari semakin menebal. Benar-benar hitam pekat bak pakaian yang sedang kami berdua pakai kala itu. Mengapa Namjoon terlihat semengerikan ini, ya?

Namun saat aku memalingkan wajah hendak merengkuh minuman di dekatku, Namjoon memekik nyaring, “Taehyung berani-beraninya kau melepas sarung tanganmu!” ia mendorong pelipisku menggunakan telunjuknya. Aku nyaris terjerembab jika saja di depanku tidak ada sebuah batang pohon cemara.

Kulihat Namjoon mengambil sarung tanganku yang entah sejak kapan sudah mencium tanah. Ia mengebaskannya lalu memberikannya padaku.

“Apa salahnya, sih?” tanyaku setelah merekatkan pengaitnya pada tanganku. Lantas aku meneguk sedikit air dari dalam botol.

“Polisi sedang mencari kita, kau tahu! Jangan sembrono seperti itu! Walaupun tanganmu lemah, namun simbol kebanggaan kita ada di sana!”

Cih.” Aku mencebik. Sudah hal yang lumrah jika seorang Namjoon mengataiku bak manusia tak berotak penuh seperti itu. Namun aku tidak sakit hati.

Aku menatap Namjoon yang melepas perban di tangannya dengan perlahan, memutar-mutar kain putih itu agar terlepas dari tangannya. Walau belum rampung Namjoon melepasnya, namun tampaknya luka itu benar-benar besar. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Namjoon yang beberapa hari lalu melawan gangster beringas, lalu berani-beraninya ia hendak memukul lawannya menggunakan kayu yang terdapat paku di permukaannya. Alhasil Namjoon kena batunya. Kayu itu meleset dan menembus punggung tangan kirinya. Bisa kulihat bagaimana darah segar itu berusaha menerobos kulitnya lalu membeku di tengah dinginnya malam.

Namjoon mengajariku bagaimana cara menjadi pemuda tahan banting secara tidak langsung.

Ah, aku semakin mencintai kehidupannya.

Ia memijat sedikit punggung tangannya, lalu memperlihatkanku sebuah tattoo bergambar bintang berwarna kuning. “Bintang ini artinya harapan. Jika kau memiliki harapan, maka mendongaklah dan berusaha agar bisa meraih harapanmu itu walau setinggi bintang.” Ujarnya lembut sambil mendongak ke atas, menatap gugusan bintang yang menjadi saksi bisu atas semua takdir yang ia ciptakan sendiri.

“Dan ini–“ jeda sejemang sebelum ia membuka sedikit lengan jaketnya. “–kau tahu kan jika kau juga harus memiliki pegangan hidup?”

Aku mengangguk.

Ia menunjuk sebuah salib berwarna hitam di tangannya. Salib itu sedikit lebih besar daripada bintang, sehingga membentuk sebuah pola rumit yang sudah menjadi ciri khas kami.

“Tapi salib yang ada di tanganmu terbalik, Namjoon.”

Ia terkekeh ringan. Memperbaiki posisi duduknya sambil mengambil napas berat lalu mengeluarkannya perlahan. Kemudian ia mengalihkan pandang pada tangannya kembali. “Bisa kau katakan ini adalah makna kehidupanku, Taehyung.”

Lucifer.

“Aku adalah pemuda yang sudah terlanjur berlari sejauh mungkin dari yang namanya takdir. Aku tahu Tuhan tidak menghendaki semua itu, namun aku merasa bahwa kehidupan yang menentang takdir itu menyenangkan.”

Aku mengangguk disertai senyuman tipis.

“Kehidupan yang melanggar ajaran Tuhan. Kehidupan iblis lebih tepatnya.” Lanjutnya meyakinkan.

Aku tidak kaget mendengarkan penuturannya, karena ia lah yang paling kupercaya saat ini.

“Tapi Taehyung, kau mencintai kehidupanku, ‘kan?”

Sangat, Namjoon. Sangat mencintai. Hingga membuatku ingin mengambil alih seluruh kehidupanmu–

“Tentu saja, Namjoon.”

–seluruh kehidupan yang telah kau bangun dengan susah payah.

Entah darimana datangnya hasrat itu. Hasrat untuk mengambil alih seluruh kehidupannya. Hasrat untuk memiliki seluruh takdir Namjoon seutuhnya.

Licik memang.

Namjoon bukan hanya seorang pengikut iblis, namun ia sudah terlampau menyerupai iblis yang terlihat sangat amat menikmati kehidupannya. Kehidupan seorang iblis yang mengundang atensiku untuk menelisik lebih jauh.

Sensasi itu, seakan membuatku terbang menembus cakrawala, menggeliat di atas tanah kala Tuhan sudah benar-benar menghardikku.

Dan hasrat itu terlaksana saat ini juga. Di bawah naungan hujan, lututku yang nyaris membeku sudah mencium tanah dengan sempurna.

Beberapa sekon berlalu membuat hasrat itu perlahan menghilang. Tanganku bergetar hebat, sudah terlampau erat dengan sebuah belati yang tertaut pada buku-buku jariku.

Air hujan yang menciptakan danau mini di hadapanku kini senada dengan jiwa iblis yang melayang pergi. Menciptakan kubangan merah pekat sehingga tergambar pantulanku dari sana. Kulihat seringaian khas seorang Kim Taehyung yang terukir sempurna. Terlampau sempurna hingga Namjoon kala itu berniat untuk menggandengku menuju takdir yang ia buat.

Iya ‘kan, Namjoon?

Namjoon terlihat begitu sempurna saat ini.

Tubuhnya tertelungkup lemah di atas tanah yang kupijak. Punggungnya kini tidak lagi menjadi pemandangan sehari-hariku kala ia berusaha melindungiku dari serangan lawan yang terlampau beringas.

Aku mencintai kehidupannya. Sangat amat mencintai.

Jika Tuhan bertanya padaku siapa iblis yang paling jahat di muka bumi maka aku akan berjalan sembari menyeret seonggok Namjoon yang terlihat menyedihkan ini.

Aku. Seorang Kim Taehyung. Iblis yang berhasil membunuh seorang iblis yang paling jahat di muka bumi hanya untuk mengambil alih seluruh kehidupannya.

Kehidupan fana yang terlampau menyenangkan ini.

 

Dedicated to all the boys who lived in this painful world…

Youth is never coming back.

 .

.

fin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s