[Ficlet] Vérité

1133.png

Vérité

thehunlulu ©2015

.

Cast: [B.A.P’s] Choi Junhong & [OC’s] Ginny

 Genre: School life, friendship, fluff

 Length: Ficlet

.

“Je veux t’appeler mien,”

Katakanlah bahwa seorang Choi Junhong tidak akan berani membolos kecuali keadaan sangat genting –panggilan alam hingga ia harus bolak-balik ke kamar mandi dalam satu jam. Jangan salahkan Junhong juga jika ia tidak menghiraukan hardikan Daehyun saat pembagian tugas kelompok –karena lagi-lagi ia harus berkencan dengan kloset selama beberapa menit.

 

Napasnya tersenggal-senggal, surai hitamnya terponi ke bawah –meneteskan peluh yang sukses membuat kerah Junhong basah kuyup. Tubunya nyaris terhuyung mundur jika pendengarannya tidak segera menemukan seseorang yang memanggil namanya.

 

“Choi Junhong!”

 

Junhong mendongak, salah satu tangannya ia lambaikan pada seorang gadis yang tengah mengayunkan tangannya –menyuruh Junhong agar cepat menuju kelas sebelum bel berbunyi.

 

Junhong tetap bergeming bersamaan dengan bokongnya yang resmi mencium tanah. Kalau bukan karena diare yang menyerangnya dua hari lalu mungkin ia tidak akan terburu-buru seperti ini. Kakinya terlampau malas walau hanya melangkah beberapa meter, namun atensinya tetap tertuju pada punggung seorang gadis yang semakin menjauh di ujung balkon.

 

Junhong menghela napas berat–kesal dengan sebuah botol minuman berkarbonasi yang enggan terbuka–hingga kedua kelopak matanya dibuat menyipit bersamaan dengan sebuah kaleng minuman dingin yang menempel pada pundaknya saat ia mendongak.

 

Junhong mendadak lupa dengan panasnya terik yang menyengat kulitnya.

 

“Ini untukmu, Junhong,”

 

Pandangannya masih menerka seorang gadis yang berdiri membelakangi sinar matahari, namun ia tahu betul suara itu. Lantas saja ia bangkit, menggantungkan tasnya pada salah satu pundaknya dan menepuk bokongnya yang penuh dengan tanah.

 

“Junhong?”

 

“Eh –hmm, terimakasih. Tapi aku sudah membawa ini dari rumah,” ia menekuk lututnya bermaksud untuk mengambil sebuah botol yang tergeletak di atas tanah.

 

“Bilang saja ingin dibukakan,“

 

Junhong mendelik, ia menggelengkan kepalanya yang sedikit berdenyut akibat paparan sinar matahari. “Tidak u –“

 

Sedetik berikutnya ia memukulkan botol yang ia bawa pada kepalanya keras-keras.

 

“ –silahkan Tuan Junhong. Kalau kau berlagak manja selain padaku, mungkin kau akan kehilangan seluruh gigimu karena bogeman mentah yang mereka layangkan,”

 

Oh, sialan. Bukan ini yang Junhong harapkan di depan seorang Ginny –gadis berdarah Korea-Prancis yang diam-diam menarik atensi Junhong untuk mengetahui segala sesuatu tentangnya lebih dalam.

 

“Aku tidak manja, kau tahu!” bela Junhong mati-matian saat dirasa telinganya mulai memerah.

 

Lelaki itu kemudian melangkahkan tungkainya lebar-lebar –menyejajarkan langkahnya dengan Ginny.

 

“Cepat minum, Junhong. Jangan sampai ketahuan guru jika kau membawa minuman berkarbonasi,”

 

“Kau tidak minum?”

 

“Aku membawa dua kaleng, jadi minum saja milikmu,” tangan Ginny mendorong kaleng yang Junhong bawa agar lelaki itu segera menghabiskannya.

 

Junhong lantas mengabiskan minumannya dalam beberapa teguk, lalu melakukan selebrasi konyol saat kalengnya berhasil masuk ke dalam tong sampah yang letaknya cukup jauh dari tempatnya.

 

Junhong menghentikan langkahnya, membuat Ginny yang terus berjalan di depannya terlihat menyipitkan kedua matanya lalu ia berbalik –menginterupsi Junhong yang tengah terbahak sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

 

Tawa Junhong berhenti, namun kali ini ia terkekeh sambil berlari kecil guna menyejajarkan langkahnya kembali. “Kau ingin aku di sampingmu agar aku bisa melindungimu dari sengatan matahari, kan?”

 

Setelahnya, Ginny mendelik. Nyaris melayangkan sebuah pukulan pada pelipis Junhong namun tubuh mungilnya yang tak mampu meraih kepala temannya itu justru membuat Junhong terbahak untuk kedua kalinya.

 

“Apa jangan-jangan kau memang sengaja memberiku minuman karena kau –“

 

Tak butuh waktu lama untuk Junhong menghindar dari kejaran Ginny yang masih memiliki hutang pukulan pada pelipis Junhong.

 

“Kejar saja kalau kau bisa!” Junhong memutar lehernya, melonggok ke bawah dan mendapati Ginny yang terlihat kesusahan saat menaiki anak tangga.

 

“Sialan kau –aduh!”

 

Sebuah dentuman menginterupsi langkah Junhong yang mau tak mau membuatnya berbalik menghampiri Ginny. “Kau tidak apa-apa, Gin?”

 

Junhong meraih pergelangan tangan Ginny, merangkulkannya pada leher Junhong lalu membopong Ginny untuk menyelesaikan beberapa anak tangga yang belum terlewati.

 

“Gin, kakimu berdarah,”

 

Manik Ginny sepenuhnya tertuju pada lututnya yang mulai basah karena liquid merah yang berhasil lolos dari kulitnya.

 

“Tidak apa-apa, Jun. Toh setelah sembuh nanti aku pasti akan membayar hutang pukulanku padamu,”

 

Junhong hanya menarik kedua ujung bibirnya hingga membentuk kurva lengkung–begitu pula dengan kedua matanya–sebagai jawaban.

 

Vous suce,”

 

“Berhenti berbicara dengan bahasa Prancis, Gin. Lebih baik kau pukul kepalaku sekarang saja,” Junhong menundukkan kepalanya –memberi kemudahan pada Ginny yang hendak memukul pelipisnya.

 

“Aku tak yakin kau masih bernapas hingga esok hari,”

 

“Tak apa. Lakukan sa –aduh!”

 

Junhong nyaris melepaskan tautan jemarinya pada tangan Ginny. Gadis itu kini telah berdiri dengan tumpuan satu kaki, lalu kali ini meninju pipi Junhong–

 

“Aduh! Hentikan Kwon Ginny!”

 

–dan mendorongnya hingga tersungkur.

 

Junhong lekas bangkit, menahan badannya yang hendak merosot untuk kedua kalinya sambil menatap tubuh Ginny yang terlihat melompat-lompat meninggalkan Junhong.

 

“Oke, aku kalah denganmu, Kwon Ginny! Lain kali jangan minta tolong padaku jika kau –“

 

Bruk!

 

Bagus. Junhong harus melawan rasa pusing pada kepalanya dan berlari menghampiri Ginny yang terlihat memijat kakinya di atas lantai.

 

“Sudah kubilang kalau butuh aku jangan sok kuat begitu, Gin!” Junhong mengulurkan tangannya yang dibalas dengan uluran Ginny.

 

Ginny masih menundukkan kepala –membiarkan wajahnya tertutup oleh surai panjang miliknya–sedangkan pundaknya bergetar naik turun.

 

“Ginny? Kau menangis?”

 

Vous suce,” ujar Ginny disela tangisannya.

 

Junhong mengentikan langkahnya lantas menyibakkan surai hitam Ginny, membuat gadis di hadapannya itu mendongak dengan mata sembab.

 

“Berhentilah berbicara dengan bahasa ibumu, Gin. Aku pusing setiap hari mendengarkanmu berbicara bahasa aneh seperti itu.”

 

Ginny hanya terkekeh. “Maafkan aku, Jun.”

 

“Sudah, jangan menangis. Kita sudah impas, jadi jangan sampai aku dipanggil kepala sekolah karena membuat seorang gadis menangis,” Junhong mendaratkan ibu jarinya pada pipi Ginny untuk menghapus air matanya lalu berjalan membopong gadis itu menuju ke kelas.

 

“Ngomong-ngomong aku hanya bisa satu kalimat dalam bahasa Prancis,”

 

Ginny menepuk kepala Junhong pelan. “Aku baru tahu jika otakmu bekerja dengan baik juga,”

 

“Kau mau mendengarnya tidak?”

 

“Cepat katakan,”

 

Je veux t’appeler mien

 

Sepersekian detik berikutnya Ginny membulatkan kedua matanya, merasakan suhu panas yang menjalar pada kedua pipinya hingga membuat tangannya nyaris merosot dari leher Junhong.

 

“Lupakan, Gin. Aku pun tidak tahu artinya hahaha,”

 

“Kau ingin tahu artinya, Jun?” tanya Ginny menginterupsi kekehan Junhong. Lawan bicaranya hanya bisa menganggukkan kepala sebagai jawaban.

 

I want to call you mine,” Ginny mengambil napas dalam-dalam. “Jangan bilang kau tidak bisa bahasa Inggris, Jun!”

 

“Bohong, Gin. Aku bisa kedua bahasa itu, kok,”

 

Selanjutnya Junhong tertawa renyah karena pipi Ginny yang mulai memerah.

 

It’s okay, Gin. You can call me yours,”

.

.

.

fin!

a/n; selamat comeback mas-mas B.A.P! XD nih kubawakan ff spesial comeback kalian :””) /sebenernya bingung mau ngirim ff ini kemana/ :> dan mungkin akan ada series berikutnya dan insyaallah lima member lainnya bakal kubuat ff secepatnya :”

Advertisements

5 thoughts on “[Ficlet] Vérité

    1. weh
      weh
      kaget weh senpai komen di ffku /lempar kamboja/
      btw itu artinya “i want to call u mine” tapi entah dapet ide random aja aku pengen cari artinya itu dalam bahasa prancis wakakaka XD dan engga tau itu bener apa salah, cuma modal bing translator doang :”)
      salahkan mas agus sama kuki yang boros banget ngeluarin pesona ya :”

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s