SPECIAL FF – WHAT IS LIFE (ONESHOT)

WHAT IS LIFE

thehunlulu storyline

.

Cast: [MONSTA-X] Wonho, Kihyun, Hyungwon

Genre: Family, friendship, comedy, sad

Length: ONESHOT (2.600+ words)

.

Disclaimer: Based on true story; about Wonho’s scandal when he was young (please do not bash and give any negative respons for him). Story and plot is mine. Don’t be a plagiarism!

Semua tentang Wonho, kebiasaannya, idolanya, ketertarikannya pada film, dan impiannya.

 

.

 

Senja itu Wonho terlihat duduk dengan membungkukkan punggungnya pada kursi sebuah klub malam sendirian. Lehernya juga terlihat sama lemasnya dengan fisiknya saat ini. Maniknya terdiam menatap lantai marmer di bawahnya dengan kerlap lampu disko warna warni yang ikut memeriahkan tempatnya saat ini. Namun Wonho tetap enggan membuka hatinya untuk sekedar menuruti nafsunya untuk ikut berjoget atau sekedar menggoda wanita-wanita di sekitarnya.

 

“Wonho-ya!” lelaki itu menegakkan lehernya, lalu menoleh kearah sumber suara disertai cengiran khasnya.

 

“Kau tidak ikut kami?” pemuda bersurai hitam itu memberikan satu gelas alkohol pada Wonho, namun ia menggeleng.

 

“Tidak. Aku tidak minum,” Wonho menaruh kembali gelas yang berisi liquid bening itu di atas meja. Ia juga enggan bersulang dengan teman-temannya yang sudah setengah mabuk –lebih tepatnya sudah hampir sekarat.

 

“Kau kehausan morfin, teman?” Wonho dapat melihat sebuah cengiran menyebalkan yang tertaut pada bibir temannya itu. Ia menyenggol lengan Wonho lalu meninggalkannya tanpa menghentikan cekikikannya.

 

“HEI, SEJAK KAPAN AKU MENJADI PECANDU NARKOBA?!” seluruh penghuni klub malam itu menghentikan aktivitasnya, menyisakan musik disko yang tetap terputar. Wonho memandang sekitarnya dengan angkuh sembari menatap satu-persatu manik yang memandangnya keheranan.

 

“SIALAN KAU YOO KIHYUN!!” kali ini Wonho mengumpat sekencang-kencangnya walaupun ia sendiri tidak tahu apakah pria bersurai hitam itu mendengarnya atau bahkan sudah menghilang dari klub.

 

Untuk sejenak Wonho berpikir dalam keterdiamannya sedari tadi. Memikirkan ibunya yang selalu meraung-raung agar ia cepat pulang, namun ia membantahnya. Lalu hingga suatu saat ia mendapat telepon dari ibunya agar tidak pulang kerumah. Pikiran Wonho berkecamuk. Memang pada satu situasi, kesenangan yang selalu ia lakukan ini tidak diakukan dengan sepenuh hati. Ia hanya ingin tahu bagaimana kehidupan orang-orang tidak baik diluar sana –walaupun ia masih dibawah umur. Namun mengapa ia merasa nyaman, ya? Walaupun kebiasannya ini harus mengorbankan ibunya sendiri.

 

Mengapa aku tidak boleh pulang, bu?

 

Bukan Wonho namanya kalau ia tidak mudah penasaran dengan suatu topik. Walaupun ibunya bahkan mengira Wonho akan sangat gembira jika dilarang pulang ke rumah, namun nyatanya ia tidak sejahat itu. Ia juga rindu ibunya, dan rumahnya. Karena tempatnya bersemayam setiap senja nyatanya tidak lebih nyaman dari kamarnya yang penuh foto-foto idolanya, Bigbang.

 

“Ah.. aku rindu Seungri Hyung,” ucapnya saat kakinya baru melangkah keluar dari klub. Ia menghembuskan napas berat, lalu mendongak dan menatap bintang-bintang yang berkelap-kelip. Sesaat ia berpikir, apa yang harus ia lakukan agar bisa bersinar bagaikan bintang yang menggantung di langit kelam? Walaupun dunia sekitarnya penuh dengan kemisteriusan dan kegelapan, ia dapat bersinar dengan sangat terang. Ia tahu hidupnya tidak hanya sampai sini sebelum ibunya pergi. Begitu pikir Wonho.

 

Lamunannya terpecah saat mendengar satu pesan masuk pada ponselnya. Ia merogoh sakunya dan jemarinya memainkan sebuah pola pada lockscreennya.

 

Sudah ibu bilang, jangan pulang. Kau pergi kerumah nenekmu saja.

 

Alih-alih mengambil langkah menuju rumah neneknya, ia malah terdiam pada posisinya. Tetap mengetikkan sederet kalimat agar rasa penasarannya bisa terjawab.

 

Tapi aku belum memberi makan Taeyang malam ini.

 

Setelah membalas pesan ibunya, ia segara bergegas menuju rumah neneknya. Perkara ia dilarang pulang, ia tidak peduli. Ia yakin Taeyang –kucing persia peliharaannya sudah diberi makan.

 

Wonho melangkahkan tungkainya santai diiringi nyanyian kecil yang terlontar dari bibirnya. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku sambil menggelengkan kepala mengikuti alunan hip-hop milik Bigbang dari earphonenya.

 

Langkahnya terhenti bersamaan dengan alunan musik yang tiba-tiba berhenti. Ia mengambil ponselnya dan melihat nama ibunya tertera pada panggilan masuk.

 

“Ya, apa bu?”

 

“LEE HOSEOK! SUDAH, CEPAT PERGI MENUJU RUMAH NENEKMU! TAEYANG SUDAH IBU BERI OBAT TIDUR AGAR TIDAK MEMBUAT KEGADUHAN!!!”

 

“APA?!” saat itu juga Wonho terlonjak. Ia termundur dan nyaris terjerembab ke dalam saluran air yang masih diperbaiki.

 

“HALO? BU?!”

 

Wonho menendang tong sampah di sampingnya dengan kekuatan super yang ia miliki. Ia menghentakkan kakinya dan mengacak rambutnya. Bukan Wonho namanya kalau ia tidak sedikit berlebihan setelah menonton film favoritnya, Fantastic 4.

 

“GUK! GUK!” sepersekian detik berikutnya ia tersadar jika anjing yang sedang tertidur pulas di depannya terbangun. Wonho lantas mengambil ancang-ancang untuk menciptakan langkah seribu bagaikan pemain The Maze Runner yang dua hari lalu ia tonton.

 

“Ah sialan,”

 

Wonho menghentikan langkah konyolnya. Ia baru menyadari jika itu adalah suara anjing milik neneknya yang ia beri nama Ragon –kependekan dari anggota favoritnya, G-Dragon. Ia mengendap-endap, punggungnya membentuk sudut sembilan puluh derajat agar tidak terlihat oleh Ragon yang baru saja terbangun dengan tidak manusiawi.

 

Oh Wonho baru sadar. Ragon kan bukan manusia.

 

Ia sedikit menegakkan tubuhnya. Lehernya berputar dengan maniknya yang berkelana memperhatikan situasi rumah neneknya –seperti seorang maling pakaian dalam yang pernah ia temui. Sesaat kemudian, ia melompat dan menerobos pagar neneknya yang tidak terlalu tinggi. Sesampainya di dalam, Wonho terlihat seperti memikirkan sesuatu.

 

“Oh ayolah Ragon, berhentilah menggonggong,” Wonho memohon pada anjing di depannya sambil menempelkan telunjuknya pada bibir. Ia berjongkok lalu mengeluarkan satu bungkus roti rasa ikan dari kantongnya –berharap Ragon tidak membuat keributan kembali karena ia baru sadar bahwa neneknya akan tahu jika Wonho baru saja pulang dari klub malam –yang pastinya beraroma alkohol. Salahkan saja Kihyun yang tidak sengaja menumpahkan hampir separuh gelas alkohol pada kaos Wonho. Padahal lima hari terakhir ini ia tidak mengkonsumsi alkohol –walaupun ia hanya mencoba dua gelas lalu pingsan di tempat.

 

Wonho hendak berbalik, lalu ia mendapati sebuah kertas merah muda yang direkatkan menggunakan magnet bergambar Daesung Bigbang pada lemari es. Wonho mencondongkan tubuhnya dan membaca tulisan itu dengan perlahan melalui celah jendela yang tidak tertutup tirai.

 

Nenek sedang kursus menyulam di dekat sekolahmu.

Ambil kunci di atasmu.

Nenek akan cepat pulang.

 

Wonho mendongakkan kepalanya dan segera menyambar sebuah kunci di celah ventilasi. Ia lantas melemparkan tubuhnya pada sofa milik neneknya sambil meluruskan kedua kakinya yang berbalut kaos kaki bergambar fanart T.O.P Bigbang pada meja. Jemarinya sibuk memainkan remot untuk memilih acara televisi yang menarik. Ia menyandarkan punggungnya sembari melemaskan otot-otot lehernya namun Ragon tiba-tiba saja datang dengan sebuah plastik yang terapit kedua giginya.

 

“Apa ini?” Wonho mengambilnya dan berbicara pada pantat Ragon yang menghadap wajahnya.

Tangannya dengan lihai membuka sebuah plastik berwarna abu-abu itu lalu menyobek kertas pembungkus yang ada di dalamya.

 

“TAZZA 2!!” jiwa Wonho seketika membara bagaikan pahlawan kemerdekaan. Raganya berapi-api sambil melakukan berbagai gerakan selebrasi konyol khasnya. Diciumnya sebuah DVD berisi film Tazza 2 milik idolanya, T.O.P. Masa bodoh dengan bagaimana film itu ada di rumah neneknya. Ia pasti akan sangat kewalahan jika mencarinya sendiri di toko film karena akan muncul berbagai pertanyaan seperti ‘untuk siapa film ini?’ atau ‘berapa umurmu?’ atau bahkan ‘jangan meniru adegan di film ini. Ngomong-ngomong, kau belum cukup umur untuk menontonnya?’ dan sebagainya.

 

Ia lekas-lekas terjun dari atas sofa lalu mengutak-atik DVD player tua milik neneknya dengan susah payah sebelum ia terjungkal ke belakang setelah tangannya tidak sengaja memencet tubuh cicak hingga sekarat –persis seperti Kihyun yang sedang mabuk.

 

Beberapa menit berlalu dan Wonho tampak kehilangan kesabaran untuk meladeni DVD player tua dan berdebu itu. Ia pun berniat mencari solusi melalui internet dan menggulingkan tubuhnya untuk meraih ponselnya di atas sofa.

 

“Tidaaaak!” pekik Wonho hingga tenggorokannya nyaris tercekat.

 

Matanya menatap layar ponsel berbalut softcase bergambar Bigbang di genggamannya. Separuh nyawanya terasa hilang karena nyawa ponselnya melayang begitu saja –yang lantas membuat Wonho juga melayangkan tinjuannya kearah sofa.

 

Seperti biasanya, ia sedang menirukan salah satu adegan pada film Mission Impossible 5 yang tadi pagi ia tonton.

 

Pemuda bersurai kecoklatan itu segera bangkit menuju rumahnya untuk mengambil charger. Karena tempat paling aman untuk menonton film yang baru saja diberikan Ragon adalah rumah neneknya –itupun jika neneknya belum pulang dari menyulam. Setidaknya Wonho berharap agar neneknya bermalam di tempat kursus hingga esok.

 

Wonho bergegas mengunci pintu dan mendapati Ragon yang tengah tertidur pulas dengan sisa remah roti yang berhamburan di lantai. Wonho tidak ambil pusing, ia segera melompati pagar karena terlalu malas untuk membuka gembok tua yang sedikit berkarat –yang membuat Wonho sedikit kesusahan saat membukanya.

 

Ia mengambil langkah panjang sambil menyibakkan topi pada hoodienya. Rumahnya tidak terlalu jauh jika ditempuh dengan jalan kaki. Setidaknya tidak sampai sepuluh menit ia sudah sampai –juga bukan perjalanan yang membosankan karena Wonho selalu menyanyikan lagu Stupid Liar milik Bigbang.

 

Wonho menghentikan langkahnya beberapa meter dari pagar rumahnya. Sepersekian detik berikutnya, alisnya dibuat saling bertaut oleh segerombolan pria berpakaian seperti polisi yang terlihat mengerubungi rumahnya. Nyalinya bahkan merosot hampir mendekati garis minus saat maniknya menangkap sebuah objek yang bertuliskan ‘police line’ yang mengelilingi rumahnya. Ia nampak kebingungan. Maniknya tampak berputar kesana-kemari mencari sosok ibunya namun nihil, ia tidak menemukan seorangpun di sana. Wonho bergerak mendekat, melepaskan topinya yang membuat seluruh polisi memandang kearahnya hingga salah seorang polisi tampak menariknya secara paksa agar tidak mendekati garis polisi.

 

“A-ada apa ini?!” Wonho menghempaskan tangannya kasar yang membuat polisi itu nyaris tersungkur.

 

“Tenanglah, ibumu ada di sana,” seorang polisi berbadan kekar dengan nametag bertuliskan ‘Kim’ menunjuk ke sebuah tempat.

 

Wonho tak sedikitpun mengalihkan perhatian dari rumahnya. Tampak menyedihkan memang. Namun Wonho tidak akan pergi begitu saja sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ia melanjutkan langkahnya lebar-lebar sebelum tungkainya terasa melemas saat menemukan sebuah papan raksasa bertuliskan ‘BANKRUPT’.

 

“Wonho!” sebuah suara yang sangat khas memanggilnya. Anak rambutnya ikut bergoyang bersamaan dengan gerakan lehernya yang mendapati ibunya memanggil Wonho dari kejauhan.

 

Hati Wonho terasa sesak, matanya memerah sembari memeluk ibunya.

 

“Bu, sebenarnya apa yang terjadi?” Wonho nyaris tak memberikan jeda. Ia butuh penjelasan secepatnya.

 

“Sudah ibu bilang jangan pulang, Wonho-ya,” ibunya terisak sambil mengusap air matanya kasar.

 

Wonho tak ingin mendapatkan jawaban seperti itu, namun ia juga tidak ingin mendengarkan jawaban yang sebenarnya dari sang ibu. Ia menahan sesaknya dengan sekuat tenaga sampai ibunya mengatakan hal yang sebenarnya.

 

“Bu! Apa maksud dari semua ini?! Apakah selama ini ibu menyembunyikan sebuah rahasia tanpa memberitahuku?!” amarah Wonho meluap. Sebenarnya bukan ini yang ingin Wonho perlihatkan pada ibunya. Ia sangat sedih namun sebuah perasaan lain juga terlintas dalam benaknya.

 

Ditatapnya ibunya dengan bungkam. Ibunya enggan memberikan penjelasan. Wonho lantas menunduk, membiarkan air matanya terjatuh atas semua ketidakadilan ini.

 

Surai lelaki itu bergerak pelan dengan diiringi langkah tak berdaya sembari berbalik, lantas meninggalkan ibunya begitu saja tanpa arah. Langkahnya berhenti ketika ia menemukan eksistensi Taeyang –kucing persia korban obat tidur ibunya barusan. Ia berjongkok sejenak, mengacak bulu Taeyang lalu menggendongnya .

 

Ini semua salah Wonho. Hal itu semakin membuat dirinya dihantui rasa bersalah yang tak kunjung hilang. Perihal kebiasaan buruknya yang tak kunjung ia hentikan secepatnya yang tentu saja itu adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi Wonho.

 

Wonho adalah Wonho. Bukan Wonho jika ia memikirkan dahulu apakah tindakan yang ia lakukan benar atau tidak. Bukan Wonho jika ia merasakan penyesalan diawal. Karena ini adalah penyesalan, bukan pendaftaran.

 

Mulai saat ini Wonho berpikir bagaimana cara mengembalikan rumah itu lagi. Rumah yang berisi banyak kenangan tentang keluarga, Taeyang –kucingnya, dan Bigbang –idolanya tentu saja. Setidaknya ia ingin bersinar seperti Jiyong Hyung –begitu ia menyebutnya. Ia tidak terlalu menginginkan ibunya menjelaskan tentang apa yang terjadi sebenarnya. Namun ia hanya ingin memberikan kembali kebahagiaan pada ibunya lalu mendengarkan rentetan peristiwa yang sebenarnya terjadi setelah ia sukses nanti.

 

“Hai –“

 

Lamunan Wonho terpecah seketika ketika menyadari seseorang memanggilnya.

 

“Ada apa?” masih dengan wajah sayu, ia mendongak. Perihal wajahnya yang lusuh ia tidak peduli. Toh tidak ada yang mengenalkannya kan?

 

“Apa benar kau Wonho?”

 

Wonho hanya mengangguk sebagai jawaban. Lelaki yang kira-kira sepuluh tahun lebih tua darinya itu memberikan sebuah kertas berisi invitation yang tidak Wonho pahami.

“Ayo ikuti audisi di agensi kami,” ujar lelaki itu disertai senyuman yang tersemat di kedua sudut bibirnya.

 

Wonho hanya terdiam tidak mengerti.

 

Sepersekian detik berikutnya ia membuka suara, “Darimana kau mengetahuiku?”

 

Oh ayolah, Wonho tiba-tiba amnesia jika ia adalah seorang ulzzang.

 

Sesaat kemudian ia menepuk dahinya keras, “Ah iya aku lupa –“

 

“Bagaimana? Kau mau mengikuti audisinya, kan?” Lelaki itu kini duduk di samping Wonho.

 

Wonho lantas menggeser pantatnya dan memberi jarak antara mereka berdua. Ia takut jika ini adalah modus penculikan Taeyang –spesies kucing yang saat ini sangat langka.

 

“T-tapi aku tidak tahu keahlianku,” ucapnya pelan sambil memindahkan posisi Taeyang dari jangkauan lelaki itu.

 

“Sepertinya kau bakat menjadi seorang penyanyi, anak muda,”

 

Wonho sedikit waspada perihal lelaki itu. Apa jangan-jangan ia penguntit? Atau ingin melakukan negoisasi mengenai kucingnya?

 

“Ck, sok tahu,” Wonho hanya bergumam namun mendapat respon berupa tawaan dari lelaki di hadapannya.

“Aku tidak sengaja mendengarmu berteriak sesaat sebelum kau keluar dari rumah. Teriakanmu nyaris mendekati tujuh oktaf, kau tahu!”

 

Alis Wonho berkerut. Untuk sepersekian kalinya ia menepuk dahinya ketika menyadari bahwa ia berteriak sangat kencang ketika ponselnya mati kehabisan baterai. Lalu darimana lelaki itu tahu? Perihal film yang diberikan Ragon padanya, apa itu adalah kiriman lelaki di hadapannya?

 

“Maaf tapi aku tidak tertarik –“ Wonho segera bangkit dan meninggalkan lelaki itu dengan bungkukan sekilas.

 

“Hey ayolah, sangat jarang agensi kami menawarkan audisi seperti ini,”

 

Wonho terdiam. Memandang lelaki itu untuk menyelesaikan kalimatnya.

 

“ –percayalah, kau tidak akan menyesal jika mengikuti audisi kami,”

 

Setelah sekian detik Wonho terdiam, akhirnya ia mengangguk. Wonho ingin membuktikan, apa yang akan diraihnya setelah menyetujui ajakan lelaki itu. Lihat saja.

 

 

Jemari Wonho tampak sibuk mengutak-atik rubik yang ia dapatkan dari Hyungwon –teman seperjuangannya selama lima tahun ini. Sekedar menghilangkan rasa bosan yang tampak mendominasi atmosfer tempatnya berada. Ia mendapati Hyungwon yang membuka kenop pintu lalu berjalan kearahnya dengan senyuman yang merekah. Wonho menunggu Hyungwon hingga duduk, lalu menanyakan apa yang membuatnya tampak bahagia sekali.

 

Saat Wonho hampir melontarkan sebuah pertanyaan, Hyungwon mendahuluinya dengan tatapan teduh yang ditujukan pada Wonho.

 

“Bagaimana, hyung?” Hyungwon menggeser pantatnya guna memangkas jarak yang tercipta antara mereka berdua.

 

Manik Wonho melirik Hyungwon sekilas, lalu melempar rubik berbentuk piramida itu ke lantai –nampak frustasi karena selalu gagal menyatukan setiap warna.

 

“Bagaimana apanya?” balik Wonho yang bertanya.

 

“Kau tidak tahu atau memang pura-pura tidak bahagia?”

 

“Kau ini bicara apa, sih. Aku tidak tahu. Ngomong-ngomong mengapa wajahmu bahagia sekali?”

 

Hyungwon tidak menjawab, ia tampak merogoh sakunya lalu memberikan sebuah amplop berbentuk persegi panjang pada Wonho sebagai jawaban.

 

Sedetik berikutnya raut Wonho berubah sedikit membaik dari sebelumnya. Ia menatap kertas itu lalu menatap manik Hyungwon. Begitu setidaknya ia mengekspresikan kebingungannya.

 

Pemuda itu menarik napas panjang sebelum akhirnya mengeluarkan sebuah benda yang ada di dalamnya.

 

“Nomor empat?” keningnya semakin berkerut diikuti anggukan dari Hyungwon. Namun setelahnya, Wonho tampak sudah mengerti apa yang Hyungwon maksud.

 

Hyungwon mengembangkan senyumnya. Kedua tangannya ia rentangkan lebar-lebar sebelum akhirnya memeluk Wonho kegirangan.

 

“Kita akan debut setelah ini, Hyungwon!” Pekik Wonho tepat pada telinga Hyungwon. Lawan bicaranya hanya mampu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

 

Wonho melepaskan pelukannya kemudian menatap sebuah nametag merah yang tidak ia sangka sudah berada di genggamannya. Ia tidak ingin berlama-lama lagi, segera saja tangannya memasang nametag itu pada kaosnya, begitu pula dengan Hyungwon. Wonho tampak belum melepaskan senyumnya sampil menepuk-nepuk nametag bertuliskan angka sembilan yang bertengger pada jaket Hyungwon.

 

“Ingin makan malam bersamaku? Akan kutraktir sebagai perayaan hari menjelang debut kita,” ujar Hyungwon menawarkan Wonho yang diikuti oleh langkah panjang menuju halaman gedung berwarna putih itu.

 

“Hanya kau dan aku?”

 

“Memangnya hanya kita berdua saja yang akan debut?” Hyungwon mengoper pertanyaan pada kawannya.

 

“Tunggu sebentar –“ Hyungwon menghentikan langkah yang sudah lumayan jauh dari gedung agensi. Ia tampak menatap gedung berlogo roket dan bintang itu sebelum akhirnya segerombolan pemuda tampak keluar dari pintu kaca. Hyungwon melirik Wonho sekilas yang sepertinya sedang komat-kamit menghitung jumlah pemuda yang berjalan mendekatinya.

 

“Sebelas orang? Kau yakin akan membayari mereka makan malam?” bisik Wonho yang nyaris ia sendiri tidak dapat mendengarnya.

 

Namun bukannya menunggu jawaban dari Hyungwon, tatapan Wonho tampak terkunci pada salah satu pemuda di antara gerombolan pemuda lainnya dengan nametag bertuliskan angka delapan –yang sedang sibuk memainkan ponselnya. Tidak ada yang salah dengan pemuda itu, namun napas Wonho terasa tercekat saat pandangan pemuda yang ia perhatikan lamat-lamat akhirnya menatap dirinya dengan tatapan tidak kalah kagetnya dengan Wonho.

 

“YOO KIHYUN?!”

 

Sedetik kemudian suasana menjadi hening dengan hanya menyisakan isyarat mata yang menatap Wonho dan pemuda bernama Yoo Kihyun.

 

“K-KAU?! PECANDU AMFETAMIN WAKTU ITU, BUKAN?!”

 

.

.

.

.

fin!

 

(A/N; ini spesial buatmu mon, karena sepertinya kau haus akan belaian kak Wonho /g. Cuma kehilangan ide, tapi apa daya diriku yang ingin membahagiakanmu akhirnya malah ngungkit-ngungkit masa lalu kak Wonho. Semoga kau suka mon karena ini bener-bener improv jadi idenya ngalir gitu aja pas aku lagi ngetik. Dan… tagih aku terus mon kalo dirimu membutuhkan ff wqwqwq). XD XD

 

Nih aku kasih special gif buatmu;

 

Advertisements

2 thoughts on “SPECIAL FF – WHAT IS LIFE (ONESHOT)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s