HONESTLY [Ficlet]

HONESTLY

.

thehunlulu’s storyline

Cast: [17’s] Kim Mingyu & [OC’s] Seungmin

Genre: Friendship, sad, angst

Length: Ficlet

.

“Pada dasarnya merelakan adalah sebuah kebohongan,” –prompt by Apin

.

Untuk kesekian kalinya tungkaiku menendangi dedaunan kering yang berserakan di jalan. Hanya untuk memberi keributan kecil disela sunyinya malam. Sesekali kulirik jam tangan yang bertengger pada pergelangan tanganku. Mengedarkan pandangan kesana kemari berharap menemukan eksistensi pria jangkung yang menyuruhku menuju tempat ini. Namun hanya sinar rembulan yang menemaniku seorang diri.

 

Aku melangkah kecil menuju halte bus yang tak jauh dari pandanganku sembari mengeratkan sweater yang membalut tubuhku. Aku terduduk dan menunduk seraya mengayunkan kakiku pelan –sesuai dengan alunan nada dari earphoneku.

 

Tak beberapa lama sepasang sepatu putih datang dan mesejajarkannya dengan milikku.

 

Aku mendongak perlahan, memperhatikan setiap inci tubuh pria jangkung itu sebelum manikku bertemu dengan miliknya yang tengah tersenyum padaku.

 

“Kau memakainya,”

 

Hanya dua kata yang lolos dari bibirnya, namun berhasil menyergap kerja jantungku.

 

Aku lantas menunduk, menatap sweater yang kukenakan ini dengan lamat-lamat. Semua tetap sama. Warna putih susu yang mendominasi dengan corak diamond berwarna biru pada bagian atas. Alih-alih senang karena Mingyu memberikannya padaku, hatiku terasa seperti tersayat sebuah benda yang amat tajam. Terkesan seperti sebuah perpisahan terakhir –sebelum ia menemukan eksistensi diriku yang lain. Lebih tepatnya, lebih dari sekedar sahabat.

 

Aku tak membencinya. Sama sekali tidak ada rasa seperti itu yang singgah di hatiku. Lebih tepatnya aku merasa seperti seseorang yang sangat menyedihkan. Pertahananku runtuh sedikit demi sedikit namun aku mencoba untuk menahannya –berusaha tidak terlihat menyedihkan di hadapannya. Namun ini terasa sangat sulit, hingga akhirnya air mataku berhasil lolos dari pelupukku.

 

“Aku mengerti bagaimana kacaunya perasaanmu –“ Mingyu mengambil napas pelan dan maniknya terlihat memandang sekitar. Ia mengambil tempat duduk di sampingku lantas memangkas jarak yang tercipta.

 

Aku mengusap pipiku gusar lalu menatap maniknya yang terlihat sangat teduh. Menunggu beberapa rentetan kalimat yang akan ia lontarkan.

 

“ –aku takut perkataanku melukai perasaanmu –“ lagi-lagi ia menggantungkan kalimatnya.

 

“Tak apa jika itu menjadi konversasi terakhir kita,”

 

Aku tidak bermaksud untuk melarangnya berbicara denganku lagi, namun setidaknya itu bisa membuatku lebih tenang.

 

“Sejujurnya aku lebih menyayangi orang yang sudah lama bersamaku walaupun itu hanya sebatas sahabat,”

 

Aku membeku dengan rentetan kata yang lolos dari bibirnya. Seakan memaksaku untuk menelisik lebih jauh tentang sebuah fakta yang menurutku terdengar sedikit menyakitkan.

 

Aku dan Mingyu hanyalah seorang sahabat. Tidak lebih.

 

“Seungmin –“

 

Telingaku terasa tak berfungsi selama sepersekian detik. Bunyi gesekan antar ranting pohon terdengar lebih menyenangkan daripada kalimat terakhir yang kudengar.

 

Selama beberapa detik aku tak mendengar suaranya, lantas kubalikkan badanku namun tangannya berhasil menarikku hingga ke pelukannya.

 

Mingyu memelukku erat seakan tak ingin membiarkanku pergi.

 

Pelukannya terlampau erat hingga aku mematung di tempat. Merasakan desiran darahku yang mengalir melampaui batas maksimum –begitu pula dengan cairan bening yang berhasil membuat sungai kecil pada kedua pipiku.

 

Aku merasakan sebuah kehangatan yang berbeda dari yang pernah kurasakan. Pelukannya terlampau nyaman hingga aku tidak sadar bahwa itu hanyalah sebuah pelukan yang tidak lebih dari pelukan persahabatan.

 

Aku menyembunyikan tangisanku dalam keheningan, lantas ia menepuk punggungku pelan. Aku benar-benar tak ingin melepaskannya hingga aku tersadar bahwa ada seseorang yang akan lebih membutuhkan pelukannya selain diriku.

“Pada dasarnya merelakan adalah sebuah kebohongan besar,” ia melepaskan tautannya.

 

Perkataannya membuatku terkesiap untuk sekian kalinya. Ia begitu lihai dalam membaca isi pikiranku. Aku hanya membisu, menunggu kalimat selanjutnya yang hampir lolos dari ucapannya.

 

“Namun belajar untuk merelakan adalah salah satu cara untuk menjadi dewasa,” ia melangkahkan tungkainya beberapa langkah mendekatiku seraya mengulurkan tangannya untuk mengacak rambutku yang diterpa semilir angin malam.

 

“ –tunggu aku, ya? Jangan lupa telepon aku jika seorang Park Seungmin sudah menjadi dewasa,” ia menggantungkan kalimatnya diselingi kekehan pelan. “ –dan beritahu aku jika kau butuh bantuan,” telapaknya terulur kembali untuk menyentuh puncak kepalaku lalu mendaratkan kecupannya pada keningku sebelum ia berbalik.

 

Menggandeng seorang wanita yang jauh lebih beruntung dariku.

.

.

.

.

.

fin!

 

a/n: hai Apin! /lambai2 cantik/ makasih lho, karena percakapan

kita di whatsapp waktu itu bikin aku kepikiran bikin fic kaya gini XD

ily Apin!! ❤

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s