[FICLET] COLD RAIN

COLD RAIN

.

Cast: MADTOWN’s Heojun & OC’s Minsoo

Genre: Friendship, fluff

Length: Ficlet | General

.

thehunlulu © 2015

Shit! Bahkan aku baru sadar jika sedari tadi ia menggenggam tanganku erat!

//

Tungkai Minsoo melangkah lebar. Menyusuri jalan setapak berhias rintik hujan secara abstrak. Pikirannya berkecamuk, antara menerobos hujan atau diam mematung di suatu tempat. Oh, demi Tuhan. Situasi seperti ini sangat membuatnya muak. Satu hal lagi; ia paling tidak suka jika terus menerus menutup telinganya sesaat setelah kilatan cahaya menerobos kegelapan malam.

 

“Minsoo-ya!

 

Telinganya masih cukup berfungsi saat sebuah suara berdifusi dengan hujan yang mulai menerjang jalanan. Ia menoleh, lantas terdiam sesaat. Seorang laki-laki dengan coat abu-abu mulai menampakkan dirinya.

 

“Oh. H-Heojun -” pupilnya melebar, lantas tangannya terangkat untuk membalas lambaian laki-laki itu.

 

“Sudah lama kau disini?” tanya Heojun sambil menyematkan seulas senyum pada wajahnya.

 

Demi Dewa Neptunus yang sedang pesta pernikahan, Minsoo menarik kembali pemikirannya beberapa detik lalu. Ia sangat suka situasi seperti ini. Ia membeku, memikirkan bagaimana teman satu kelasnya itu bisa menemukan dirinya yang sebatang kara disaat hujan mengguyur bumi. Oh, jika ia bisa memberhentikan waktu, ia ingin berteriak dan menari-nari dibawah guyuran hujan.

 

“Minsoo?” Heojun melambaikan tangannya.

 

“Ah. I-iya. Oh, a-aku sudah, ah tidak. Aku baru saja disini, kok,” jawabnya mengalihkan pandangan dari jalanan yang terguyur hujan.

 

“Oh, nampaknya sedang menunggu seseorang, ya?” Heojun menenggelamkan telapaknya pada saku dan menatap lurus kedepan.

 

Aku menunggumu, bodoh!

 

Minsoo memperhatikan temannya itu dengan tatapan menginterogasi. Mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Bisa jadi. Aku sedang menunggu ibuku yang sedang ada urusan,”

 

“Mengapa tidak ikut ibumu saja?”

 

Oh Tuhan, apa bocah ini tidak tahu kalau aku sedang gugup akan kehadirannya? Mengapa aku menjadi terjebak akan pertanyaannya?

 

“Hm, tidak. Karena aku tidak berkepentingan sehingga dilarang ikut,” Minsoo merapatkan jaket tipisnya. Dinginnya udara masih bisa lolos menusuk tulangnya. Ia merapatkan punggungnya pada dinding, berharap sedikit kehangatan bisa merambat ke tubuhnya.

 

“Kau sendiri mengap -” ia menoleh, mendapati hanya hembusan angin yang menggantikan posisi temannya.

 

“Heojun-a!” pandangannya mengedar. Menelisik sosok penyelamat hidupnya detik itu yang telah menghilang -entah sejak kapan-.

 

Oh, sial kau Minsoo! Dalam rangka apa kau mencari seorang Heojun?

 

Minsoo lantas ingin menggosokkan telapak tangannya, namun diterjang oleh sebuah medium hangat dari arah lain. Maniknya terhenti, menatap rintik hujan yang terpantul dari aspal jalanan. Namun bibir mungilnya tak berhenti bergetar.

 

“Maaf aku meninggalkanmu sebentar,” suara itu menyerobot indera pendengarannya.

 

Satu lirikan tepat mengenai manik seseorang di sampingnya. Kali ini giginya bergemeltuk, merasakan seluruh es menjalar sedikit demi sedikit tepat pada pembuluh darahnya. Jantungnya mendadak seirama dengan gemeltuk giginya.

 

“Terimakasih Heojun-a,” ia meraih satu cup hot tea dari tangan Heojun.

 

Selama beberapa detik suasana hening mendominasi mereka berdua. Minsoo tak bergeming. Matanya hanya menatap kosong jalanan tanpa berniat meneguk minuman pemberian Heojun.

 

“Wajahmu sangat pucat. Minumlah itu sebelum menjadi dingin,”

 

“Ah iya. Tidak apa-apa. Aku hanya tidak suka minum minuman yang masih terlalu panas,”

 

Heojun menghentikan acara meniup hot teanya, lalu menyodorkan pada Minsoo. “Ini ambil saja milikku, sudah tidak panas kok,”

 

Minsoo menatap Heojun heran. Lalu mengangguk. “Terimakasih, sekali lagi. Ah, aku jadi merepotkanmu,”

 

Heojun hanya membalas dengan senyuman khasnya.

 

“Kau mengerti momen apa yang paling aku sukai?” tanya Heojun setelah menyeruput tehnya.

 

“Hmm, tidak tahu. Mungkin momen saat pacarmu memberikan sebuah kejutan?”

 

“Tidak. Ah, maksudku aku tidak memiliki pacar,”

 

“Bagaimana bisa siswa sepopuler dirimu tidak memiliki pacar? Lihatlah, kau tertawa!” kekeh Minsoo sambil menunjuk wajah Heojun yang memunculkan rona merah pada pipinya.

 

“Sungguh!” elaknya.

 

“Iya iya, aku percaya padamu. Memangnya apa momen yang paling kau sukai?”

 

Heojun menghembuskan napas pelan, “Momen yang paling aku sukai adalah disaat membuat nyaman orang yang aku sayangi dan bersamanya walau hanya satu detakan jantung,” ucapnya kali ini dengan nada lebih rendah.

 

Diam kau, Heojun! Jangan jadikan aku sebagai tempat menampung semua curhatanmu! 

 

Minsoo hanya mengangguk. Berusaha menggantungkan seulas senyum pada bibirnya. Entah apa sebabnya, jantungnya kali ini terasa seperti ditumbuhi ribuan kaktus.

 

Minsoo meneguk habis minuman di tangannya. Sembari merasakan -bahkan menghitung detak jantungnya yang terasa seribu kali lebih cepat dari yang ia kira saat Heojun mengambil langkah beberapa inchi, membuat jarak diantara mereka berdua nyaris tak tersisa.

 

“Minsoo-ya,”

 

“I-iya, Heojun?” pipinya menciptakan semburat merah yang membuat Heojun terkekeh pelan.

 

“Kau baru saja lari maraton, ya?”

 

Minsoo menggeleng cepat, “Tidak. Bagaimana bisa kau menebak seperti itu?” matanya membulat, berusaha menginterogasi laki-laki di hadapannya.

 

“Denyut nadimu berdetak sangat cepat sekali, mungkin saja kau baru dikejar anjing,” Heojun menjawab santai sambil terkekeh.

 

Shit! Bahkan aku baru sadar jika sedari tadi ia menggenggam tanganku erat!

 

“Ti-tidak. Aku tidak dikejar anjing. A-aku tidak apa-apa. Sungguh!” jawab gadis itu terbata.

 

Heojun melepaskan tautan tangannya, lalu meraih puncak kepala Minsoo dan mengacaknya pelan sambil terkekeh. “Hahaha, iya aku tahu. Aku hanya bercanda,”

 

Sialan! Pergi jauh-jauh kau, Heojun!

 

Minsoo menghembuskan napas panjang menciptakan kepulan asap dingin. Kedua tangannya mencari kehangatan pada saku jaketnya, sembari menahan tubuhnya yang perlahan menggigil.

 

“Kau tidak pulang, Heojun-a?”

 

“Tidak,” ujar Heojun melangkah berhadapan dengan Minsoo. Tangannya melingkarkan coatnya pada tubuh gadis itu dan mengaitkan kancingnya.

 

“P-pulanglah. Aku bisa menunggu ibuku sendirian,” ujar Minsoo disusul suara gemeltuk giginya yang kembali tercipta.

 

Heojun menggosok-gosokkan telapak tangannya, lalu dengan perlahan menempelkannya pada kedua pipi Minsoo.

 

Kurang ajar kau bocah tengil!

 

“Jangan khawatir, aku akan menemanimu sampai ibumu pulang,”

.

.

.

.

fin!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s